“Tidak Murah Menjadi Pintar” – Ambon Ekspres
Pendidikan

“Tidak Murah Menjadi Pintar”

Sebuah Ironi Dalam Misi Memajukan Pendidikan di Maluku

Komitmen pemerintah pusat maupun daerah untuk memajukan pendidikan berbasis kurikulum duaribu tigabelas tidak semudah yang dibayangkan. Selain terjadinya beberapa perubahan dalam cara pengajaran, metode penilaian terhadap prestasi siswa juga terkendala pengadaan buku buku penunjang yang digunakan.

Dua bulan yang lalu kami pindah dari ibukota  Jawa Barat mendampingi suami yang berdinas di sebuah Intitusi pemerintah ke kota Ambon. Menjadi kewajiban kami mencari sekolah terbaik untuk  anak-anak. Sebelum kami mendarat di Ambon kami telah banyak mencari info tentang sekolah untuk anak anak kami yang kebetulan masih menjadi siswa sekolah dasar.

Anak-anak kami pun pernah mengecap pendidikan di ibukota negara ini dan beberapa kota lainya. Selalu menjadi prioritas utama untuk mencari sekolah terbaik meski dengan biaya yang sangat mahal. Kami sempat ragu ketika mendaftarkan anak-anak kami bersekolah di sebuah SD swasta di kota ini, karena bukan kebetulan prestasi akademik anak-anak kami sungguh luar biasa.

Terhenyak kami dengan realita yang kami temui di sekolah tempat anak-anak menaruh harapan untuk masa depannya, meski kami selalu mendiskripsikan karakter masyarakat yang akan kami temui ditempat kami bertugas agar anak-anak kami siap menghadapi segala karakter hal tersebut belum cukup membuat kami tenang, realita yang kami hadapi sempat mendownkan mental anak-anak, guru yang selama ini oleh anak-anak kami dijadikan kamus besar yang harus bisa menjawab seluruh pertanyaan kritis mereka tidak mereka jumpai disini, guru yang mereka harapkan membanjiri mereka dengan kasih sayang dan didikan tidak mereka temukan juga disekolah tersebut.

Dengan rotan guru-guru disekolah tersebut mengajar, memukul kawan mereka dengan keras, tak peduli seberapa besar atau kecil kesalahan yang diperbuat sekalipun bukan anak kami yang dipukul tapi anak kami menyaksikan kekerasan fisik dan psykis hampir setiap hari. Saya meyakini di manapun, dalam kebudayaan apapun tidak ada alasan yang membenarkan seorang guru mendidik dengan kekerasan.

Jelas itu melanggar hak asasi manusia, saya mengalami perpindahan kota demi kota  pulau demi pulau saya menghawatirkan ini akan menjadi bumerang bagi para guru.

Kami didik anak anak kami dengan kepercayaan, kelembutan dan akhlak terpuji, terbukti dalam usia golden ages anak-anak kami dan tentunya anak-anak lain dikota besar lainnya pun dididik dengan cara yang sama dengan kami, hasilnya anak-anak tersebut mampu membaca, menulis, berhitung, menghargai teman, bersimpati, menghormati guru dan orang tua sejak dini. Bukankah itu yang menjadi tujuan pendidikan di negeri ini?

Belum terlambat, saya berharap dinas pendidikan mau menerjunkan tenaga ahli psikolog untuk membangun karakter bagi tenaga pengajar agar guru-guru yang didapati oleh anak-anak saya dan anak-anak lainnya tidak bisa dijumpai lagi disekolah manapun di Maluku demi kemajuan pendidikan di Maluku, saya optimis guru harus mau menerima saran dan kritik. Maluku yang indah ini bisa maju melebihi daerah lainnya karena potensi generasi penerus bangsa di Maluku luar biasa, semangat tinggi, cinta olahraga, kreatif, dan cinta seni.

Luar biasaa, beberapa tahun mendatang Maluku saya yakin akan menyedot perhatian daerah lain dengan prestasi yang menakjubkan. Didasari dari pendidikan sebagai mother of karakter building. Saya menemukan dilema  yang tidak sesuai dengan komitmen pemerintah dalam hal melaksanakan pendidikan yang berslogan “tidak mahal untuk menjadi pintar“, sayang sekali kenyataan tidak demikian, saya  tidak mengerti apakah ini terjadi hanya disekolah tempat anak-anak kami menuntut ilmu atau juga terjadi disekolah lain. Kami harus membeli buku tematik yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat yang dihalaman pertama tercantum warning BUKU INI TIDAK BOLEH DIPERJUAL BELIKAN.

Lagi-lagi kami tidak mendapat  penjelasan tentang hal ini dari guru dan kepala sekolah. Tentu ini illegal dan tidak boleh terjadi di sekolah manapun di negeri ini. Kami sudah mencoba mengkomunikasikan dengan pihak guru. Sekalipun keluhan kami didengar dengan baik, pada kenyataannya praktek memukul dan membeli buku tematik masih terjadi. Mari, sebagai masyarakat umum, orangtua, dan akademisi kita  saling membangun pondasi generasi penerus bangsa yang  produktif  berdaya juang tinggi, cinta bangsa dan negara. Ijinkan anak-anak Maluku menghormati guru mereka karena ketauladanan akhlak, ilmu, prestasi dan intelektual yang mereka temukan pada sosok guru mereka yang seharusnya bisa menjadi role models bagi mereka, menjadi guru yang digugu dan ditiru oleh putra putri kebanggaan bangsa.

Semoga guru sebagai gudang ilmu mau memperkaya diri mereka dengan rajin membaca buku-buku sumber pelajaran, dan meng up date ilmu sehingga guru bisa menguasai materi yang akan diajarkan.

Semoga artikel ini dapat diterima dengan baik dan bermanfaat demi kemajuan pendidikan di Maluku yang kita cintai. Kami sangat mengapresiasi segala upaya guru yang telah dilakukan untuk putra putri kami selama ini semoga penghargaan terhadap guru oleh pemerintah sepadan dengan perjuangan para guru, sehingga dengan kesejahteraan yang tinggi para guru bisa mengoptimalkan sumber daya mereka untuk mendidik, mengajar dengan penuh kasih sayang sehingga tercipta generasi Maluku yang saling menghormati dan bersatu demi kemajuan Maluku. (**)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!