Setiap Bayi Tujuh Bulan Wajib Injak Rumput Lapangan Sepakbola – Ambon Ekspres
Trending

Setiap Bayi Tujuh Bulan Wajib Injak Rumput Lapangan Sepakbola

Menengok Kampung Sepakbola Tulehu

Semua orang mungkin terpesona dengan tanah Italia yang tak pernah lelah melahirkan defender-defender tangguh. Atau mungkin Amerika Latin, kerasnya hidup pun tak mampu menghentikan mereka mencetak legenda-legenda baru, seperti Lionel Messi, Neymar Junior hingga Cristiano Ronaldo.

Mengolah si kulit bundar di lorong-lorong, jalan-jalan, sampai ke pantai, itulah pemandangan anak-anak di Latin. di negeri yang jauh dari Brazil, atau Argentina, Tulehu dijadikan kampung sepak bola.

Negeri Tulehu, sangat dikenal orang kebanyakan. Talenta-talenta pesepakbola tangguh tanah air, lahir disini. Imran Nahumarury, lalu muncul Manahati Lestusein, Hendra Bayau, dan sederet nama lainnya. Dikenal sejak dulu, melejit ketika meraih tropi Medco. Medco adalah arena anak usia belasan tahun mengasah kemampuan sepakbolanya. Anak-anak Tulehu meraih dua kali juara. Mereka dikenal. Kini sekitar 10 pemain timnas, adalah anak Tulehu.

Jarak Tulehu dari Kota Ambon, ibukota Maluku, kurang lebih 24 kilometer. Masih di Pulau Ambon, tapi masuk Kabupaten Maluku Tengah. Ketua PSSI Johar Arifin sudah kesana. Disana, Tulehu diberi status baru, kampung sepakbola. Alasannya cukup rasional, disana lahir banyak talenta muda timnas. Punya se-gudang pemain. Dan berbakat pula.

Bakatnya tak lahir begitu saja. Konon anak-anak lelaki di Tulehu, harus pandai bermain bola. Mereka merasa dikucilkan, ketika tak pandai menendang bola. Bermain bola bagi anak-anak Tulehu seperti menimba ilmu di pendidikan formal. Punya jadwal, dan punya tujuan. Menjadi pemain terbaik, lalu bermain di timnas. Terakhir, banyak anak-anak disana, ingin bermain di lapangan Eropa.

Negeri itu sangat kuat adat, demikian pula agama. Adat sangat kental, sekental anak-anak belia sampai pria dewasa menjadikan sepakbola sebagai bagian dari hidup mereka. Adat dan sepakbola tumbuh subur bersama. Melekat, dan tak mudah luntur. Karen itu, setiap anak yang lahir selalu mengenal tiga hal, agama, adat, kemudian sepakbola.

Setiap bocah laki-laki yang lahir di negeri ini  diciptakan untuk bermain sepakbola. Lalu kegilaan anak-anak Tulehu terhadap sepakbola ini, kemudian membentuk kebiasaan dan budaya baru. Saat seorang bayi Tulehu berusia tujuh bulan, kaki mereka akan diolesi rumput lapangan sepakbola yang diletakkan di dalam piring atau semacam wadah.

Proses ini bisa dilihat pada saat aqikah.” Ada maknanya, yaitu simbolisasi tentang orangtua yang berharap anaknya bisa membawa nama baik keluarga dan Tulehu melalui kulit bundar,” ungkap Sofyan Lestaluhu, mantan pemain Persijatim kepada penulis akhir pekan lalu di Tulehu.

Bahkan, lanjut ayah dari Muhammad Neymar Lestaluhu ini, ketika  bayi tidur pun harus ditemani bola.” Kalau bayinya laki-laki harus tidur dengan bola kaki di samping kanan dan kirinya. Memang seperti itu, karena sejatinya bukan hanya candu tetapi hal ini sudah terjadi sejak dulu,” bilang dia.” Jangan heran bila anak usia lima atau enam tahun yang berasal dari Tulehu sudah bisa menggiring atau juggling bola dengan baik,” lanjut Sofyan.
***
Anak-anak Tulehu memang gila bola. Mereka akan memilih  sepakbola ketika diperhadapkan dengan pilihan mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Rela berbagi lapangan dengan sapi untuk menendang si kulit bundar.

Dari desa ini pula lahir gelandang Persija Jakarta, Ramdani Lestaluhu, Hasim Kipuw. Atau, mantan stopper timnas Indonesia Chairil ‘Pace’ Anwar Ohorella dan Imran Nahumarury, mantan gelandang Timnas Indonesia. Mereka lahir dari lapangan dengan rumput yang kering. Selalu di masuki sapi pula. Namun kualitasnya, lumayan yahud.

Mereka lahir dari Lapangan Matawaru. Ukuran standar,  namun kualitas pemainnya tak standar. Di lapangan itu, ada satu tribun yang dibangun melalui swadaya masyarakat. Tampak kumuh dan banyak kotoran kambing di tribunnya. ” Dari lapangan inilah saya tahu bermain sepakbola,” ungkap Sofyan.

Menurutnya, permainan kulit bundar  bukan hanya sekadar olahraga apalagi permainan. Sepakbola bagi orang Tulehu juga tentang kehidupan.” Ada kedekatan batiniah yang menggiring sepakbola masuk ke dalam tradisi warga setempat,” jelasnya.

Anak-anak disina dibina  dengan pembinaan alami ala Matawaru. Pembinaan yang juga ditempa dengan perpaduan sulitnya medan pegunungan dan laut. Belum lagi dengan kultur masyarakat yang memang tidak bisa dilepaskan dari sepakbola.” Dari kecil memang seperti itu. Karena mimpi mereka cuma satu, yakni menjadi pemain timnas,” pungkasnya.

Aji Lestaluhu, Pelatih Nusa Ina Fc yang juga lahir dari Matawaru, memaparkan, prestasi sepakbola Maluku di kancah nasional  memang mati suri. Namun  tidak demikian prestasi anak-anak Tulehu. Mulai Divisi I,II dan III (sekarang Liga Nusantara), Divisi Utama  hingga  Indonesia Super Liga (ISL), terdapat pemain bintang asal negeri ini.” Walau musim panas ketika kering kerontang atau becek ketika musim penghujan, tapi lapangan bola kampung ini tidak pernah sepi dari yang namanya sepakbola,” terang Aji.

Program  latihan SSB maupun klub di sini minimal tiga kali seminggu. Jika ada seleksi  guna mengikuti sebuah kompetisi, tidak akan sulit lagi bagi klub untuk menjaring calon-calon pemain. ”Tulehu tak bakal kehabisan stok bibit pesepakbola dengan bakat alam. Minat anak-anak lelaki pada olahraga ini begitu tinggi,” demikian Aji.

Pembinaan sepakbola tidak berhenti di Lapangan Matawaru. Sebab, di desa ini masih ada dua lapangan bola, yakni di dusun Hurnala dan di komplek Universitas Darussalam (UNIDAR) Tulehu. Ukurannya relatif sama.” Kalau SSB Maehanu latihannya di Lapangan Unidar. Ya, kalau SSB Persenal di sini (Lapangan Hurnala). Latihan setiap hari,” ungkap Harmain Masaila, Pelatih SSB Persenal Hurnala.

Berkat pembinaan secara baik membuat beberapa anak binaannya dipanggil masuk timnas, sebut saja Zidan Pattiiha, Ruslan Rumadaul dan Hendra Adi Bayau. ”Apa yang mereka dapat saat ini karena kerja keras dan itu tidak terlepas dari program pembinaan yang baik dan benar,” tutup dia.

Bos SSB Persenal, Dedy Sukur memaparkan, talenta sepakbola di Tulehu sangat banyak. Sayang, kurangnya disiplin membuat mereka tidak berkembang.” Saya hanya ingin membuat anak-anak bisa sukses. Makanya, pembinaan di sini harus tetap berjalan,” beber dia. ”Sepakbola sudah jadi bagian dari hidup saya, makanya saya peduli dengan anak-anak (siswa SSB Persenal) itu,” ulasnya.

Secara keseluruhan, tambah Dedy, pembinaan sepakbola untuk  usia dini berjalan sangat baik. Tidak heran jika pada akhirnya Tulehu disebut sebagai gudangnya pemain sepakbola. Ada sejumlah nama lama yang berjaya, seperti Mohtadi Lestaluhu yang dikenal sebagai mantan pemain Bintang Timur era Galatama (sekarang ISL), Rahel Tuasalamony. Atau generasi muda Tulehu yang sekarang berkiprah di tim ISL, sebut saja Ramdani Lestaluhu, Hasyim Kippuw, Hendra Bayauw, Abdul Rahman Lestaluhu, hingga Alfin Tuasalamony. ”Ya, Desa ini memang sudah dikenal sebagai desa sepakbola. Ke mana pun kami pergi, selalu dikenal sebagai pemain bola. Kata orang, Tulehu adalah Sambanya Maluku,” kata Dedy sambil terseyum.

Dedi menambahkan, momen paling indah bagi Tulehu ketika mewakili Maluku dalam turnamen U-15 Piala Medco 2006. Maluku, yang didominasi remaja Tulehu berhasil menjadi juara nasional setelah menjinakan favorit juara Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.” Saya bangga dengan prestasi kala itu,” imbuh ayah dari Abidzar Al Benzema ini.

Kini, Tulehu sudah resmi jadi Kampung Sepakbola. Ini sebagai rasa terima kasih PSSI untuk negeri ini. Sumbangsi yang luar biasa untuk Timnas Indonesia membuat orang nomor satu di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin menetapkan Tulehu sebagai sentra pembinaan usia muda sekaligus meresmikan Tulehu sebagai Kampung Sepakbola.” Terima kasih untuk semuanya.Karena talenta dari desa inilah sehingga nama Indonesia bisa harum di mata dunia,” kata Djohar di Tulehu, Rabu lalu.

Menurut orang nomor satu di PSSI ini, upaya tersebut sebagai bentuk perhatian perhatian kepada bibit-bibit muda yang ada di Maluku (Tulehu).Kami akan melakukan pembentukan enam sentra pembinaan bagi usia muda.” Di antaranya enam wilayah, di Sumatera itu Padang dan Medan. Di Jawa yaitu Surabaya dan Bandung. Lalu di Maluku dan Jayapura. Sehingga kita punya bibit yang selalu ada setiap waktu,” jelasnya.

Djohar menuturkan, potensi pemain sepakbola di Maluku (Tulehu) sangat sangat menjanjikan.Ini dilihat dari sumbangsi pemain asal desa ini di Timnas Indonesia. ”Kalau di Bali, Sumatera hingga Kalimantan, hanya satu dan pemain saja yang membela timnas, tapi di Tulehu ada 10 orang.Ini sungguh luar biasa,” ucapnya bangga.

Arifin berharap, dengan peresmian Tulehu sebagai  kampung sepakbola ini bisa memberikan dampak positif. Setidaknya dengan dijadikannya Tulehu sebagai sentra pembinaan usia muda dapat menginspirasi pemain untuk  makin termotivasi dan bisa  berprestasi di ranah nasional maupun internasional.” Saya yakin, apa yang kami putuskan hari ini bisa memberikan dampak  positif bagi perkembangan sepakbola di negeri seribu pulau,” demikian Arifin.

Peresmian Tulehu sebagai  kampung sepakbola ditandai dengan penarikan tirai kain di sebuah tugu bertuliskan ‘Selamat Datang  di Kampung Sepak Bola Tulehu’ serta dilanjutkan  penandatanganan prasasti oleh Djohar dan  disaksikan sejumlah orang tua pemain tim nasional (timnas), pelatih, mantan pelatih, mantan pemain dan ratusan warga Tulehu. (***)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!