Legenda Bebek Wer Len – Ambon Ekspres
Pendidikan

Legenda Bebek Wer Len

 (Cerita Rakyat Pulau Kur Kota Tual)

Pada masa lampau, di sebelah timur Pulau Kur terdapat sebuah perkampungan yang dihuni oleh berbagai lapisan masyarakat yang terdiri dari tiga strata sosial yang mereka identifikasi dengan sebutan almela, abkaba dan atyata. Yang pertama adalah golongan bangsawan yang menduduki posisi sebagai raja atau pimpinan dan pembesar kampung, kemudian yang kedua terdiri dari kelompok menengah yang banyak diantaranya menduduki posisi sebagai kapitan dan pengawal raja atau pimpinan kampung.

Sedangan yang ketiga adalah golongan pekerja kasar atau pesuruh yang siap menjalankan titah raja.
Tiga golongan ini diikat oleh sebuah aturan atau hukum yang dibuat sejak pertama kali perkampungan tersebut berdiri. Peraturan itu antara lain berisi sumpah dan janji setia untuk saling menjaga posisi dan kelas masing-masing demi kelangsungan anak keturunan di masa yang akan datang, termasuk janji dan sumpah setia untuk tida menikah dengan pasangan dari kelas dan strata berbeda. Apabila ada yang melanggar perjanjian dan sumpah leluhur pendahulu itu maka mereka akan terkena kutukan dari arwah nenek moyang yang telah kembali ke alam keheningan yang mereka sebut alam niit mayaat.

Konon, penduduk sangat takut terkena murka leluhur itu, maka dari generasi ke generasi tidak ada yang berani untuk melompat pagar aturan tersebut. Sampai akhirnya datang juga awal bencana itu, dipicu oleh ulah dua sejoli yang sedang dimabuk asmara. Laki-kali berasal dari strata Atyata, dan wanita dari strata almela dan tidak lain adalah putri dari Sang Raja sendiri.

Hubungan gelap dua insan beda jenis itu terus berlanjut, dan tidak ada satu orang pun yang mengetahui akan hal itu termasuk Raja dan Pengawal-pengawalnya. Mereka bertemu secara diam-diam di pantai dan memadu asmara tanpa diketahui oleh siapa pun. Lama kelamaan hubungan asmara itu menanjak ke hubungan yang lebih intim lagi dan putri raja pun menuai akibatnya. Ia hamil diluar nikah dengan pemuda yang dalam aturan dan hukum kampung haram dinikahinya itu.

Bagai disambar petir di siang bolong sang Raja begitu kaget dengan informasi kehamilan putrinya. Rasa malu melucuti semua harga dirinya sebagai raja, ia tidak tahan dengan rasa marah yang meledak-ledak dalam dadanya, maka dengan tanpa menunggu lagi ia langsung mencabut parang (pedang) dan menghela tombak lalu keluar dari rumahnya mencari laki-laki yang dianggapnya telah berbuat sial dengan sang putri.

Karena ketakutan, si laki-laki nakal itu berlarian dan berembunyi di celah-celah pohon bambu yang tumbuh rimbun di setiap sudut-sudut rumah dalam kampung itu. Raja memberi titah kepada Kapitan dan pengawalnya dari strata abkaba untuk membantu menangkap pemuda itu. Namun tidak juga mereka menemukannya. Pencarian itu berlangsung dari pagi hingga terbenamnya matahari, tapi tidak membuahkan hasil. Raja yang sedang marah itu tidak puas, dan terus memompa kapitan dan pengawal untuk terus mencari sampai ketemu. Semua rumah digeledah, celah-celah pohon bambu pun tidak ketinggalan ikut diperiksa secara teliti, sayangnya hingga tengah malam tidak tercium juga bau pemuda itu. Akhirnya mereka pun menyerah kepada raja dan meminta kebijaksanaannya untuk dilanjutkan pencarian pada keesokan harinya.

Raja yang sedang dibakar api kemarahan itu akhirnya mengangkat sumpah, ia memanggil roh para leluhurnya sambil menyebut-nyebut pelanggaran asusila yang dilakukan oleh dua muda-mudi dari strata yang berbeda itu. Ia mengundang kutukan itu sebaiknya ditimpakan segera kepada kampung itu karena mereka telah gagal menjaga warisan sumpah setia antar strata tersebut. Maka ketika aroma fajar mulai tercium sebagai pertanda awal pagi telah tiba, kampung itu pun bergetar hebat seperti mengalami gempa berkekuatan tinggi.

Orang-orang pun panik dan berhamburan dari rumah masing-masing hendak menyelamatkan diri. Sayangnya, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih tiba-tiba saja kampung itu terbelah dua dan orang-orang beserta rumah mereka berjatuhan ke dalam jurang tanah yang semakin menganga.

Tidak ada yang selamat semuanya terbenam dalam tanah yang terbelah itu, dan akhirnya air pun mulai muncul dari dasar hingga menggenangi seluruh permukaan membentuk sebuah danau yang disebut Wer Leen. Para penduduk yang terdiri dari tiga kelompok itu pun secara ajaib berubah menjadi bebek dengan perbedaan warna yang mencolok, bebek putih adalah para bangsawan, sedangkan bebek belang-belang adalah kelompok abkaba dan bebek hitam sendiri adalah kelompok atyata.

Hingga sekarang, Danau ini masih menyimpan kenangan bebek unik ini dengan tingkat daya pikat yang sangat luar biasa tidak seperti bebek-bebek di tempat lain. Mereka akan menyelam selama berhari-hari dalam dasar danau dan akan muncul sewaktu-waktu kepermukaan disaat suasana sedang sepi dan sunyi. Amat sulit buat dilihat orang-orang akan bebek-bebek ajaib ini. Untuk bisa melihatnya, kita harus bersembunyi pada saat yang tepat. Hingga kini keberadaan Bebak Wer Leen dan legendanya masih menjadi misteri yang tetap tersembunyi bersama bebek-bebeknya yang tidak mungkin diungkap.

Banyak orang yang penasaran semakin penasaran setelah melihat Danau ini. Lebih penasaran lagi jika melihat langsung bebek tiga warna khas ini. (**)

Most Popular

To Top