Batmomolin Diancam Hukuman Mati – Ambon Ekspres
Trending

Batmomolin Diancam Hukuman Mati

AMBON,AE— Sidang kasus pembunuhan Hilda Natalia Leuwol alias Nita, dengan terdakwa Buce Erasmus Batmomolin, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Kamis (5/3). Batmomolin, dijerat dengan pasal 340 KHUP, dengan ancaman maksimal hukuman mati, hukuman seumur hidup, atau kurungan penjara selama 20 tahun.

Sidang yang dipimpin hakim ketua Lilik Nurainy SH, didampingi hakim anggota RA Didi Ismiatun SH dan Aleks Pasaribu SH, berlangsung dengan agenda pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Berthi Tenate SH. Selama menjalani persidangan, terdakwa hadir menggunakan kemeja berwarna putih, dilapisi rompi orange yang bertuliskan Tahanan Kejaksaan Negeri Ambon.

Ada yang berbeda terhadap sidang terdakwa Buce Erasmus Batmomolin. Memasuki ruangan sidang, terdakwa dikawal ketat oleh beberapa jaksa. Selain itu, terdakwa juga masuk ke ruang sidang, melalui pintu yang hanya bisa dilalui oleh ketua majelis hakim untuk ke ruang sidang.

Terdakwa hadir didampingi kuasa hukumnya Hendrik Lesikoy cs. Selama sidang, terdakwa tampak tenang sambil memegang dakwaan. Sementara ruang sidang, dipenuhi puluhan pengunjung yang hendak mengikuti persidangan itu. Para pengunjung sidang tampak serius mendengar kata per kata,baik dari JPU maupun majelis hakim.

Dalam dakwaannya, JPU membeberkan kejadian tewasnya Leuwol bermula pada hari Sabtu tanggal 8 Maret 2014. Ketika itu pukul 14.00 wit, terdakwa bersama korban pulang dari tempat kerja, Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) di Nania, menuju rumah terdakwa, di BTN Waitatiri.

Sampai di rumah terdakwa, mereka bertemu dengan Djidon Batmomolin yang tidak lain adalah ayah terdakwa, beserta tiga adik terdakwa, masing-masing Viona Batmomolin, Alvino Batmomolin dan Alvido Batmomolin. Selanjutnya terdakwa bersama korban masuk kedalam kamar dan beristirahat. Berselang beberapa menit, Djidon Batmomolin memanggil terdakwa dan korban untuk makan.

“Pada pukul 16.00 Wit, Djidon Batmomolin bersama Viona Batmomolin pergi menuju Desa Hatu. Setelah beberapa menit, Jil Meyer mendatangi rumah terdakwa untuk meminta obat. Namun sesampainya Jil didepan rumah terdakwa, langsung mendengar suara teriakan korban yang meminta tolong, “ tutur JPU, Berthi Tenate saat membaca dakwaannya.

Ketika saksi Jil mendengar teriakan itu, saksi merasa takut sehingga kembali ke rumahnya. berselang 30 menit sebelumnya, ada tiga orang yang berprofesi sebagai penjual ikan, yakni Meri Wasarr, Welmince Parinusa dan Robeka Bakarbessy. Ketiganya berjalan di depan rumah terdakwa, mereka mendengar suara teriakan perempuan yang meminta tolong sebanyak dua kali dari dalam kamar rumah terdakwa.

Mendengar teriakan itu, ketiga penjual ikan itu duduk di bawah pohon nangka didekat rumah terdakwa. Berselang beberapa menit, datang kembali Jil Meyer untuk meminta obat. “Saat itu, saksi Jil, dan ketiga saksi penjual ikan mendengar teriakan ‘tolong-tolong Buce mau bunuh beta,’’ucap JPU.

Mendengar teriakan itu, Jil kemudian memanggil temannya Livya Polway, yang berada di kios, di kawasan BTN Waitatiri. Saksi Jil dan Livia menuju rumah terdakwa. Sampai disana, mereka masih mendengar teriakan meminta tolong.

Jil memanggil terdakwa sebanyak tiga kali, namun tidak ada respon dari terdakwa. Kemudian, Robeka, salah satu penjual ikan, bertanya kepada Jil. “Siapa yang berteriak meminta tolong.” Jil menjawab, “Laki-laki bernama Buce, sementara perempuan bernama Nita. ”Beberapa menit kemudian, semuanya pergi meninggalkan tempat itu.

Selasa, (11/03/2014), Djidon Batmomolin menerima informasi dari anggota Polsek Salahutu, tentang ditemukannya jenazah yang tidak lain adalah Hilda Natalia Leuwol.

Tanggal 26 Maret, ketika penyidik Polres P.P Ambon dan Lease menggeledah rumah terdakwa, ditemukan sejumlah bercak darah. Diantaranya, di lantai dibawah tempat tidur, pada daun pintu lemari kayu, pada permukaan rak TV dan pada tembok dinding kamar.

Selain itu, penyidik juga menemukan satu gunting, satu buah martil/palu yang ada bercak darah. Barang bukti tersebut diamankan setelah disita dari saksi Djidon Batmomolin. Barang bukti berupa bercak darah dianalisis oleh Puslabfor Polri Cabang Surabaya, ditemukan fakta kematian korban.

Barang bukti berupa darah kerikan dengan martil, dinyatakan positif darah manusia bergolongan A milik korban. Serta, golongan darah itu mempunya profil DNA sama dengan orang tua korban, dengan profabilitas 99,99%.

Perkiraan waktu kematian korban, menurut hasil pemeriksaan, berkisar antara tujuh puluh dua sampai sembilan puluh jam, terhitung mundur saat dilakukan otopsi. Akibat perbuatan tersebut, terdakwa dijerat dengan pasal berlapis diantaranya, pasal 340, Pasal 388 dan Pasal 351 ayat (3) KUH Pidana.
(AFI)

Most Popular

To Top