Jangan Bunuh Kami Dengan Keterisolasian – Ambon Ekspres
Trending

Jangan Bunuh Kami Dengan Keterisolasian

Pekan kemarin, saya berkesempatan mendampingi tim DPRD Provinsi Maluku melakukan pengawasan di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Boleh dibilang ini sebuah testimoni pribadi atas kondisi perekonomian MTB, dan ini tidak mewakili opini tim pengawasan. Meski artikel ini cukup ringkas tetapi penting.

Peraih hadiah Nobel Bidang Ekonomi Tahun 1998, Prof. Amartya Sen, menekankan pentingnya akses informasi dan keterlibatan media dalam setiap tahapan pembangunan. Sebab ketertutupan, ketidaktahuan serta keterisolasian dapat menciptakan ketidakberdayaan yang akhirnya akan berbuah kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam beberapa studi yang mengantarkannya meraih hadiah tertinggi bagi para ekonom kelas dunia itu, Sen menemukan bahwa kemiskinan, kelaparan dan keterbelakangan justru terjadi bukan karena ketiadaan dukungan sumber daya alam, tetapi lebih karena ketiadaan akses pada sumber daya ekonomi.

Masih ingat dengan tragedi hilangnya tim kesehatan Kabupaten MTB yang dipimpin dr. Carolus, Kepala Dinas Kesehatan kabupaten setempat? Musibah itu terjadi pada Februari 2007, yaitu waktu dimana cuaca sedang buruk-buruknya. Tetapi panggilan tugas memaksa tim petugas kesehatan ini harus menerjang tingginya gelombang laut. Tim ini kemudian dinyatakan hilang dan ditemukan 16 hari kemudian di Kabupaten Kepulauan Aru dalam keadaan selamat. Bisa dibayangkan, mereka terombang-ambing oleh ganasnya laut musim barat, hanyut ribuan mil dengan peluang antara hidup dan mati seperti tidak berjarak.

Di waktu yang berbeda, tepatnya 2013 yang lalu, dua wanita hamil terpaksa meregang nyawa di tengah perjalanan jauh dengan medan yang berat. Bersama keluarganya, dua wanita hamil ini terpaksa menempuh jalur darat yang tidak beraspal dan hampir tidak mungkin dilewati kendaraan, mempertaruhkan hidup di tengah keterbatasan. Mereka akhirnya meninggal karena lemas dan terlambat mendapatkan pertolongan pertama untuk melahirkan. Dalam momen berikutnya, pada Februari 2015, 113 orang tenggelam karena cuaca buruk. Sebuah kapal motor yang disesaki penumpang termasuk anak-anak dan balita dihantam gelombang tinggi. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.

Kejadian lainnya adalah seorang guru yang mengepalai sebuah sekolah taman anak-anak, yang sejak pengangkatannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada 1987 hingga kini, pangkatnya tidak pernah beranjak dari golongan IIb. Hingga 2015, berarti telah 28 tahun guru ini mengabdi tanpa perubahan status kepangkatan.

Dikesempatan terpisah, seorang pejabat daerah dalam sebuah seremonial pemerintah daerah, terlihat begitu senang ketika menyimak laporan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan hasil-hasil pembangunan yang terus tumbuh dan berkembang dimana kemiskinan di Maluku menunjukkan trend yang menurun. Begitu juga dengan laporan pertumbuhan ekonomi yang hampir menyamai, bahkan di beberapa tahun, dapat melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Pejabat ini sepertinya belum mampu membuat perbedaan antara laporan statistik yang administratif di satu sisi dengan fakta pembangunan yang fungsional di sisi lainnya.

Apa yang diungkapkan di atas patut disebut sebagai tragedi karena semuanya terjadi di tengah euforia para perancang pembangunan yang bangga akan pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah, juga kesenangan pada laporan statistik perekonomian yang nampak memuaskan. Selain itu, semuanya juga terjadi di tengah-tengah histeria akan kebebasan dan demokrasi yang menjanjikan kesejahteraan dan kesetaraan yang kerap dikampanyekan para politisi. Rentetan tragedi itu, saya yakin, lebih merupakan fenomena gunung es, dimana masih banyak tragedi serupa lainnya yang tak terpantau sehingga belum dapat dikonfirmasi baik di MTB sendiri maupun di kabupaten lain, semisal MBD dan Aru.

Kabupaten MTB marupakan salah satu daerah otonom di Maluku yang dibentuk pasca reformasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru, dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat.Pasca pembentukan daerah otonom MTB yang dalam perkembangannya kemudian disusul oleh pembentukan daerah otonom baru Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MBD) pada 2008, hingga saat ini telah 15 (lima belas tahun) berlalu. Apa yang telah dicapai daerah ini?
Rangkaian tragedi yang disebutkan di atas harus membuat kita marah. Sebab buat apa kita membanggakan pencapaian statistik ekonomi daerah jika kemiskinan dan ketertinggalan itu benar-benar nyata, ada di sekitar kita dan begitu menyakitkan. Akal sehat kita sulit memahami fakta mengapa seorang guru selama 28 tahun, pangkat dan golongannya tidak pernah dinaikkan. Karena jika birokrasi tidak mampu melayani hak dan kepentingan satu orang pegawainya, maka birokrasi seperti ini pasti tidak akan mampu melayani investor.

Mari kita simak sajian statistik lainnya tentang Kabupaten MTB berikut ini yang akan memperpanjang rangkaian tragedi di atas. Angka kematian bayi kabupaten berjuluk Duan Lolat ini mencapai 26 (2012). Angka ini meningkat sejak 2010 dan merupakan yang tertinggi kedua di Maluku setelah Kabupaten Buru (46). Persentase Balita Gizi Buruk menurut kabupaten/kota di Maluku (2012), MTB menempati peringkat kedua terburuk dengan nilai 0,40 (2012). Tingkat kemiskinannya mencapai 28,4 persen.

Bandingkan dengan Kabupaten Buru yang sama-sama menjadi daerah otonom baru pada tahun 1999, yang berada pada angka 19,80 persen. Angka kemiskinan ini juga sekaligus menempatkannya sebagai daerah termiskin ketiga di Maluku setelah Kabupaten MBD dan Kabupaten Aru. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusianya (IPM) berada pada angka 68,83 atau masih di bawah rata-rata provinsi yang ada pada angka 71,42 dan masih di bawah Kabupaten Buru (70,09). Angka IPM ini menempatkannya pada peringkat ke 8 dari 11 kabupaten/kota di Maluku. Tentu ini deretan pencapaian yang tidak mengenakkan.

Secara faktual, ketertinggalan Kabupaten MTB ini juga disertai tingkat keterisolasian yang tinggi antar daerah dan antar pulau. Padahal salah satu syarat maju dan berkembangnya suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat konektifitasnya. Sebab, meski kandungan sumber daya alamnya melimpah, utamanya perikanan dan kelautan, tetapi masyarakat tetap kesulitan menjangkau pasar. Begitu juga dengan inovasi teknologi dan manajerial, intervensi lembaga keuangan, dll. Tragedi para ibu hamil yang akhirnya menghembuskan nafas terakhir di tengah perjalanan menuju ibu kota kabupaten untuk mendapat pelayanan persalinan atau hilangnya tenaga kesehatan selama 16 hari di tengah laut tidak harus terjadi jika tingkat konektifitas di kabupaten ini baik. Sayangnya, pembangunan selama 15 tahun sejak menjadi daerah otonom baru, belum mampu mengeluarkan kabupaten ini dari predikat salah satu kabupaten tertinggal di Maluku.

Tetapi, selain berbagai data ketertinggalan yang membuat miris di atas, sebetulnya, pembangunan memang terus berlangsung dan kabupaten ini tetap menunjukkan geliat dan tekadnya untuk maju dan berkembang. Ini dapat terlihat dari pertumbuhan ekonominya yang mampu menembus level 7,34 persen (2012). ini meningkat dari 5,25 persen pada 2011. Hanya, membangun saja tidak cukup, tumbuh saja tidak cukup. Dibutuhkan tekad dan dedikasi yang kuat untuk memajukan daerah dengan ketertinggalan akut dan untuk menaklukkan tantangan sebaran kepulauan yang ekstrim seperti MTB.Para pemimpin politik di MTB harus mengasah kepekaannya untuk mendengar suara hati rakyatnya, bahwa “jangan bunuh kami dengan keterisolasian”. Para pemimpin lokal juga harus keluar dari zona nyamannya untuk kemudian berlumpur bersama rakyat memacu pembangunan lokal dalam kecepatan di atas rata-rata provinsi dan nasional. Pertumbuhan MTB yang menembus 7 persen pada 2012 memang bagus, tetapi itu tidak cukup. Angka ini masih harus ditingkatkan pada level 8 persen hingga 10 persen secara berkelanjutan. Selain itu, pertumbuhan yang dimaksud adalah bertumbuhan yang mengakar, yakni pertumbuhan yang mampu mengangkat martabat orang Duan Lolat sekaligus memerdekakannya dari keterbelakangan dan keterisolasian, bukan pertumbuhan yang hanya memakmurkan segelintir penikmat kekuasaan. Bagi saya, kemiskinan akut di MTB linier dengan argumentasi yang dibangun Amartya Sen di atas, bahwa meski suatu daerah kaya akan sumber daya alam tetapi akses terhadap sumber daya ekonomi (pasar, modal, dukungan regulasi dan birokrat) yang demikain terbatas dapat membuat warganya harus berkubang dalam ketertinggalan berkepanjangan. Demikian pengalaman saya. Bagaimana pendapat anda?©

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!