GBU Merusak Hutan – Ambon Ekspres
Trending

GBU Merusak Hutan

AMBON,AE— Aktivitas PT Gemala Borneo Utama di Pulau Romang, Kabupaten Maluku Barat Daya, dituding merusak hutan. Perusahaan tambang itu tidak peduli kelestarian hutan di areal penambangan. Mahasiswa asal Romang terpaksa kini menggalang warga menanam kembali pohon  di areal pertambangan.

Aksi dilakukan, setelah demo mereka untuk menghentikan aktivitas PT GBU di Pulau Romang tidak ditanggapi pemerintah kabupaten dan provinsi. ”Mahasiswa kini berada di Romang. kehadiran mereka untuk menggalang warga untuk menanam kembali pohon akibat kerusakan hutan. Selama ini kami protes tapi tidak ada tanggapan. Ini aksi simpatik menyelamatkan hutan kami,”kata Ketua Mahasiswa Romang, Izak Knyarlai kepada Ambon Ekspres kemarin.

Dampak penambangan, mulai berimplikasi terhadap hasil hutan di daerah itu. Dia mengaku, bunga Pala hutan yang biasanya dijual Rp 25 ribu per kilo gram, saat ini harganya sudah turun Rp 15 ribu.”Ini karena kualitas bunga pala menurun karena aktivitas penambangan. Padahal, sebelum ada perusahaan tambang kualitas bunga Pala sangat tinggi,”terangnya.

Tokoh masyarakat MBD, Orlando Petruz mengapresiasi keinginan sejumlah pihak termasuk angota DPRD Maluku, agar ijin tambang PT GBU dievaluasi hingga dicabut. ”Sangat setuju kalau ijin dicabut. Itu  tuntutan kami sejak dulu,” kata Petruz kepada Ambon Ekspres, Sabtu (14/2).

Dia mengaku, pengambilan sampel dalam jumlah besar patut dicurigai. Apalagi, sebut dia, aktivitas PT GBU  mengambil sampel dari 2008 hingga sekarang tidak dibenarkan. ”Coba bayangkan pengiriman sampel kini berjalan 9 tahun. Sudah berapa ton sampel dikirim. Saya kira keberadaan perusahaan tambang ini harus dievaluasi,”kesalnya.

PT GBU tercatat telah mengirim sampel material emas sejak 2008 lalu. Tak hanya sekali kirim, perusahaan itu sering mengirim sampel dengan menggunakan angkutan udara dan angkutan laut.

Selain mengirim sampel dalam jumlah banyak lewat pelabuhan Ambon dan bandara udara Pattimura, proses pengiriman juga dari Kisar ke Kupang NTT.

Proses pengiriman juga sering tersangkut hukum. Akibatnya, material emas yang dikirim dengan modus pengujian sampel sering ditahan aparat. Hanya saja, proses hukumnya tidak pernah ditindaklanjuti hingga ke pengadilan. ”Diperkirakan ratusan ton hingga ribuan ton material emas telah diangkut dari Romang ke Jakarta dengan dalil uji sampel,” kata sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh pemuda MBD di berbagai kesempatan. (JOS)

Most Popular

To Top