Ancaman Kelaparan, di “Lautan” Emas – Ambon Ekspres
Trending

Ancaman Kelaparan, di “Lautan” Emas

AMBON,AE— Eksplorasi dan eksploitasi tambang emas di pulau Romang, Maluku Barat Daya oleh PT Gemala Borneo Utama (GBU) bukan saja berdampak terhadap lingkungan hidup, namun kesejahteraan masyarakat juga tidak terjamin. Bahkan saat ini, masyarakat terancam kelaparan akibat kerusakan tanaman dan kekurangan air bersih.

Fakta ini ditemukan dari penelitian lapangan yang dilakukan sejumlah Mahasisa asal Pulau Romang, 19 sampai 25 Februari lalu di Desa Hila. Selama 4 hari mereka mendatangi warga dari rumah ke rumah (door to door) untuk mengorek informasi. Dua hari sisanya, turun ke lokasi pengeboran dan menggelar pertemuan dengan seluru warga Desa Hila.

Ketua Mahasiswa Romang Caken Ishack Knyarlai mengungkapkan, sebanyak 85 persen warga yang didatangi mengaku telah resah dengan keberadaan perusahaan yang berpusat di Austalia itu. Sementara masyarakat yang tidak menolak pengoperasian PT GBU, diduga telah berafiliasi dengan Kepala Desa Hila, Librek Johans untuk mendukung PT GBU yang telah beroperasi sejak 2006.

“Memang dari penjelasan warga, ada intervensi dan tekanan yang kuat dari kepala desa agar tidak melawan,”kata Isack yang juga warga Jerusu, Desa tetangga Hila ini kepada Ambon Ekspres, Selasa (3/3). Dia mengaku, saat ini masyarakat Hila juga kesusahan air bersih.

Rata-rata alasan masyarakat menolak PT GBU sebab mempersempit lahan bercocok tanam. Hal ini, karena di Pulau Romang berlaku adat penggunaan lahan berdasarkan luas wilayah suatu mata rumah. Warga mata rumah lain tidak bisa mencari makan atau bercocok tanam di wilayah kekuasaan mata rumah lainnya.

Alasan lainnya, soal akibat jangka panjang terhadap tanaman warga yang rusak oleh aktifitas eksplorasi dan eksploitasi. Masalah berikut yang menjadi alasan warga adalah keberadaan 3 mata bor (lubang bekas pemboran) mengeluarkan bau busuk karena lumpur dan juga zat bahan kimia yang digunakan.

“Memang pihak perusahaan menutupinya dengan semen, namun baunya tetap tercium dan menganggu kesehatan warga yang ada di rumah kebun mereka saat melakukan aktifitas pertanian,”beber Isack.

Dia melanjutkan, kelompoknya tidak hanya meminta tanggapan dan pernyataan warga dalam bentuk kuesioner, namun mendatangi langsung lokasi pengobaran tanah yang dilakukan PT GBU. Mereka mendapati kondisi hutan yang telah rusak akibat aktifitas pegeboran menggunakan zat kimia.

Fakta lain yang ditemui yakni matinya pohon Cengkeh milik warga yang berada di lokasi pertambangan emas. Kemudian, pengeboran yang seharusnya dilakukan dengan jarak antara 40-100 meter berdasarkan Undang-Undang Pertambangan, tidak diindahkan PT GBU, yakni melakukannya dengan jarak 1-5 meter saja.

Dijelaskan, hasil penelitian juga ditemukan pemasangan kabel listrik (kabel telanjang) oleh pihak PT GBU. Kabel-kabel tersebut dijalarkan untuk mendeteksi lokasi kadar emas. Masyarakat Hila, kata Isack, menduga salah satu penyebab matinya pohon cengkeh berawal dari kegiatan yang dinamakan proses IP.

Hasil penelitian itu, juga ditemukan informasi dari salah satu staf Humas PT GBU, bahwa berdasarkan penelitian PT GBU, terdapat 18.000 ton emas dan 13.000 ton Mangan (Tembaga) yang ada di kawasan Desa Hila. Kandungan emas ini yang akan dieksploitasi oleh PT GBU.

Dari data yang dikumpulkan, wilayah yang dijadikan lokasi pertambangan notabanenya hampir 90 persen merupakan lahan tanaman Cengkeh, Pala Super, Kelapa, Madu dan tanaman lainnya. Kalau wilayah itu dijadikan lokasi penambangan emas, dalam hal produksi, maka sangat dipastikan masyarakat akan sulit untuk mencari penghidupan.

Ento Paulus, salah satu mahasiswa Romang yang ikut dalam penelitian mengatakan, dalam sebuah pertemuan bersama yang dilakukan di Desa Hila, warga mengaku tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan yang disampaikan ke PT GBU soal pemberdayaan, kesehatan dan pendidikan masyarakat sekitar lokasi eksplorasi.

Keluhan lainnya soal janji pembangunan jalan trans Romang yang sampai sekarang belum dilakukan. Padahal pengukurannya sejak 2011. Warga punya harapan besar untuk bisa melancarkan aktifitas perekonomian setelah jalan tersebut di bangun.

Meski masih terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat Hila, namun sekitar 85 persen masyarakat Hila sudah membuat komitmen untuk menolak kelanjutan kegiatan eksplorasi emas PT GBU. Masyarakat, lanjut dia, mendapatkan tekanan dari kepala desa setempat untuk tidak melakukan perlawanan dan mendukung kelanjutan eksploitasi hutan.

“Tetapi setelah kami memberikan pemahaman soal hak mereka diatas tanah adat, sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi nomor 35/2012 tentang hak masyarakat didalam hutan adat, barulah mereka mengerti dan kembali melawan,”sebutnya.

Tokoh masyarakat Romang, Oyang Orlando Petrus saat dikonfirmasi mengakui fakta PT GBU tersebut. Selama hampir 10 tahun melakukan penelitian dan eksploitasi, tanah di Desa Hila sudah rusak dan berpengaruh terhadap kesuburan tanaman masyarakat.

Dia melanjutkan, apabila merujuk pada Undang-Undang nomor 27/2007 tentang Perikanan dan Palau-Pulau Kecil, sangat tidak layak kegiatan eksplorasi dan produksi tambang emas dilakukan di Pulau Romang. Dalam UU disebutkan, wilayah pulau-pulau kecil adalah wailayah dengan luas kurang dari 18 kilometer yang tidak diperbolehkan aktifitas pertambangan.

“Bukan hanya Romang, tapi pulau-pulau kecil lainnya yang ada di sekitar Romang juga ikut terendam. Apalagi kalau benar ada 18 ribu ton emas yang mau dieksploitasi PT GBU, maka hancurlah pulau ini,”kata Orlando.

Orlando meragukan jaminan kesejahteraan yang dijanjikan PT GBU buat masyarakat. Olehnya itu, kata dia, masyarakat pulau Romang siap jadi tameng untuk menolak keberlanjutan kegiatan penambangan PT GBU.

“Masyarakat Romang siap menjadi tameng untuk melawan perusahaan jika terus melakukan kegiatan eksploitasi. Masyarakat saat ini terancam kelaparan sebab tanah mereka sudah mulai rusak,” tegasnya. (TAB)

Most Popular

To Top