Titik Terang Di Ujung Republik – Ambon Ekspres
Ragam

Titik Terang Di Ujung Republik

Sebanyak 47 pulau perbatasan dan terluar dalam wilayah teritorial NKRI bakal dilistriki oleh PT. PLN (Persero) tahun 2015. Ditargetkan pada 17 Agustus 2015 bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-70 tahun, keempat puluh tujuh pulau di ujung republik itu seluruhnya diterangi aliran listrik.

Oleh: Rizal F. Sangadji
Kandidat Magister Bidang Manajemen Sumber Daya Kelautan dan Pulau-Pulau Kecil Universitas Pattimura.

Ini merupakan pembangunan pembangkit listrik dari proyek 35.000 megawatt kerjasama antara pemerintah dan swasta. Anggaran yang disiapkan untuk realisasi mega proyek tersebut sebesar Rp. 1,2 trilyun.
Melistriki pulau perbatasan dan terluar adalah salah satu dari beberapa strategi pemerintahan Jokowi hendak mengembalikan kejayaan  Indonesia di sektor maritim. Pulau perbatasan dan terluar merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari konsep raksasa maritim itu.
Tentu, terobosan dari pihak PT. PLN (Persero) ini patut disambut secara gembira oleh semua pihak, setidaknya karena beberapa hal: pertama, melistriki pulau terluar perlu dianggap sebagai upaya pemerintah untuk memberikan jawaban konkret kepada publik atas minimnya sentuhan pembangunan bagi pulau perbatasan dan terluar serta masyarakat yang bermukim disana.
Harus diakui, sejauh ini perhatian pemerintah untuk mengurusi pulau perbatasan dan terluar sangat minim. Akibatnya, kondisinya sangat memprihatinkan. Selain terisolir, sulitnya akses transportasi, infrastruktur buruk, jauh dari itu pulau perbatasan dan terluar sangat rentan terhadap konflik dan ancaman penentrasi sosial budaya, pertahanan dan keamanan.
Tragedi lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke pangkauan Malaysia benar-benar jadi bukti bahwa pemerintah saat itu tidak serius dalam mengelola dan mengurus. Kita tentu tidak ingin tragedi serupa terulang kembali.
Sudah saatnya pemerintah memberikan perlakuan istimewa terhadap pulau perbatasan dan terluar. Menganggap keberadaan pulau perbatasan dan terluar sebagai beranda belakang merupakan kekeliruan terbesar.
Kedua, secara geopolitik dan geostrategi, keberadaan pulau terluar merupakan titik dasar penentuan batas negara dan benteng paling pertama pertahanan negara. Indonesia memiliki Sembilan puluh dua pulau kecil yang menjadi titik dasar penentuan batas negara dengan sepuluh negara tetangga.
Di Maluku sendiri, setidaknya terdapat delapan belas pulau terluar yang memiliki titik dasar penentuan batas negara dengan dua negara tetangga, yakni: Timor Leste dan Australia.
Pulau perbatasan dan terluar tidak hanya secara strategis bermakna secara ekonomi, tetapi juga politis. Pendekatan militerisme dirasakan tidak cukup efektif, perlu pendekatan lain agar keberadaannya tidak dicaplok oleh negara lain dan spirit nasionalisme masyarakat tidak tergerus arus globalisasi.
Karena itu, menghadirkan pembangunan pembangkit listrik di pulau perbatasan dan terluar sudah merupakan langkah tepat. Pendekatan pembangunan ini saya kira paling efektif, paling pas, bukan hanya akan membuka jalan agar kehidupan masyarakat di pulau perbatasan dan terluar perlahan sedikit lebih baik. Melainkan kedaulatan negara kita di pulau-pulau itu akan semakin dijaga dan dipertahankan.
Bagaimana dengan Maluku ?
General Manager PT. PLN (Persero) Wilayah Maluku dan Maluku Utara, M. Ikhsan Asaad, dalam satu kesempatan mengatakan, dari empat puluh tujuh pulau terluar yang akan dilistriki, sebanyak sepuluh pulau terluar akan ditangani PT. PLN (Persero) Wilayah Maluku dan Maluku Utara. Dengan presentasi: satu pulau di Maluku Utara, sisanya sembilan pulau di Maluku.
Kesembilan pulau perbatasan dan terluar di Maluku itu mencakup: Pulau Kisar, Pulau Yamdena, Pulau Wetar, Pulau Tanimbar, Pulau Leti, Pulau Babar, Pulau Trangan, Pulau Selaru dan Pulau Moa.
Namun, upaya ini membutuhkan dukungan semua pihak: pemerintah dan masyarakat setempat. Begitupun TNI-Polri. Tidak hanya tanggung jawab PLN sendiri. Kenapa ini penting ? Secara geografis, medan pulau perbatasan dan terluar di Maluku sangat ekstrim. Gugusan pulau perbatasan dan terluar yang terpisah jauh satu dengan yang lain serta kondisi alam di darat, memungkinkan pihak PLN akan kesulitan dalam membangun pembangkit. Karenanya, keterlibatan semua pihak untuk membantu pihak PLN membangun pembangkit listrik secara tidak langsung telah menunjukkan kepedulian untuk memperbaiki wajah pulau perbatasan dan pulau terluar.
Kita berharap, kehadiran pembangunan pembangkit listrik di sembilan pulau perbatasan dan terluar Maluku bukan akhir dari sentuhan pembangunan yang diberikan oleh pemerintah. Masyarakat di pulau perbatasan dan terluar tidak hanya membutuhkan listrik, tapi juga sarana dan prasarana transportasi, jaringan telekomonukasi, infrastruktur dan masih banyak kebutuhan elementer lain.
Namun, semoga dengan listrik, jadi titik terang gairah kreativitas masyarakat di pulau perbatasan dan terluar tumbuh berkembang. Dengan listrik, kemiskinan pelan-pelan bisa ditekan. Denyut ekonomi masyarakat terus bergerak. Dengan listrik, dunia informasi dapat segera diketahui. Dengan listrik, anak-anak bisa lebih mudah belajar. Belajar untuk meraih cita-cita. Belajar mengejar mimpi. Masa depan. Dan belajar dengan intim mengenali tanah airnya: Indonesia tercinta.
(*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!