Kebudayaan Daerah Maluku, Unggul Namun Terabaikan – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Kebudayaan Daerah Maluku, Unggul Namun Terabaikan

ANTROPOLOG Belanda, Corneles van Vollenhoven dalam karya monumentalnya  Het Adatrcht van Nederlandsch Indie “Hukum Adat Hindia Belanda”, karya ini memunculkan ide Van Vollenhoven membagi wilayah kebudayaan di Indonensia menjadi 19 wujud wilayah kebudayaan berdasarkan pengelompokan etnis di Indonesia.

Dalam gagasan ini, Maluku juga dibagi menjadi tiga wilayah budaya yang dibedakan atas Kebudayaan Maluku Tengah (Malteng) atau yang dikenal dengan wilayah republiken negeri yang berlandaskan pada konfigurasi kebudayaan raja-raja.

Kebudayaan Maluku Tenggara (Malra) dengan landasan utama kebudayaan kebangsaan, dan Kebudayaan Maluku Utara (Malut) dengan orientasi kebudayaan kesultanan. Tiga pembagian ini sepertinya memberi argumentasi yang pasti akan pengelompokan kebudayaan di daerah Maluku yang bila dimanfaatkan akan memberi efek berarti bagi pembangunan kedaerahan.

Terungkap dalam tulisan salah satu staf peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Ambon, Mezak Wakim,  bahwa sangat ironis kini bila membicarakan kebudayaan daerah Maluku. Sapa punglah, katong-katong saja, dan sebagainya.

Perdebatan-perdebatan ini secara kelokalan sangat merugikan kebudayaan daerah Maluku. Apalagi ditunjang dengan regulasi daerah yang tidak memberi ruang khsusus bagi pelestarian kebudayaan. Anugerah akan pulau-pulau dan subetnis yang kaya akan kebudayaan menjadi sumber daya yang tidak mampu dikelola untuk kepentingan bersama.

Daerah Maluku sejak abad ke 14 telah menjadi wilayah sangat populer dengan menyimpan sejumlah harapan besar bagi perkembangan dunia. Cengkih dan pala yang digadang-gadang sebagai komuditi awal memunculkan rangkaian sejarah dan budaya di Maluku, kini tidak lagi menjadi primodona kebudayaan daerah Maluku.

Mezak Wakim juga mengungkapkan kebudayaan daerah Maluku  sebagai  ladang penelitian dunia. Dimana, Josellin de Jonge dalam pengukuhan Guru Besarnya di Universitas Leiden pada tahun 1935,menyebutkan Indonesia merupakan model dari keanekaragaman etnograafi yang hampir sempurna melampaui benua Australia.

Hal menarik yang disampaikan Joselin de Jonge adalah ketika menyentil (Seram) Maluku Tengah dalam paparannya sebagai rumah penyelidikan keanekaragaman budaya di Indonesia. Selain itu juga  Naturalis Inggris Alfred Russel Walacea pada tahun 1859-1860 melakukan kunjungan di Kepulauan Maluku dan mendapatkan keunikan kebudayaan.

Kemudian Dieter Bartels antropolog Universitas Yavapai Colege Arizona AS, melakukan penyelidikan atas keunggulan budaya Pela dan Gandong di Maluku Tengah sebagai model kekerabatan antara komunitas Islam Kristen yang juga melapaui  negeri-negeri di Maluku Tengah.

Dan karya monumental Frank Cooley (1961) Mimbar dan Takhta yang merupakan disertasinya cukup mengemas keunggulan kebudayaan Maluku Tengah mulai dari struktur pemerintahan tradisional, adat dan lembaga keagamaan.

Selain itu juga, antropolog Niko de Jonge dan tos van dijk dengan karyanya tentang pulau-pulau yang terlupakan di Indoensia. Dimana, dalam penelitiannya mengupas cukup lengkap tentang kebudayaan di daerah Maluku Tenggara.

Selain itu juga, karya George Everadus Rumpius yang dijuluki ilmuwan Maluku, melakukan peneltian spesies tumbuhan dan kerang dan menerbitkan karya yang cukup populer D’Ambonsche Rariteitkamer pada tahun 1705.
Hasil penelitian ini memicu minat terhadap warisan budaya di Indonesia.

Pada tahun 1705, sarjana ini menerbitkan buku berjudul D’Amboinsche Rariteitkamer. Beberapa bagiannya menguraikan tentang temuan kuno seperti kapak batu, kapak perunggu, dan nekara (sejenis genderang) perunggu serta mitos-mitos yang ada dibalik benda-benda itu.

Sejak itu, banyak peminat benda-benda unik-antik mulai melakukan penelitian dan mengkoleksi tinggalan-tinggalan masa lampau, termasuk batu-batu candi dan benda-benda dari masa prasejarah. Bahkan, pada tahun 1778, berdirilah organisasi peminat dan peneliti benda seni dan antik yang diberi nama Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten enWetenschappen. Disinilah cikal bakal munculnya museum di Indonesia. (HIR)

Most Popular

To Top