Wilmintjie Mataheru, Anak Guru Yang Hari ini Dikukuhkan Jadi Guru Besar – Ambon Ekspres
Trending

Wilmintjie Mataheru, Anak Guru Yang Hari ini Dikukuhkan Jadi Guru Besar

Sempat Berniat Menghentikan Kuliah

Lahir dari keluarga  pendidik, menjadi titik awal ketertarikan Wilmintjie Mataheru menjadi seorang guru. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Kini dia bukan saja sebagai pengajar. Hari ini dia akan dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Pattimura di bidang Matematika. Bidang yang mayoritas orang memilih menghindarinya.

Dia lahir di Galala, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon pada tanggal 8 Februari 1964. Putri kedua dari 11 bersaudara pasangan Drs. Matheus Costantinus Mataheru dan Wilhelmina Mataheru/Tetelepta.

Menamatkan SD Negeri Teladan Ambon tahun 1976 dan  SMP Negeri 3 Ambon tahun 1979, Min- Sapaan Wilmintjie memilih masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Ambon. Dia lulus tahun 1982.  Studi S1-nya diselesaikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura. Saat itu, Program Studi Pendidikan Matematika lah yang dipilih anak Galala ini.

Memilih Matematika, bukan tanpa alasan bagi Min. “Saya menghindari banyak hafalan,” ujarnya saat ditemui di kampus beberapa waktu lalu.  Awal kuliahnya tak mulus. Prestasinya pun jauh dibawah ekspektasinya. Indeks Prestasi (IP) masih dibawah yang diinginkan. Capaian itu membuatnya nyaris menghentikan studinya.

Dia memutuskan berhenti kuliah dan memilih mengikuti tes pengangkatan guru sekolah dasar (SD). Dia pun beranikan diri menyampaikan keputusan itu kepada kedua orang tuanya. “Orang tua saya tidak menyetujui. Mereka selalu menasihati dan memotivasi saya untuk tetap melanjutkan perkuliahan,” tandasnya.

“Mulai saat itu saya bertekad untuk mengubah cara belajar agar dapat meningkatkan IP. Ternyata dengan mengubah cara belajar, IP pada semester kedua meningkat lebih dari 3,” kisahnya.

Dengan IP yang tinggi itu, namanya kemudian diusulkan Program Studi Matematika memperoleh beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA). “Perkuliahan untuk semester berikutnya, saya tetap mempertahankan IP. Dengan demikian saya memperoleh beasiswa PPA mulai dari tahun pertama perkuliahan (tahun 1983) sampai saya memperoleh sarjana tahun 1988,” terangnya.

Setahun setelah lulus, tepatnya tahun 1989 ia diangkat menjadi dosen pada Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unpatti. Karier studinya kemudian dilanjutkan di IKIP Malang pada Program studi Pendidikan Matematika dan memperoleh gelar Magister (S-2) tahun 1999.

Kemudian melanjutkan studi S3 di Universitas Negeri Surabaya pada Program Studi Pendidikan Matematika dan memperoleh gelar Doktor (S-3) tahun 2011. Penelitian di bidang Psikologi Kognitif, khususnya Proses Kognitif dalam kaitannya dengan Pemecahan Masalah Matematika.

Penelitian ini menghasilkan profil proses kognitif siswa dari berbagai latar belakang kemampuan akademik. Prestasi dan pengabdian yang dilakukan selama ini yakni, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada bidang Pendidikan Matematika. Selain itu, Min turut terlibat dalam penyampaian materi pada seminar lokal maupun nasional, juga aktif dalam pertemuan ilmiah, dan sebagai penyunting ahli pada Jurnal Pendidikan maupun Jurnal Pendidikan Matematika.

Jabatan yang dipegang sekarang ini adalah Kepala Laboratorium Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unpatti periode 2012-2016. Jabatan fungsional tertinggi dalam bidang akademik sebagai Guru Besar atau Profesor dalam Bidang Pendidikan Matematika berdasarkan SK Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi R.I Nomor 182834/A4.3/KP/2014 tanggal 1 Oktober 2014

Hari ini, Dr. Wilmintjie Mataheru, M.Pd,  (18/2) akan dikukuhkan sebagai guru besar atau professor di bidang Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon. Pengukuhan dilakukan oleh Rektor Prof. Dr. Th. Pentury, M. Si.

Pengukuhan Min,  menambah daftar guru besar matematika di Maluku, khususnya di FKIP Unpatti, Program studi Pendidikan Matematika. Saat ini sudah ada tiga orang, guru besar, Prof. Dr. T. G. Ratumanan, M.Pd dan tahun 2014 lalu juga berhasil dikukuhkan Prof. Dr. Th. Laurens, M.Pd.

Dalam disertasinya Min menjelaskan, rendahnya hasil belajar siswa terhadap matematika merupakan masalah yang belum teratasi hingga sekarang. Fakta ini mengindikasikan kelemahan siswa dalam mengingat dan mengungkapkan kembali pengetahuan yang pernah dipelajari. Padahal kemampuan itu menjadi salah satu kemampuan yang diperlukan untuk mengkonstruksikan pengetahuan baru.
Salah satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak bisa semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam pikiran mereka. Guru dapat memudahkan proses ini, dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa.

“Hal itu dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide mereka. Guru perlu mengajar siswa agar secara sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar,” jelas ibu dari dua anak, Milza Titaley dan Marenza Titaley.

Lebih lanjut dijelaskan, mengajar dilukiskan sebagai suatu proses interaksi antara guru dan siswa, yang mana guru mengharapkan siswanya dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang benar-benar dipilih oleh guru. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipilih oleh guru itu hendaknya relevan dengan tujuan pembelajaran yang diberikan dan disesuaikan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.

“Dengan demikian mengajar adalah untuk melihat bagaimana berlangsungnya proses belajar, tidak hanya sekedar mengatakan dan memerintahkan, atau tidak hanya membiarkan siswa belajar sendiri. Mengajar sebenarnya memberi kesempatan kepada yang diajar untuk mencari, bertanya, menebak, menalar, dan bahkan mendebat,” jelas istri dari Izaac Titaley ini.

Belajar merupakan suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman/pegetahuan baru, sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku. Dia mencontohkan, setelah belajar matematika, siswa mampu mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan matematikanya, yang mana sebelumnya tidak dapat melakukannya.

Dengan demikian, kata dia, bahan pelajaran harus disusun menurut urutan tingkat kesukaran yang logis dan berdasarkan atas pengalaman-pengalaman belajar terdahulu. Bahan pelajaran yang dipelajari haruslah “bermakna” (meaningful), artinya bahan pelajaran itu cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.

Cara seseorang menerima informasi, kemudian memprosesnya dan menyimpannya, akan berpengaruh terhadap pemanggilan kembali informasi tersebut. Mengutip itu Woolfolk (1995) dia mengatakan, untuk memahami suatu informasi, seseorang perlu mengintegrasikan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah ada dalam memori. Dia juga mengutip Matlin (1989), yang mengatakan bahwa aktivitas seseorang selalu melibatkan memori. Oleh sebab itu, memori mempunyai peranan yang sangat penting di dalam proses kognitif seseorang.

Untuk mengetahui keterlibatan siswa secara individu aktif dalam belajar, tidaklah cukup dengan mengetahui prestasi belajar yang diperolehnya, namun perlu diamati bagaimana siswa belajar, karena belajar merupakan aktivitas yang terkait dengan proses kognitif. Dalam hal ini bagaimana siswa memproses informasi. Apabila terdapat kekeliruan yang dilakukan siswa dalam memproses informasi, maka guru dapat mengoreksinya.

Hal ini, lanjut dia, sesuai dengan pendapat beberapa para ahli psikologi pendidikan (Winkel, 2005), pengetahuan dan pemahaman tentang belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam usahanya belajar, tetapi juga membantu untuk mencegah terjadi penyimpangan selama belajar, sehingga dapat dikoreksi.

Individu, kata dia, merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Individu berpikir secara aktif dalam membentuk wawasannya tentang kenyataan, memilih aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam memori, atau digunakan dalam pemecahan masalah.

Dalam dunia pendidikan matematika, pemecahan masalah merupakan suatu hal yang penting untuk diketahui oleh siswa. Dengan pemecahan masalah matematika, membuat matematika tidak kehilangan maknanya, karena suatu konsep atau prinsip akan bermakna jika dapat diaplikasikan dalam pemecahan masalah. Oleh sebab itu guru tentu harus mengusahakan agar siswanya mencapai hasil yang optimal dalam menguasai keterampilan pemecahan masalah.

Dalam hal ini, ia memberikan masukan kepada: Pertama, guru matematika, untuk mengetahui kemampuan apa saja yang telah dimiliki siswa ketika memecahkan masalah matematika, sehingga pembelajaran selanjutnya dapat dirancang berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; Kedua, siswa dapat memahami proses pemecahan masalah dan terampil memilih dan mengidentifikasi kondisi serta konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian, dan mengorganisasikan keterampilannya yang telah dimiliki sebelumnya. (Hadia Waly)

Most Popular

To Top