Dari Hulu ke Hilir Suku Nuaulu Ingin Maju – Ambon Ekspres
Trending

Dari Hulu ke Hilir Suku Nuaulu Ingin Maju

Suku Nuaulu merupakan salah satu suku asli di Pulau Seram dan merupakan pecahan kerajaan Nunusaku. Nenek moyang suku Nuaulu mendiami pedalaman hulu sungai di Seram Barat yakni Talabatai, Etibatai dan Sapalewabatai sebelum abad-18. Kemudian bermigrasi ke pesisir pantai dengan cara berpindah-pindah. Kebiasaan mengumpulkan makanan serta berburuh memaksa mereka menyusuri pegunungan hingga menetap di pesisir. Kini mereka ingin maju, sejajar, adil, dan damai berdampingan bersama negeri-negeri lain di Maluku Tengah.

Catatan: Syaipudin Sapsuha, Masohi

Cuaca negeri Nuanea cukup menyengat ketika Ambon Ekspres berkesempatan ke negeri itu, Rabu,(18/2) siang. Walau terik, tidak seorang pun peduli, sebab mentari tak jua mampu menembus Karanunu atau ikat kepala merah yang tertanam di kepala setiap manawa (laki-laki) suku Nuaulu.

Suasana keakraban terpencar, sapaan tabea terlontar tanpa beban. Karanunu menjadi perimadona menghiasi jagat Nuanea sekaligus kita muda membedakan mana suku Nuaulu dan non Nuaulu (tamu).

Kain berang muncul dari segala penjuru negeri, teras rumah, degu-degu menatap dengan senyuman penuh makna. Tak kalah perempuan dan gadis bersarung batik kebaya motif Maluku juga asyik menyiapkan makanan khas Maluku seperti Papeda, sagu lempeng, keladi, singkong, jagung, pisang, kelapa sisi dan jenis ubi-ubian hasil kebun lain disajikan secara prasmanan dalam sebuah tenda berukurang sedang penuh aksesoris daun pisang dan daun kelapa.

Siang itu, beberapa tetua adat terlihat siaga dilengkapi atribut kalewang dan salawaku dihiasi manik-manik tulang-belulang bak Komando Pasukan Khusus (Kopasus). Seketika tifa dibunyikan, sekelompok penari cakelele mulai memperlihatkan atraksi menghunuskan parang dan salawaku kearah rombongan Forum Koordinasi Pemerintah Daerah(FKPD) Kabupaten Maluku Tengah yang berkunjung ke negeri itu.

Cakalele diiring tifa serta nyanyian kerap disuguhkan sebagai bentuk penghormatan atau somba kapada setiap tamu yang mengunjungi suku Nuaulu. Laine-laine dalam setiap bait adalah metafora napaktilas suku Nuaulu, juga junjungan kepada Upu Anahatana.

Rombongan FKPD dipapah menuju tempat acara. Kedatangan rombongan FKPD guna memberikan sambutan pada peringatan hari jadi negeri Nuanea suku Nuaulu yang ke-30. Sekelabat suasana berubah hening ketika napaktilas suku yang masih menganut kepercayaan agama nenek moyang itu disampaikan di depan rumah raja. Rumah soa Maatoke dan Sounawe yang berjejer juga turut menjadi saksi perjalanan mereka. Diam, tak seorang pun yang bergerak.

Negeri Nuanea adalah pusat pemerintahan suku Nuaulu, itu sebabnya HUT tersebut dirayakan di Nuanea dihadiri seluruh suku Nuaulu yang ada di seantero Nusa ina. Nuanea terletak kurang lebih 12 kilometer arah barat Kota Masohi menuju ke sana bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan dari Kota Masohi

Masih dengan kendaraan melewati jalan masuk sepanjang 1,5 kilometer dari titik nol Trans Seram. Selain Nuanea terdapat beberapa suku Nuaulu lain yang tersebar di Pulau Seram yakni Bunara, Rohua, Simalow, Yalahatan di negeri Sepa serta dibagian Utara Pulau Seram.

Nenek moyang suku Nuaulu awalnya mendiami tiga hulu sungai (Waelateru) di Seram Barat, tiga sungai besar ini dalam kosmologi orang seram membagi pulau seram menjadi tiga bagian yakni hilir wae Tala di negeri Tala,  wae Ety di negeri Ety dan wae Sapalewa di negeri Lisabata.

Suku Nuaulu merupakan bagian dari kerjaan Nunusaku, setelah pecahan kerjaan nunusaku maka terjadi gelombang migrasi. Mereka bertahan hidup dengan mengumpulkan bahan makanan serta berburuh dari satu tempat ke tempat lain menuju belantara Seram Utara.

Namun, tidak ada data tertulis berapa lama mereka menetap di suatu tempat, proses itu dikisahkan lewat tuturan (Oral tradition). Selain sejumlah faktor yang menyebabkan mereka migrasi, faktor lain adalah untuk memperluas daerah kekuasaan.

Tempat yang pernah disinggahi disebut negeri lama atau ”Aman”. Aman diaggap “keramat” karena dipercaya masih bersemayam roh-roh atau nitu-nitu leluhur. Persis, negeri-negeri adat umumnya di Maluku. Dalam struktur masyarakat adat di Maluku istilah Aman cukup dikenal oleh masyarakat Seram dan Lease sedangkan wilayah Leihitu disebut Henna.

Sekiranya beberapa Aman dimaksud diantaranya adalah Obane, Kutey, Keni, Ma’ane (Gunung mas), Aipura, Wara-wara, Ainake, Ulaseite, Atanubu, Yayo, Saunuru dan Makaniki. Baru sekitar abad ke-18 leluhur mereka bermukim di kawasan Wataniatane atau Ulahatan negeri Sepa Kecamatan Amahai.

Di tempat itu, perpecahan antara mereka kembali tejadi setelah salah satu marga dalam suku tersebut melakukan pelanggaran adat maka suku Nuaulu terbagi menjadi beberapa kampung yakni Rohua, Bunara, Aisolo, Ulahatan dan Simalow.

Maka dengan pertimbangan perluasan daerah kekuasaan pada sekitar tahun 1985 warga Aisolo bermigrasi ke bagian barat negeri Sepa dan membentuk negeri Nuanea namun masih dibawa kendali pemerintahan Simalow.

Di tahun itu juga, bersamaan dengan gencarnya kebijakan pemerintah tentang transmigrasi menjadi kekwatiran, warga Aisolo untuk mempertahankan wilayahnya. Maka warga Aisolo hijrah ke arah barat yang kini negeri Nuanea. Dimana kawasan petuanan masih dianggap “keramat” yang mesti dilindungi dari gempuran transmigrasi.

Disisi lain, dalam kawasan petuanan tumbuh ribuan pohon sagu yang tak lain adalah makanan khas Maluku disamping terdapat marga parentah yang tidak bisa mengkonsumsi beras. Pengalihan pemerintahan dari Simalow ke Nuanea dilakukan tahun 1993 sekaligus menetapkan secara adat Sahune Matoke sebagai kepala kampung pada tanggal 5 Mei 1993.

Nuanea sendiri secara filosofis mengandung makna “Mari berkumpul disini jua” makna lebih luas berkumpul guna membentuk pemerintahan sendiri seperti sediakala ketika masih berada di negeri-negeri lama di pegunungan. Seruan tersebut telah dilakukan pemerintahan Sahune Maatoke sejak dipercayakan menjadi pemimpin dengan memperjuangkan Nuanea sebagai negeri administratif.

Alhasil, atas berkat Upu Anahatana serta didukung rekomendasi upulatu Sepa, Abbas Tihurua, negeri Nuanea resmi ditetapkan dengaan Peraturan Daerah(Perda) Kabupaten Maluku Tengah tahun 2007 sebagai negeri administratif sekaligus Sahune Matoke dilantik secara pemerintahan. Meski demikian warga umumnya tidak menghendaki negeri administratif melainkan negeri adat defenitif layaknya negeri-negeri lain di Maluku Tengah.

Tentu saja guna memperpendek rentan kendali pelayanan publik serta bisa memperoleh kucuran anggaran dari pemerintah daerah Kabupaten, Provinsi maupun pemerintah pusat agar Nuanea maju, sejahtera, adil dan damai sejajar bersama negeri lainnya di bumi Pamahanunusa.

Salah satu ciri khas suku ini juga telah melahirkan penilaian negatif dari orang Maluku karena agama mereka yang masih animistik. Tak jarang mereka kurang mendapat akses terutama dalam pencatatan sipil dimana agama nenek moyang mereka tidak diakui pemerintah. Meski sebagian dari suku ini memeluk agama pemerintah namun dalam banyak praktek masih diselimuti unsur animisme.

Kendati begitu, kehidupan suku Nuaulu dipesisir perlahan bergeser seiring perkembangan jaman. Pola kehidupan serta terbukanya akses informasi, komunikasi dan transportasi turut berkontribusi terhadap pola pikir dan pola laku mereka. Mereka tidak lagi hidup berlama-lama di hutan, anak-anak suku Nuaulu masuk sekolah hingga perguruan tinggi, lincah memainkan gadget, serta cepat dalam berkendara.

Perubahan demikian itulah, menjelang peringatan HUT ke-30 suku Nuaulu pada 18 February 2015 dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan generasi suku Nuaulu diantaranya, pertandingan gawang mini, bola volly, sepak bola, serta lomba memanah tingkat anak-anak dan dewasa.

Kegiatan tersebut digagas sebagai cambuk bagi generai muda suku Nuaulu untuk bersaing lebih maju. Sebagian dari mereka telah membuktikan lewat pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Bagi suku ini hanya lewat pendidikan bisa maju sejajar dengan negeri lain.

Kendati bergelar sarjana tapi toga yang terpasang tidak jua menggeser ikatan Karanunu atau kain berang merah. Ini bukti bahwa tradisi-tradisi yang diwarisi leluhur suku Nuaulu tidak pernah dilepas. “Saya berharap kekurangan ini bisa diatasi dengan program pembangunan,” pintah raja Sahune Matoke.(**)

Most Popular

To Top