Apa Kabar Pendidikan di Bumi Maluku? – Ambon Ekspres
Pendidikan

Apa Kabar Pendidikan di Bumi Maluku?

Searra Oktaria Labetubun (Mahasiswa)

Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mendukung bagi kemajuan adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju atau tidak maju, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Apabila output dari proses pendidikan ini gagal maka sulit dibayangkan bagaimana dapat mencapai kemajuan.

Bagi suatu bangsa yang ingin maju, pendidikan harus dipandang sebagai sebuah kebutuhan sama halnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Seperti sandang, pangan, dan papan. Namun, sangat miris rasanya melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini.

Berbagai masalahpun timbul, mulai dari sarana yang tidak memadai, membengkaknya anak putus sekolah, kurikulum yang gonta-ganti, ketidakprofesionalan para pendidik, sampai kepribadian peserta didik yang jauh dari yang diharapkan.

Maluku memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah  baik dalam segi kelautan, perikanan, perkebunan, dan masih banyak lagi SDA yang ada di Maluku yang siap diolah. SDA yang melimpah inilah yang membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ketersediaan SDA yang melimpah tidak banyak menentukan kemajuan suatu masyarakat.

Faktor kualitas perorangan dan kelompok masyarakat itu sendiri yang menentukan kemajuan. Sehingga optimalisasi sumber daya manusia menjadi sangat penting, dengan ini hasil yang maksimal atas pemanfaatan sumber daya alam dapat tercapai. Dalam hal ini dunia pendidikan sangat penting.

Masalah terbesar yang ada di Maluku adalah terkait masalah pendidikan. Maluku memiliki wilayah yang sangat luas dan terdiri dari pulau-pulau sehingga banyak perbedaan budaya, adat istiadat, hingga kualitas pendidikan masing-masing daerah di Maluku.

Pendidikan yang seharusnya menjadi hak wajib bagi setiap warga negara Indonesia yang ada di Maluku hingga kini masih belum bisa dirasakan secara merata bagi warga Maluku.

Hal ini mengakibatkan menurunnya kualitas pendidikan dari tahun- ke tahun yang terjadi di Maluku. Jika kita mengungkit soal kualitas pendidikan secara nasional, bagaimana dengan kualitas pendidikan di Provinsi Maluku.

Kualitas pendidikan di Maluku memang sangat memprihatinkan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi (pt). Rendahnya kualitas pendidikan di negara ini bisa jadi karena masyarakatnya yang masih salah dalam memandang pendidikan, masyarakat kita masih memandang bahwa pendidikan hanyalah sebatas dan tidak lebih dari sarana untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, dalam bidang ekonomi maupun prestasi.

Kualitas pendidikan yang sangat memprihatinkan, mutu pendidikan yang rendah, kualitas pendidikan di Maluku jauh dari kata memuaskan, hal ini ditambah lagi dengan minimnya sarana dan prasarana pendidikan yang layak bagi setiap warganya.

Sistem pendidikan di Indonesia selalu masih disesuaikan dengan kondisi politik dan sistem birokrasi yang ada, padahal hal itu bukanlah masalah utama, yang terpenting adalah bagaimana bukti realisasi di kehidupan pendidikan yang nyata. Meski pemerintah menegaskan pendidikan di Maluku semakin membaik tapi pada kenyataan berbanding terbalik dengan fakta di lapangan.

Dalam realitas pendidikan di Maluku kita ketahui, di pulau-pulau kecil atau daerah pedalaman yang jauh dari ibukota propinsi ada banyak kualitas pendidikan yang belum memadai baik dari tenaga atau staff pengajar, gedung, perlengkapan mengajar, dan proses belajar-mengajar.

Ini membuktikan bahwa selama ini Pemerintah Kota  tidak melakukan pemetaan pendidikan baik untuk jenjang pendidikan SD, SMP maupun SMA. Daerah – daerah seperti pegunungan dan pulau-pulau  akses pendidikannya masih kurang, bahkan tidak ada, hal ini di sebabkan karena sarana transportasi  dan komunikasi yang sulit dan minim untuk menjangkau daerah–daerah tersebut.

Kualitas dan Mutu pendidikan Maluku sangat memprihatinkan di bandingkan propinsi – propinsi yang lain di Indonesia. Beberapa faktor yang menyebabkan dunia pendidikan di Maluku mundur disebabkan oleh berbagai persoalan dan fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan di negeri seribu pulau ini disebabkan oleh lemahnya fungsi kontrol, pengawasan serta monitoring Pemerintah Provinsi terhadap dunia pendidikan dan terjadi di hampir seluruh kabupaten di provinsi tercinta ini.

Dari beberapa artikel yang saya baca di internet, alokasi dana pendidikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) banyak disalahgunakan oleh para pengambil kebijakan (pemerintah).

Berbagai fakta diantaranya Kasus Korupsi Dana DAK bidang pendidikan Kabupaten Buru di tahun  anggaran 2007 sebesar Rp.10,75 milyar,  Kasus Korupsi dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) tahun 2008 senilai Rp 16 milyar,  Kasus Korupsi dana Alokasi khusus (DAK) Pendidikan Kabupaten MTB tahun 2011-2012 sekitar 7,42 Milyar, dugaan penyimpangan dana PLS Tahun 2010-2011 di Disdikpora Maluku, dan lain – lain. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan dan pembangunan pendidikan di Maluku lambat.

Dana yang seharusnya untuk meningkat pendidikan, membantu anak–anak yang miskin, dicuri oleh para pejabat yang dipilih oleh rakyat untuk mensejahterakan rakyat, tapi nyatanya mereka mensejahterakan diri mereka sendiri.
Keterbatasan infrastruktur (sarana dan Prasarana)

Banyak sekali bangunan sekolah yang dipakai untuk proses belajar mengajar pun masih tergolong rendah sehingga belum layak untuk dilakukan proses belajar mengajar. Di daerah terpencil bangunan yang tak layak dipakai masih digunakan untuk proses belajar mengajar.

Dari artikel yang saya baca SD Inpres Lateri-Kelas Jau Meu, jalan Trans Seram-Kabupaten Maluku Tengah, Kecamatan Amahai-Negeri Tamilouw.  Jarak Dusun Meu dengan Negri Tamilouw  sekitar 15 km dapat ditempuh dengan jalur darat.

Di dusun tersebut bangunan sekolah yang dipakai untuk proses belajar mengajar pun masih tergolong rendah sehingga belum layak untuk dilakukan proses belajar mengajar, ruangan kelas yang tidak memadai dan layak, fasilitas kursi dan meja yang juga tidak memadai, tenaga pengajar yang minim dan buku pelajaran yang digunakan berasal dari sumbangan donator atau guru beli sendiri.

Bayangkan sekolah tersebut terletak di Maluku Tengah yang notabene dekat dengan ibukota propinsi (Kota Ambon) bagaimana kondisi sekolah lain di daerah atau pulau yang jauh dari kota Ambon? (Maluku Utara dan Maluku Tenggara). Fasilitas di beberapa sekolah maupun kampus juga kurang dibandingkan dengan propinsi di luar Maluku.

Kualitas tenaga pendidikan di Maluku juga buruk, Uji Kompetensi Guru (UKG) yang dilaksanakan Provinsi Maluku tanggal 30 Juli 2012 menunjukan bahwa skor kompetensi guru di Maluku masuk peringkat  bawah dari 33 propinsi yang ada di Indonesia. Dalam praktek rekruitmen guru juga masih banyak di temui praktek KKN.

Dalam pendistribusian, kita harus mengakui bahwa selama ini pendidikan di daerah terpencil masih sangat tertinggal karena terbatasnya tenaga guru yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil. Ada daerah yang surplus tenaga gurunya, tapi di daerah lain justru minim.

Dunia pendidikan di Maluku hingga kini terbilang masih sangat jauh dari harapan. Minimnya sarana pendidikan dan sumber daya yang dimiliki menjadi salah satu penyebabnya. Atas kondisi tersebut, pemerintah diharapkan juga untuk memperhatikan daerah – daerah terpencil.

Hal ini ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat saja, semua lapisan masyarakat juga ikut berpartisipasi baik itu pemerintah daerah, kecamatan, kelurahan, masyarakat maupun instansi swasta turut membantu dalam membangun pendidikan di Maluku.

Dan yang khusus diperhatikan  yang berada di daerah terpencil, terluar dan terjauh yang hingga kini belum dapat tersentuh dengan baik. Dana pendidikan dari pemerintah pusat, digunakan dengan efektif dan bertanggung jawab.

Karena di luar sana banyak anak–anak yang putus sekolah disebabkan tidak ada dana untuk melanjutkan sekolah.
Pemerintah juga perlu membangun sekolah di setiap daerah terpencil dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.

Dan juga perlu dibangunnya akses internet, agar daerah tersebut bisa mengetahui informasi  dunia luar.  Pemerintah pusat mempunyai program  9 tahun wajib belajar, dan tugas pemerintah daerah  perlu merealisasikan dan memonitoring hal tersebut  tidak  hanya didaerah pusat saja tapi juga di daerah pelosok dan terpencil.

Pemerintah harus lebih peka melihat nasib anak-anak Maluku yang ada di pedalaman, untuk mengetahui permasalahan mereka maka perlu adanya observasi langsung dan mencari solusinya.

Pemerintah daerah juga harus meningkatkan mutu, kualitas dan standart pendidikan, pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pemberian pendidikan dan pelatihan bagi guru.

Guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam proses pembangunan bangsa karena guru mendidik calon generasi penerus bangsa. Guru merupakan ujung tombak untuk mencapai pendidikan yang bermutu, untuk itu mutu guru perlu ditingkatkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sekarang dan yang akan datang.

Upaya untuk meningkatkan kinerja guru bisa dilakukan dengan cara memberikan motivasi, memberi kegiatan pelatihan  untuk meningkatkan kualitas , memberikan insentif, memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir dan  meningkatkan kemampuan.

Pemerintah juga perlu mengawasi dalam perekrutan para tenaga pendidik agar tidak ada praktek KKN. Jadi, hanya guru yang yang memiliki kualitas dan yang memenuhi standar sebagai seorang pengajar yang di terima. Dalam hal pendistribusian guru juga perlu dipantau agar didaerah terpencil dan pelosok tidak kekurangan tenaga pengajar.

Dan yang terakhir Pemerintah perlu mencanangkan program “ Gemar Membaca”. Kata pepatah “membaca adalah jendela dunia” karena dengan membaca kita jadi tau semua hal yang sebelumnya kita tidak tahu.

Membaca apapun mulai dari buku pelajaran, novel, cerita, koran,majalah, artikel atau apapun semuanya pasti ada manfaatnya walau tidak secara langsung kita merasakannya.

Membaca adalah salah satu proses yang sangat penting untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan.  Sebuah bangsa yang besar atau maju, sebagian besar masyarakatnya mempunyai budaya gemar membaca. Dengan membaca maka seseorang akan bebas dari kebodohan yang berakibat kemiskinan baik ilmu ataupun harta, tidak mudah untuk ditipu (karena mempunyai banyak sumber informasi), serta memiliki wawasan dalam segala bidang.

Program ini perlu direalisasikan untuk semua lapisan  golongan masyarakat. Tidak ada kata “terlambat”  untuk mau belajar. Maju terus Generasi Muda Maluku !!! (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!