Air Mameku – Ambon Ekspres
Pendidikan

Air Mameku

Natasya Virginia Leuwol (Desa Soya Kec. Sirimau)

Air Mameku merupakan, sebuah nama kali atau sungai yang pasti terdengar asing di telinga kita, tetapi nama air mameku sudah tidak asing lagi bagi warga desa yang bermukim di negeri Soya, tepatnya di dusun Kayu Putih RT  002 / RW 002 Kecamatan Sirimau Ambon.

Negeri Soya termasuk negeri yang tertua di Jazirah Leitimor dan terbentuk pada abad ke–13. Negeri Soya terletak di pinggir kota Ambon dengan puncak gunung Sirimau sebagai icon utama atau cikal bakal berdirinya kota Ambon.

Negeri ini berada pada ketinggian kurang lebih 464 dari permukaan laut. Untuk mencapai negeri Soya, kita dapat menggunakan kendaraan beroda dua maupun beroda empat dengan jarak 4 km dari kota Ambon. Adapun, di Negeri

Soya memiliki  banyak kali atau sungai yang mengalir seperti air Waipinang atau Air Raja, dan air Unuwey yang merupakan kali atau sungai adat tempat kegiatan upacara adat Negeri Soya yang dilakukan pada tiap tahunnya.

Selain itu ada Air kuning. Disebut Air Kuning karena air sungainya berwarna Kuning. Air Besar Ihuias, disebut Air Besar Ihuias karena kali atau sungai itu luas wilayahnya. Ada juga, kali atau sungai Wairanang. Nama kali atau sungai inilah yang namanya diabadikan untuk sanggar Wairanang negeri Soya.

Itu empat dari banyaknya kali atau sungai, yang terdapat di negeri Soya. Diantara banyaknya kali atau sungai yang disebutkan tadi,  ada satu kali atau sungai yang juga terdapat di negeri Soya yang dikenal dengan sebutan Air Mameku.

Air Mameku adalah kali atau sungai yang sumber mata airnya berasal dari mata air Soya, tepatnya dari dusun keluarga almarhum Yohanes Pattileuw. Sedangkan, letak Air Mameku tepatnya berada di dusun keluarga Almarhum Endek Soplanit. Kondisi geografis dari Air Mameku yaitu, airnya berwarna jernih, mengalir deras, terdapat batu-batu kecil dan batu-batu besar. Pasir kali yang lembut dan ditanami oleh beraneka ragam tumbuh-tumbuhan, seperti pohon Sagu, pohon Durian, pohon Salak, pohon Langsat dan sebagainya.

Air yang mengalir deras membuat masyarakat membuat pancuran dari pelepah bambu, atau dari pelepah pohon Sagu untuk mengatur curah air dengan baik.

Dahulu,  menurut cerita-cerita orang tua, Air Mameku adalah kali  atau sungai yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat sekitar. Nama Air Mameku sendiri bermula dari, aktifitas yang dilakukan oleh masyarat pada zaman dahulu. Mameku berasal dari dua buah kata,  yaitu “ Mama dan keku “.

Karena dahulu, sebagian besar masyarakat, khususnya perempuan  banyak melakukan kegiatan disitu. Oleh karena pada zaman dulu, di Negeri Soya sampai di dusun Kayu Putih, belum ada saluran air minum yang disalurkan di rumah-rumah  masyarakat, sehingga semua kebutuhan masyarakat diambil dari air kali atau air sungai.

Dahulu, Air Mameku sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat. Disitu banyak orang mencuci pakaian sambil duduk bercerita, ada pula  yang mandi dan mengambil air untuk masak dan, air minum, disitu keakraban antara mereka terjalin.

Tidak  hanya sampai disitu saja, di Air Mameku juga banyak terdapat udang dan morea serta, ikan-ikan kecil air tawar. Sehingga, dulu masyarakat banyak yang menangkap udang dengan  menggunakan bubu (alat penangkap udang dari bambu yang dianyam berbentuk kurungan kecil). Hasil tangkapan itu di bawah pulang untuk makanan bagi keluarga mereka.

Selain itu juga, pasir kali Air Mameku yang lembut banyak diambil oleh masyarakat  pada saat itu sebagai bahan untuk membangun rumah mereka, yang dilakukan  melalui proses gotong royong.

Masyarakat pada zaman dahulu, banyak yang masih memasak dengan mempergunakan kayu bakar sehingga mereka banyak yang mengambil kayu atau ranting-ranting pepohonan yang ada disekitar Air Mameku. Pada musim  buah di negeri Soya, khususnya buah durian, orang banyak yang bergadang untuk menunggu buah durian jatuh dari pohonnya. Buah durian dahulu sangat banyak buahnya, sehingga banyak yang buahnya jatuh didalam air Mameku.

Seperti namanya Air Mameku, yang berasal dari dua buah kata yaitu mama dan keku, sesungguhnya diambil dari gambaran aktifitas masyarakat zaman dulu yang diceritakan tadi. Dulu ibu atau perempuan sehabis mencuci pakaian harus ‘keku’ pakaian di atas kepala mereka untuk dibawa pulang ke rumah, keku air untuk air minum, keku kayu atau ranting-ranting pohon, keku buah-buahan di bakul, ada juga laki-laki yang pikul pasir, dan batu-batuan kecil untuk bahan bangunan rumah mereka. Dari aktivitas itulah, asal muasal nama Air Mameku.

Air Mameku dengan pesona alamnya, serta kehangatan masyarakat dengan beragam aktivitas yang dilakukan pada zaman dahulu, membuat kenangan yang mendalam. Mengapa disebut kenangan ? Karena  dengan berjalannya waktu serta, diimbangi dengan kemajuan teknologi dan pertambahan penduduk di negeri Soya terjadi perubahan aktifitas pola hidup masyarakat, sehingga  gambaran Air Mameku  dahulu menjadi tinggal kenangan semata.

Pertambahan masyarakat di negeri Soya disertai dengan kebutuhan manusia yang semakin meningkat, membuat terjadinya banyak perubahan-perubahan di lingkungan sosial masyarakat. Air yang merupakan,  kebutuhan pokok manusia terasa sangat penting, sehingga masyarakat di Negeri Soya mulai berupaya untuk saluran air masuk dari rumah ke rumah.

Saluran air minum diupayakan sendiri oleh masyarakat, dengan cara bergotong royong. Usaha ini pun, membuahkan hasil sehingga pada tahun 1976 saluran air minum mulai masuk dari rumah ke rumah. Dari perkembangan itulah, masyarakat mulai jarang beraktifitas di Air Mameku lagi.

Semua sudah dilakukan di rumah  masing-masing, baik itu mencuci dan memasak air. Orang  juga  sudah mulai memakai kompor untuk memasak, sehingga kebutuhan mencari kayu sudah jarang dilakukan lagi. Bahan membangun rumah saat ini, orang lebih memilih untuk membeli di kota dan memakai  jasa tukang untuk mengangkut sampai tiba di lokasi yang dituju.

Kegiatan menangkap udang, ikan dan morea juga hampir sudah tidak dilakukan lagi karena padatnya pekerjaan dan kegiatan yang masing-masing miliki. Perubahan-perubahan inilah yang membuat adanya pergeseran nilai didalam masyarakat. Masyarakat yang dulunya suka hidup bersama-sama, saat ini lebih banyak hidup perorangan (individual).

Perubahan ini juga dirasakan di Air Mameku. Air Mameku yang dulu ramai dikunjungi, sekarang menjadi sepi, sehingga kurang terawat seperti dulu lagi, walaupun keindahannya masih terlihat. Saat ini, Air Mameku dikunjungi hanya ketika saluran air mati atau, sedang mengalami kerusakan. Disitulah orang mulai kembali beraktivitas di Air Mameku, walaupun tidak semua orang melakukannya, karena  sebagian  masyarakat lebih memilih untuk membeli air saja dan mencoba bertahan sampai saluran air kembali lancar.

Ternyata, perkembangan zaman dan teknologi yang semakin modern, turut mempengaruhi perubahan pola pikir, sikap dan, perbuatan manusia. Walaupun, adanya perkembangan dan perubahan  zaman,  namun  pesona Air Mameku harus tetap dijaga dan dipelihara. Harapan yang terbesit di hatiku, sebagai keturunan  anak negeri Soya, seperti namanya “ Mameku “  yaitu “ mama keku “  artinya mencerminkan gambaran manusia Maluku yang harus terus bekerja keras, tidak  boleh malas,  dan berpangku tangan.

Aliran air yang jernih dan deras, tidak akan pernah berhenti artinya mencerminkan gambaran manusia Maluku harus memiliki hati yang lembut dan hati yang baik, walaupun dikenal orang memiliki  karakter yang  keras/ kasar. Pasir kali dan batu-batuan besar-kecil, artinya mencerminkan tantangan dan perjuangan kehidupan manusia Maluku,  untuk menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Beragam hasil alam lewat tumbuh-tumbuhan, ikan, udang dan, morea artinya mencerminkan gambaran manusia Maluku yang kaya akan potensi-potensi, hendaknya mampu memperkaya khazanah negeri seribu Pulau di mata Indonesia, dan di mata dunia Internasional.

Air Mameku, walaupun kau tersembunyi di balik negeri Soya, dan namamu tidak terlalu dikenal  orang  banyak, namun pesonamu akan selalu menjadi yang terdepan, itu janji kami anak negeri Soya. Ya, seperti ejaan nama negeri Soya yang berasal dari Portugis  “ ZOJA “ yang berarti “ berkata benar “. Oleh karena itu masyarakat negeri Soya harus selalu menjunjung nilai kebenaran dan kejujuran. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!