Mencegah Opsi Terakhir – Ambon Ekspres
Trending

Mencegah Opsi Terakhir

Soal Calon Ketua PDIP Maluku

AMBON, AE— Perubahan format usulan bakal calon Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Maluku dari 9 orang menjadi 19 orang, diperkirakan merupakan strategi politik DPP. Memilih figur non kader untuk jadi pemimpin, bisa jadi opsi terakhir penyelamatan partai jika aturan main dilanggar para kontestan dan menimbulkan friksi.

Pengamat politik Universitas Pattimura Ambon, M Jen Latuconsina menilai, kemungkinan peralihan pucuk pimpinan PDIP Maluku kepada figur di luar partai bisa saja terjadi. Dia mencontohkan kepemimpinan PDIP Maluku oleh Karel Albert Ralahalu, yang awalnya bukan kader banteng kekar Maluku. “Saya kira memilih non kader opsi terakhir ketika calon-calon yang bertarung tidak memenuhi aturan partai,” ujar Latuconsina kepada Ambon Ekspres via seluler, Selasa (17/2).

Latuconsina menilai, dalam perhelatan politik apapun, termasuk pemilihan pimpinan partai, pasti saling menjegal. Itu semua kata dia, merupakan bagian dari strategi dan dinamika untuk mendapatkan kursi ketua partai.  “Yang jelas setiap perhelatan politik itu syarat kepentingan, siapa menjegal siapa? Lalu siapa yang maju ini semua bagian dari strategi pemenangan calon Ketua DPD PDIP Maluku,” ungkap Latuconsina.

Dalam konteks ini, lanjut Latuconsina, DPP PDIP mempunyai kepentingan untuk mengintervensi kebijakan yang telah dibuat atau diambil oleh DPD. Kata dia, pembatalan 9 nama dan pengusulan 19 nama bukan karena DPP menilai adanya konflik di internal PDIP Maluku.

“DPP PDIP tentu punya kepentingan secara organisatoris untuk kemudian mengakomodir 19 nama dari 9 yang diusulkan sesuai dengan kepentingan DPP PDIP. Kita tahu bahwa di level pengurus wilayah PDIP Maluku belum otonom. Tapi yang ada yakni sentralisasi partai. Jadi apa yang telah diputuskan atau ditetapkan DPD PDIP Maluku, bisa ditinjau kembali,” kata kandidat doktor ini.

Apakah kepentingan itu menandakan DPP masih menginginkan Karel Albert Ralahlu untuk memimpin PDIP Maluku lima tahun kedepan lagi, dia menilai, masih sangat jauh untuk bisa disimpulkan. Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, sulit menentukan siapa mahkota partai di Maluku.

”Terlalu dini untuk kita menyimpulkan demikian. Karena kita tahu bahwa DPP PDIP tidak menjadikan Ralahalu sebagai putra mahkota. Kita tahu juga bahwa Bitzael Silvester Temmar sangat dekat DPP PDIP dalam hal ini Megawati Soekarnoputri. Namun juga tidak dijadikan putra mahkota untuk memimpin PDIP Maluku pasca kepemimpinan Ralahalu,” katanya.

Pengamat politik Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), Coash Sahanaya mengatakan, dalam dunia politik semua kemungkinan bisa terjadi. Apalagi garis komando partai masih bersifat sentralistik seperti PDIP.  “Berbicara politik tidak ada kata kepastian. Kekuasaan dalam dunia politik itu abstrak, Walaupun DPD PDIP Maluku sudah sepakat mengusulkan nama-nama, namun DPP punya hak,” kata Sahanaya, kemarin.

Disinggung apakah ada keinginan DPP memilih figur non partai untuk memimpin PDIP Maluku, menurut dia, sangat tergantung dari dinamika yang akan terjadi saat fit and proper test.
“Bisa ya bisa tidak. Supaya masyarakat bisa tahu bahwa DPP punya hak. Tapi yang jelas 9 nama yang diusulkan itu pasti ada yang terpilih,” katanya.

Sementara itu pengamat politik Universitas Darusaalam Ambon, Ali Roho Talaohu, mengatakan usulan tambahan bakal calon Ketua DPD PDIP merukan bagian dari manuver untuk mengamankan calon tertentu. Sebab kata Talaouhu, hanya ada kubu di internal PDIP Maluku yang punya peluang memenangkan Konferensi daerah.  “Kekuatan pertarungan sebenarnya hanya ada di kubu, kubu Karel dan basis generasi mudanya seperti Edwin Huwae dan  kubu Lucky Wattimuri merupakan generasi tua di PDIP,” katanya.

Soal kemungkinan penetapan ketua DPD PDIP Maluku yang bukan kader, dia menilai, sangat kecil peluangnya. ”Peluang itu kecil sekali. Kecuali figur yang dari luar partai itu punya jabatan politik strategis,” papar master ilmu politik Universitas Padjajaran, Bandung dan aktivis sosial ini.(TAB)

Most Popular

To Top