Profesional Guru, Peran Mulia – Ambon Ekspres
Teknologi

Profesional Guru, Peran Mulia

Oleh: M. Nur Matdoan, Staf Pengajar FKIP Unpatti Ambon

Pembahasan tentang permasalahan guru dari masa ke masa seakan tidak habis-habisnya. Berbagai topik yang mengemuka,  dari yang sederhana sampai pelik dan dari yang khusus sampai dengan umum. Seperti prilaku dan kesiapan guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), kompetensi guru yang tidak memadai, tidak meratanya sebaran dan distribusi guru pada setiap satuan pendidikan (sekolah), kesejahteraan guru pada daerah terpencil, sarana dan prasana pendidikan yang tidak memadai, semuanya berimplikasi terhadap rendahnya mutu serta kualitas guru dan peserta didik.

Bila kita melihat lebih jauh ke arah sub-sistem pendidikan yang satu ini, selalu menjadi kendala sekaligus menjadi penentu berhasil tidaknya pendidikan. Simbol atau kata “guru” selalu muncul ke permukaan yang menjadi topik diskusi, workshop, pelatihan, seminar dan pertemuan lainnya yang selalu aktual di bahas lantaran permasalahan yang dihadapi tenaga edukatif itu tidak pernah selesai. Guru diakui atau tidak, akan selalu menjadi unsur penting yang menentukan berhasil tidaknya pendidikan.

Bahasan dalam tulisan ini terutama lebih difokuskan pada kata guru, meski pada judul di atas terdapat kata profesionalitas (untuk ini, hanya penulis akan menyinggung dan mengulas sekedarnya saja termasuk peran guru dan defesiensi profesionalitas sebagai pelengkap). Penulis juga tidak akan  mengorek-ngorek tentang asal mula dan kapan penggunaan kata ini (“guru”), hanya dalam tulisan ini secara awam dan populer kata guru untuk sementara dianggap penggunaanya seakan tak terbatas oleh waktu.

Oleh karena itu sengaja saya kemukakan kehadapan para pembaca yang budiman, sebagai bahan renungan. Sebab kata ini (guru) terdiri dari hanya empat huruf, tetapi jika dikaji dan diulas  maka punya makna sangat luas dan dalam. Kata ini (guru), bila disandingkan atau ditambahkan dengan satu kata lain dibelakangnya (menjadi satu kalimat pendek) yang akan memiliki makna berbeda-beda, untuk menunjukkan tingkat keahlian dan kemampuan akademis serta profesionalitas bagi “siapa” atau orang (subyek)  yang menggunakan.

Ada penyebutan “guru” berdasarkan prototipe guru di sekolah, antara lain;  guru muda atau guru pemula, guru senior, guru ahli, sampai dengan “maha guru/guru besar”, dan mungkin saja masih ada kata lain lagi yang dapat diletakkan dibelakang kata “guru” yang berkonotasi minus dan pesimistis, seperti; guru malas, guru pudar, guru tua, guru tidak demokratis, guru suka menentang, guru galak, guru sombong, guru urakan, guru asal-asalan, guru sok tau (Barizi, A dan Idris, M., 2010).

Sebaliknya ada istilah berkonotasi positif atau optimistis, guru kreatif, guru inovatif, guru aktif, guru menyenangkan, guru motivator, guru menggembirakan, guru berbobot, guru mediator. Semua ini mempunyai makna dan konotasi “filosofis” berbeda-beda dalam perolehan imbalan berupa penghargaan terhadap hasrat dan kebutuhan untuk maju (need for achievement) atau penghargaan terhadap yang berprestasi (termasuk penghargaan moril atau non-materi/immaterial), serta volume upah kerja yang dapat diperoleh. Hal tersebut berdasarkan nilai material berupa konversi faktor eksternal (external factor) kinerja sebagai suatu profesi mulia “pekerja ilmiah” (scientific worker), maka sudah tentu disesuaikan dengan tingkat keahlian dan profesionalitas “siapa” (orang) atau subyek (guru) yang menyandang istilah tersebut.

Secara historis jika dirunut makna kata ini (“guru”) muncul secara implisit bersamaan dengan umur alam (dunia) bahkan jika ditelusuri melalui kitab-kitab suci agama samawi, ceritera tentang fungsi dan peran “guru” (kata-kata bernilai seperti; contoh, teladan, pengajaran, pembelajaran, pendidikan, akhlak, moral, budi-pekerti dan lain-lain) muncul bersamaan dengan asal usul kejadian nenek moyang manusia pertama (Nabiullah Adam As dan Siti Hawa). Peristiwa pembangkangan Iblis terhadap perintah Tuhan (Allah) untuk bersujud kepada Nabi Adam As hingga akhirnya Tuhan (Allah) “Mengajarkan dan mendikte” Nabi Adam As, tentang isi dan perangkat serta instrumen surgawi dan alam semesta yang Maha canggih, dengan tingkat kesulitan yang sangat-sangat berbeda, yang berimplikasi terhadap kemampuan penguasaan ilmu oleh Nabiullah Adam As, karena dengan intervensi Yang Maha Aliim (Maha mengetahui) telah memperoleh ilmu dan pengetahuan (transfer of knowledge)  untuk membuat efek jera/kapok demi untuk menundukkan serta menghapus ketamakan, kepongahan dan kesombongan Iblis laknatullah untuk tersungkur di hadapan Nabiullah Adam As.

Begitupula atas izin Allah memberikan hikmah (ilmu-      ntis-secara instink) kepada sepasang “burung gagak” untuk mencakar tanah dan membuat lubang yakni “berperan menggurui” (sebagai pemberi contoh, pengajar, kreator, permodelan, innovator, motivator, mediator) dalam mengajarkan dua bersaudara, kakak-beradik (Qabil dan Habil) sebab perseteruan, tarik menarik kepentingan, keinginan rendahan/nafsu birahi, ketamakan dan keserakahan, yakni Qabil untuk menguburkan adiknya Habil yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa, dan begitulah gambaran nyata contoh dan model pembelajaran berharga dari Allah SWT agar supaya manusia mendapatkan pengetahuan dan pelajaran berharga.

Bahkan dalam riwayat para Nabi-nabi besar istilah peran “guru” muncul selalu bersamaan dengan peran para Nabi dan Rasul termasuk Nabiullah Isa As (“diajarkan” oleh Allah SWT dalam bentuk mu’jizat untuk dapat bercakap-cakap masih dalam perut ibu-Nabiullah Maryam), dan Rasulullah Muhammad Saw pada peristiwa permulaan menerima wahyu (Al-Qur’an) dari Allah SWT melalui perantaraan (Mediator ahli) Malaikat Jibril (Ruhul Kudus) dengan cara “menggurui” untuk membaca (Iqra = “bacalah”), hal ini merupakan proses permulaan mengajarkan atau membelajarkan, karena dengan membaca, maka aktivitas beberapa komponen inderawi manusia akan berfungsi (seperti, pendengaran, penglihatan, pengrabaan, penciuman, pengecapan), disertai dengan memanfaatkan kekuatan dan kemampuan verbal dan audio-visual (senada dengan ini, konsep; Ulu al-abshar/QS Ali Imran [3]: 12, yakni orang yang memiliki mata dan Ulu al-nuha/QS Thaha [20]: 54, 128, orang yang mau berpikir,  hal ini sebagaimana tuntutan aktual teori pembelajaran modern (mutakhir), sekaligus transformasi ilmu pengetahuan dengan pendekatan saintifik (scientific approach). Karena Rasulullah Muhammad Saw  berinteraksi dengan Malaikat Jibril As dalam domain/ranah dengan pisau analisis dan model evaluator serta pola pendekatan berpikir tingkat tinggi (high thinking) dalam menerima wahyu (Al-Qur’an) dengan resonansi gelombang bio-elektrik  secara nyata, yang antara ke-Duanya memiliki kekuatan dan penerimaan yang sama.

Sehingga pada peristiwa proses edukasi sebagaimana dikemukakan, konsepnya sama dengan  komunitas pencari ilmu (Ulu al-albab dan ulu al-‘ilm) yakni zikir dan fikir dalam masyarakat pembelajar (learner society). Ada dua hal fundamental yang bisa diidentifikasi sebagai Ul al- albab, yaitu zikir dan fikir. Ini bisa dijelaskan bahwa penyebutan zikir terlebih dahulu berarti ia lebih tinggi dari pada fikir, sebab zikir adalah kegiatan transendensi, mengarah kepada pemikiran yang dalam, yang lebih tinggi karena mengarah kepada hakikat, lebih mendekati kebenaran yang selalu akan diraih. Seringkali terdapat interpretasi bahwa pikiran itu harus diimbangi dengan zikir, karena setelah pikir tidak bisa bicara akan kebenaran, maka panggilan iman (dzikir) mesti tampil kearah kebenaran sesungguhnya.(Barizi, A. 2010:63).

Sehingga bila kita menarik benang merah antara fungsi dan peran guru (sebagai subyek) hampir identik dengan fungsi dan peran kenabian dan kerasulan, yang intinya menyampaikan ilmu pengetahuan dan menyebarkan kebaikan untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia di dunia bahkan sampai akhirat. Hal ini patut kita simak sebagai pesan bermakna dalam menjalani profesi sebagai guru sejati.
Oleh Al-Ghazali, seorang ulama besar dalam bidang sufi (hidup pada abad 11 M), beliau banyak  mengulas masalah keguruan, menempatkan guru sebagai; “Barang siapa yang berilmu dan mengamalkan ilmunya itu, maka dia adalah orang yang paling mulia di seantero dunia. Dia laksana matahari yang menerangi orang lain, disamping dirinya memang pelita yang cemerlang. Dia laksana minyak kasturi yang mengharumi orang lain, dan barang siapa yang bersibuk diri dengan mengajarkan ilmu (maksudnya, guru) maka sungguh dia telah mengikatkan suatu ikatan yang mulia dan bermakna. Maka, hormatilah profesinya (maksudnya orang yang menjadi guru).”
Pengertian
Pemahaman sehari-hari adalah bahwa guru merupakan orang yang harus ditiru, dalam arti orang memiliki kharisma atau wibawa hingga perlu untuk ditiru dan diteladani. Hazkew dan Lendon menyebutkan, “Teacher is professional person who conducts classes.” Artinya guru adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dalam menata dan mengelola kelas. Menurut Grambs dan Morris, “Teacher are those persons who conciously direct the experiences and behavior of an individual so that education takes places.” Artinya guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seseorang individu hingga dapat terjadi pendidikan. Guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan (Uno, 2007).

Selanjutnya secara sederhana kata guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat tertentu, tidak mesti lembaga pendidikan formal, tetapi juga bisa di masjid, surau atau mushola, di rumah, dan sebagainya (Syaiful B. D., 1997). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), (2005), guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Menurut Suparlan (2008), guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya, dan bahwa secara legal formal, seseorang yang memperoleh surat keputusan (SK) baik dari pemerintah maupun pihak swasta untuk mengajar. Imran (2010), menyebutkan guru adalah jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus dalam tugas utamanya seperti mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah.

Untuk berprofesi sebagai seorang guru perlu adanya kekuatan pengakuan formal melalui tiga tahap, yakni; sertifikasi, regristrasi dan lisensi. Sertifikasi adalah pemberian sertifikat yang menunjukkan kewenangan seseorang anggota seperti ijasah tertentu. Menteri Pendidikan akan mengeluarkan peraturan menteri nomor 18 tahun 2007 yang berisi kebijakan mengenai sertifikasi guru. Berdasarkan peraturan tersebut, sertifikasi dilaksanakan dalam bentuk penilaian portofolio yaitu pengakuan atas pengalaman professional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan: kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatiahan, pengalaman mengajar, perencanan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengenbangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, penglaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan. Regritasi mengacu kepada suatu pengaturan di mana anggota diharuskan terdaftar namanya pada suatu badan atau lembaga. Lisensi adalah suatu pengaturan yang menetapkan seseorang memperoleh izin dari yang berwajib untuk menjalankan pekerjaanya.

Sampai saat ini telah banyak terjadi defesiensi (penyimpangan) profesionalitas guru. Untuk masalah ini berbagai contoh dapat diketengahkan, mulai dari produk guru yang belum “ matang”, hasil dari proses pendidikan keguruan (lembaga PT) asal “jadi”, atau melewati teori-teori program pendidikan yang ready stock yang sangat sulit mencapai hasil optimal.  Kalau mau jujur, tidak sedikit tenaga guru yang mengajar bukan bidang studi (pada vaks-nya, atau tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang diterima di bangku kuliah) ini akibat dari sebaran dan penempatan guru tidak berdasarkan analisis kebutuhan, dan kebijakan asal-asalan dari pengambil kebijakan (Dinas Dikpora Kabupaten/Kota). Masih banyak lagi contoh dan fenomena defesiensi profesionalitas guru yang terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Hal ini selalu menjadi keprihatinan, kita berusaha untuk memperbaiki kualitas guru dengan cara membenahi manajemen mutu institusi produk guru (lembaga keguruan) yang tersebar di wilayah Maluku, dengan cara memperhatikan kualitas masukan, proses, dan produk (hasil akhir), dan yang tidak kalah pentingnya faktor legalitas lembaga (PT).  Menghimbau pemerintah daerah (Dinas Dikpora Kabupaten Kota) untuk melakukan analisis kebutuhan guru pada satuan pendidikan di wilayah Maluku, sehingga tidak terjadi mal-mengajar oleh guru dalam kelas pembelajaran, efeknya terhadap rendahnya mutu dan kualitas pendidikan.

Terakhir mari kita ikuti pesan Fuad Hasan (Mantan Mendiknas), “bahwa sasaran pendidikan bukan hanya untuk membuka peluang (having), memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan dan keahlian. Namun lebih dari itu. Di sisi lain, pendidikan tidak boleh mengabaikan tugasnya untuk membangun pribadi sebagai penanggung jawab berlangsungnya eksistensi manusia. Bahkan pendidikan lebih ditujukan kepada mantapnya kesejatian diri pribadi (being).
(*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!