Operasi Subuh, Ringkus Kelompok Provokator – Ambon Ekspres
Trending

Operasi Subuh, Ringkus Kelompok Provokator

Polisi Kejar “Pemain” di Leihitu, Haruku, Saparua

AMBON, AE— Dua DPO Polisi yang selama ini melakukan aksi provokasi di beberapa desa di Kecamatan Saparua, Kabupaten  Maluku Tengah, diringkus aparat keamanan. SS (31) dan AM (29) digelandang ke Polres Pulau Ambon dan PP Lease dengan wajah tertutup, dan telanjang badan.

Keduanya ditangkap dalam operasi pencarian yang dilakukan Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, dibantu BKO Brimob dan TNI. Dua orang ini diduga terlibat dalam sejumlah rentetan aksi kekerasan, baik itu yang digunakan secara fisik maupun dengan benda tajam serta aksi penembakan terhadap sebuah rumah warga di desa Siri-Sori Amalatu.

Kapolres Pulau Ambon dan Pp Lease, Ajun Komisaris Besar Polisi Komaruz Zaman kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis siang menjelaskan, penangkapan SS dan AM, atas sejumlah laporan kasus kekerasan yang terjadi sejak tahun 2012 lalu di Kecamatan Saparua, yang dilakukan oleh kelompok dari kedua pelaku.

Dari fakta itu, polisi kemudian melakukan pengembangan hingga menemukan kedua terduga pelaku, di dua tempat yang berbeda. “Alhamdulillah dari hasil pengembangan setelah LP, baik yang ada di kita, Polsek Saparua, hingga Polda, kita buka ternyata ada beberapa rangkaian tindakan yang kelompok ini lakukan sejak 2012,” ungkap dia.

SS diamankan disalah satu rumah warga yang berada di Desa Sirisori Amalatu, sekira pukul 06.25 Wit Kamis, (5/3) pagi. Sedangkan AM ini ditangkap di Kota Masohi, sekira pukul 09.30 Wit, juga pada Kamis pagi aparat kepolisian dari Polres Malteng yang dibantu anggota TNI.

Untuk SS, kata mantan Kapolres Pulau Buru ini, pasukan mulai bergerak sekitar pukul 03.00 Wit Kamis pagi dini hari. Polisi lantas mengepung sebuah rumah warga yang terletak di desa tersebut. Saat penggerebekan, rumah itu dihuni oleh tiga orang. Dua orang berhasil kabur.

“pasukan ada sekitar 30 orang gabungan dari TNI/Polri, yang dipimpin langsung oleh Kapolsek Saparua, Kompol Josias Saija. Saat penangkapan itu dua pelaku berhasil kabur hingga kemudian kami berhasil mengamankan SS. Saat dilakukan penggerebakan tidak ada perlawanan dari mereka dan tidak ditemukan senpi maupun benda berbahaya,” katanya.

SS setelah diamankan dari tempat persembunyiannya langsung digelandang dari pulau Saparua, dengan menggunakan spead boat menuju pelabuhan Tulehu, dengan pengawalan ekstra ketat dari anggota Brimob maupun anggota Polsek Saparua, yang dipimpin langsung oleh kapolsek.

Saat tiba di pelabuhan Tulehu, SS yang dikawal ketat itu kemudian diangkut dengan menggunakan mobil dinas Kabag Opersiaonal Polres Ambon, yang telah disiapkan untuk menjemput SS. Dari pelabuhan Tulehu, SS kemudian menuju Polres Ambon.

Saat tiba, SS yang tangannya diborgol dan kakinya diikat serta kepalanya ditutupi dengan baju kaus hijau ini, langsung dijebloskan kesalah satu ruang penyidik guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Sementara AM, Kata Kapolres kini masih diamankan di Mapolres Masohi, sebelum akhirnya akan diserahkan ke Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, untuk diproses. “AM itu diamankan oleh Polres Malteng. Dan sementara kita masih melakukan pencocokan dengan DPO, yang kita kejar ini. Kalau cocok kita maka kita berkoordinasi dengan Polres Malteng untuk segera dikembalikan kepada kami,” ujarnya.

Saat disinggung soal tindakan kekerasan apa saja yang dilakukan oleh kelompok tersebut, perwira utama Polres Ambon ini mengaku, kekerasan dilakukan sejak 2012 silam. Kegiatan mereka lakukan itu, mulai dari tindakan kekerasan terhadap warga kemudian aksi pembacokan, yang terjadi di Saparua.

Sementara untuk keterkaitan dengan insiden penembakan terhadap salah seorang warga Siri-Sori Islam beberapa waktu lalu, Zaman mengaku pihaknya masih melakukan penyelidikan.

“Kelompok mereka ini yang kami kejar dan akan kami basmi. Untuk penembakan itu sementara kami dalami keterkaitan dengan mereka. Tetapi mereka ini terlibat dalam aksi-aksi yang terjadi di Saparua itu,” ujarnya.

Perwira asal brimob itu menegaskan, hingga saat ini pihaknya masih fokus mengungkap dan menuntaskan kelompok yang selama ini melakukan tindakan gangguan keamanan baik itu di Saparua, Haruku hingga di Leihitu.

“Ada beberapa kelompok yang selalu bermain untuk mengganggu situasi keamanan baik di wilayah Haruku, Saparua, dan Leihitu. Dan itu yang sementara menjadi fokus utama kami di Tahun 2015, untuk membasmi mereka. Mereka bermain karena kepentingan dan ekonomi. Mereka tidak mau yang lain itu hidup enak,” terangnya.

Soal maraknya peredaran senpi yang berada di tangan warga termasuk yang berada di tangan para kelompok ini, kapolres menambahkan pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menuntaskan hal tersebut.

“Enak saja polisi maupun tentara pegang senjata saja harus tes phisikologi baru bisa megang. Kok masyarakat mau seenaknya, kami akan tumpaskan itu. Saya masih membuka ruang untuk mereka datang dan menyerahkan diri serta senjata yang dimiliki itu dengan baik. Tetapi jika masih saja seperti ini ketika ditemukan dan mau melawan saya perintahkan tembak ditempat,”tegasnya.

Soal ada keterkaitan antara insiden yang terjadi di tiga wilayah berbeda akibat dari aksi kelompok itu, pria dengan dua melati dipundaknya itu berjanji akan terus berupaya untuk menghilangkan citra soal insiden yang terjadi baik di Saparua, Haruku maupun Leihitu, adalah sebuah rangkaian yang ada keterkaitnya dan itu merupakan sebuah kegiatan rutin ketika terjadi insiden tersebut.

“Jangan lagi ada yang mengatakan setelah Saparua, nanti Haruku setelah itu Leihitu. Saya tidak mau dengar lagi itu. Maluku ini sudah aman bukan seperti dulu. Dan bukan seperti yang dipikirkan kelompok-kelompok ini. Yang pastinya saya belum bisa buka lebih jauh, karena kami masih terus bekerja, jika sudah ada pasti kami buka biar semua orang tahu,” tutupnya.
(AHA)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!