Sandana Membantah, Jaksa pun Membantah – Ambon Ekspres
Trending

Sandana Membantah, Jaksa pun Membantah

Soal Tudingan Sura, dan Pemeriksaan

AMBON, AE— Terpidana kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) Fredy Sandana, mengaku tidak pernah memberikan uang sebesar Rp 1 Miliar kepada Bupati MTB, Bitzael Temmar. Kejaksaan Negeri Saumlaki, juga menampik telah memeriksa kembali Fransiskus Sura terkait korupsi DAK.

Sebelumnya, terpidana mantan Kadispora MTB, Fransiskus Sura, mengatakan Fredy Sandana memberikan uang sebesar Rp 1 Miliar kepada Bitzael Temmar. Namun, Sandana yang telah dihukum 3 tahun 6 bulan oleh majelis hakim PN Tipikor Ambon dalam kasus DAK ini, membantah tuduhan tersebut.

“Ini pernyataan yang tidak benar. Saya tidak pernah mengatakan kepada Fransiskus Sura, kalau saya memberikan uang Rp 1 Miliar kepada Bupati MTB Bitzael Temmar,” ungkap Sura kepada koran ini lewat hak jawabnya Senin kemarin.

Sandana mengatakan, pernyataan yang diberikan oleh Sura, merupakan pernyataan tanpa bukti. Karena menurutnya, jika ingin memberikan keterangan-keterangan seperti itu, seharusnya diungkap dalam persidangan.

“Selama penyidikan maupun kasus itu sudah berjalan di Pengadilan, tidak pernah ada keterangan yang dikatakan Sura mengenai hal ini. Nanti sudah sampai pada pembelaan, barulah dijelaskan seperti itu.

Dan hal itu, menurutnya tidak rasional untuk dijadikan pertimbangan hukum. Seharusnya, keterangan itu dibeberkan dalam BAP maupun persidangan ketika pemeriksaan saksi-saksi, “beber Sandana.

Direktur CV Haluan Mandiri ini mengatakan, ketika dirinya menghubungi Sura untuk mempertanyakan keterangan Sura yang dimuat Koran ini Ekspres edisi Selasa (3/3), Sura seakan menghindar. Bahkan ketika Sandana menghubungi Sura melalui pesan singkat/SMS, Sura membalas dengan jawaban seakan-akan menyangkal keterangannya itu.

“Saya hubungi Sura, tetapi tidak pernah angkat telepon. Saya SMS mempertanyakan keterangannya yang menjelaskan kalau saya kasih uang Rp 1 Miliar kepada Bupati, Sura balas SMS saya begini: (Mat pagi juga pak, kalau soal transfer uang itu tidak. Tapi hanya pak Fredy bilang memberi uang ke beliau (Temmar-red) itu ya. Soal jumlah sebenarnya bukan 1 Miliar tapi seingat saya Rp800 juta, itu pak pernah sampaikan ke saya. jadi pernyataan itu kurang tepat, tks). begitu bunyi balasan SMS dari Sura, “kata Sandana seraya menunjuk pesan singkat Sura.

Sandana mempertanyakan tujuan Sura yang memberikan keterangan palsu. Karena menurut Sandana, Sura hanya memberikan opini seakan-akan apa yang disampaikan soal dana Rp1 miliar adalah fakta, anehnya tidak bisa dibuktikan.

Sandana, menolak ikut dalam permainan Sura. Dia lebih memilih fokus untuk menjalani masa hukuman yang telah dijatuhi atas dirinya. “Jadi saya tidak ingin berbicara panjang lebar. Inti dari semua ini, saya tidak ingin terlibat dalam masalah apapun lagi. Saya hanya fokus untuk menjalani masa hukuman saya jika dieksekusi nantinya, “tandasnya.

Terpisah, pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Saumlaki ketika dikonfirmasi mengenai penanganan kasus ini, Kasi Intel Kejari Saumlaki, Wahyu Wibowo, mengatakan bahwa pihaknya belum pernah menerima rekomendasi untuk menangani kasus DAK MTB 2010. Bahkan, secara resmi, rekomendasi itu belum diterima pihaknya.

“Jadi, terkait dengan penanganan kasus DAK, secara resmi kami belum tangani. Memang hanya sekedar pemberitahuan, tetapi secara resmi, kami belum terima rekomendasi untuk tangani. Karena dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku belum kirimkan surat kepada kami untuk mengambil alih kasus DAK MTB, “ungkap Wibowo kepada koran ini.

Ditanyakan mengenai pemeriksaan terhadap Fransiskus Sura, Wibowo mengatakan bahwa itu bukan pemeriksaan. Namun lebih tepatnya, hanya mewawancarai mengenai Pledoi Sura. Juga, lanjutnya, mempertanyakan bukti-bukti soal tembusan laporan yang dilayangkan Sura ke Kejaksaan Agung (Kejagung).

“Jadi pak sura diwawancarai terkait dengan laporannya ke Kejagung itu. Kan kita juga terima tembusannya. itu masih sekedar Pulbaket, tetapi bukan untuk kasus DAK. Nah, Sura mengatakan bahwa akan memberikan bukti-bukti yang dimilikinya. Hingga saat ini kami masih tunggu bukti-bukti itu,” jelasnya.

Wibowo menambahkan, Kejari Saumlaki akan bekerja secara profesional, sesuai mekanisme dan aturan dalam undang-undang. Sehingga, dalam menangani suatu kasus dugaan korupsi, tidak akan ada tebang pilih dalam menjerat pelaku korupsi. (AFI)

Most Popular

To Top