Solidaritas Sempit Kian Menguat – Ambon Ekspres
Trending

Solidaritas Sempit Kian Menguat

AMBON, AE— Konflik  yang melibatkan masyarakat Hila dan  masyarakat Waitomu Kecamatan Leihitu kabupaten Maluku Tengah, kembali menguatkan indikasi, semangat persaudaraan universal yang menjadi ciri penting dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku, melemah. Sebabnya, solidaritas sempit menguat. Kekerasan pun kerap menjadi pilihan ketika terjadi masalah. Akibatnya,   masalah kecil bisa meluas dan melibatkan lebih banyak orang.

Akar masalahnya, bukan karena konflik sosial pada beberapa tahun lalu, sehingga membuat masyarakat di daereh ini melihat konflik sebagai sesuatu yang biasa. Tapi, munculnya solidaritas sempit hingga sentimen kelompok masyarakat saat ini, menjadi sebab konflik.

“ Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa konflik itu kadang  pemicunya  kecil. Seperti hanya karena ngintip orang pacaran saja, lalu timbul emosi. Tapi persoalannya disini bukan sebatas itu saja. Ada hal substansi yang mesti kita lihat,” kata Direktur Institut Tifa Damai Maluku (ITDM), Justus Pattipawae  kepada Ambon Ekspres, Jumat (20/2).

Substansi lain dari pemicu konflik, yakni masalah lain yang telah terjadi sebelumnya antara kedua kelompok masyarakat, sehingga membuat solidaritas sempit di masing-masing kelompok terbangun, saling sentimen  pun terjadi. Buntutnya, konflik sulit dihindari ketika  hubungan sosial antar kedua kelompok masyarakat  terbentur masalah.

“Nah,  itu ditelusuri juga, karena boleh dikatakan bahwa senitimen-sentimen itu terkadang  dibangun dalam rangka mendorong solidaritas yang kadang-kadang disalah tafsirkan. Korban salah satu warga Hila, dianggap bahwa semua warga Hila itu di dzalimi. Katakanlah seprti itu,” analisa dia.

Apalagi, lanjutnya  secara emosional, pasti solidaritas itu akan muncul ketika mereka merasa berdarah Hila.  Konflik yang terjadi hanya karena masalah kecil, menjadi isyarat, perlu ada penelusuran lebih jauh, guna mengetahui akar penyebab hingga kedua kelompok masayarakat yang masih dalam satu pemerintahan Desa Hilla ini bisa terlibat konflik yang massif.

Direktur Ambon Reconciliation Media Center (ARMC) IAIN Ambon, Abidin Wakano mengemukan hal yang tidak jauh berbeda. Seharusnya konflik antara masyarakat Hila dan Waitomu tidak perlu terjadi, bila masing-masing pihak tidak  cepat emosi akibat solidaritas sempit.

“Orang terlihat mulai membangun solidaritas sempit yang berdampak negatif. Orang akan mudah berkonflik. bila sudah terbangun rasa solidaritas sempit dan saling sentimen,” ungkapnya.

Wakano tidak menampik,  fenomena  Etno-Nasionalisme, yakni paham kebangsaan  dengan sentimen etnis  mulai muat ditengah kehidupan masyarakat  Maluku. Orang kemudian mudah tersinggung ketika kelompoknya diusik. Baik secara fisik maupuhn verbal. Akibatnya, konflik sulit dihindari.

“Bicara solidaritas, itu hal positif. Yang jadi masalah, ini solidaritas sempit yang berdampak negatif.  Orang akan berbuat apa saja demi kelompok dia. Walapun disebabkan oleh  masalah kecil,” tandasnya.

Melemahnya nilai-nilai persaudaraan yang universal, disebabkan oleh banyak hal. Bisa saja ada akar masalah antara kedua kelompok masyarakat yang belum diselesaikan. Ini yang harus diidentifikasi, kemudian dicari solusi terbaiknya, agar konflik serupa tidak terulang lagi.

“Kemudian, perlu ada pendekatan edukatif dan persuasif untuk membebaskan masyarakat dari paradigma sempit ketika mengdapi masalah,” ujarnya.

Langkah itu, kemudian diikuti pendampingan secara berkala maupun  terus menerus.  Pemerintah harus lebih memberdayakan para tokoh masyarakat dalam menyikapi setiap masalah yang terjadi, terutama masalah yang bersentuhan dengan kelompok masyarakat lain. (MAN)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!