Kejati Incar Jen Tang – Ambon Ekspres
Rekam

Kejati Incar Jen Tang

Ada Dugaan Gratifikasi  Pejabat di Reklamasi Buloa

MAKASSAR, BKM–Pengusaha Makassar Soedirjo Aliman alias Jen Tang tak urung dirundung masalah. Setelah terbelit kasus pidana, bos PT Jujur Jaya Sakti tersebut kini dalam incaran penyidik Bagian Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Sulsel.
Reklamasi ilegal terhadap 11,6 hektare Hutan Mangrove di Pantai Buloa, Kelurahan Buloa Kecamatan Tallo diduga ikut melibatkan Jen Tang.
Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Sulsel Rahman Morra Minggu (1/2), tidak menampik kalau pihaknya tengah menelusuri peran Jen Tang di reklamasi Buloa. Menurut Rahman, selain mensasar peran pengusaha, tim penyidik juga tengah mengendus
keterlibatan oknum pejabat yang diduga menerima gratifikasi dalam pemberian izin reklamasi pantai.
”Tidak mungkin orang berani melakukan penimbunan tanpa ada izin. Nah, oknum pejabat yang memberi izin inilah yang sedang kami dalami perannya. Apa dasar mereka memberi izin untuk menimbun laut,” tegas Rahman.
Rahman menegaskan, jika hasil penyelidikan menguak dugaan suap menyuap dalam pemberian izin reklamasi itu, maka pihaknya akan menyeret semua pejabat yang terlibat di hadapan hukum.
“Kami sudah memiliki data awal terkait kasus ini. Tentunya, tim penyelidik akan terus menelusuri serta mendalami  peran oknum pejabat yang ‘bermain’ dalam reklamasi Pantai Buloa,” tukasnya.
Terpisah, Staf Pekerja Anti Coruption Committee (ACC) Sulawesi, Wiwin Suwandi mengatakan, apa yang dilakukan tim penyelidik Kejati Sulsel sudah tepat.
”Untuk menguak kasus ini tidaklah sulit. Tim jaksa harus memeriksa pejabat yang mengeluarkan izin penimbulan. Logikanya, tidak mungkin pengusaha berani melakukan penimbunan tanpa mengantongi izin,” tegas Wiwin.
Wiwin mengatakan, meski Pemerintah Kota Makassar telah mengelurkan izin, namun izin itu tidak serta merta sah jika tidak ada izin yang dikeluarkan Kementrian Kelautan dan Sumber Daya Alam.
“Kalau hanya izin prinsip, itu jelas reklamasi ilegal, karena tidak ada izin dari Kementrian Kelautan,” ungkapnya.
Wiwin menimpali, reklamasi ilegal ini telah membawa dampak buruk terhadap lingkungan serta ekosistem biota laut di Buloa. Maka dari itu, dia mendesak agar orang-orang yang melakukan pelanggaran di reklamasi tersebut dijerat aturan kejahatan lingkungan.
Diketahui, lahan  magrove 11, 76 hektar di Buloa dulu dikenal dengan nama Lompo Kara’ ba, Lompo  Kalumang dan Lompo Turungang. Namun bentang laut di wilayah ini mulai berubah semenjak dilakukan penimbulan, tiga tahun silam.
Awalnya lahan di daerah tersebut terbagi empat petak dan diklaim oleh empat orang berbeda yang dikenal warga sekitar sebagai saudagar  pembeli garam. Keempat saudagar itu adalah Syamsuddin Muhadir, Rustam Muhadir, Herawati dan Syuhada.
Setelah muncul klaim lahan dari empat penambak, aktivitas masyarakat mulai terganggu. Belakangan keempat saudagar ini menjual lahan mereka kepada dua pengusaha besar di Makassar yang salah satunya adalah Jen Tang. (mat/cha/b)

Most Popular

To Top