Polisi Urai Jaringan Provokator – Ambon Ekspres
Trending

Polisi Urai Jaringan Provokator

AMBON , AE— Paska penangkapan terhadap dua orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO), terkait sejumlah kasus dan tindakan kriminal, polisi terus mengejar sejumlah orang yang diduga terlibat serentetan aksi provokasi, termasuk mengurai jaringan ini.

Kepala Subag Humas Polres Pulau Ambon dan Pp Lease, Inspektur Polisi Satu Meity Jacobus, kepada Ambon Ekspres, di Mapolres Ambon Jumat kemarin menjelaskan, hingga kini pihaknya masih terus melakukan penyelidikan mengungkap motif utama dibalik aksi para terduga kelompok yang sering mengganggu situasi keamanan ini.

“Kita terus mengorek keterangan mengungkap motif utama selain dari faktor kepentingan dan ekonomi yang membuat mereka (kelompok red) sering melakukan aksi-aksi itu,” katanya.

Menurut perwira pertama Polres itu, polisi masih terus mengejar sejumlah orang yang sudah teridentifikasi ikut main dalam konflik di beberapa daerah, baik di Kecamatan Leihitu, Kecamatan Haruku, maupun Kecamatan Saparua. Tiga kecamatan ini, berada di Kabupaten Maluku Tengah.

“Kami akan usahakan itu hingga mereka harus ketangkap. Tidak ada alasan bagi mereka untuk hidup senaknya saja. Kami akan kejar hingga ditemukan karena itu tugas dan tanggungjawab polisi,” tegas dia.

Mantan kanit lakalantas itu, mengaku polisi masih fokus menuntaskan terduga kelompok yang sering mengganggu situasi keamanan di pulau Saparua itu.

Disinggung soal keterkaitan antara kelompok tersebut dengan beberapa insiden di Haruku mapun Leihitu, dirinya mengaku belum bisa memastikan hal tersebut. Sementara ini baru bisa diketahui kelompok yang diamankan itu diduga melakukan aksi mereka di Saparua.

“Kalau soal keterkaitan itu kami belum bisa buka lebih jauh. Apakah ya atau tidak, karena kami masih melakukan pengembangan untuk memastikan hal itu. Tetapi dugaan sementara itu masih di seputaran Saparua, sementara Leihutu dan Haruku juga masih terus kita dalami dan itulah yang belum saatnya dibuka kepada publik,” jelasnya.

Dari hasil penyelidikan sementara, aksi mereka, ada secara individu maupun secara berkelompok. “Itu sifatnya sementara tergantung kondisi, tetapi ini kelihatanya kelompok kalau faktor ekonomi ya, tetapi masih dikembangkan,” terangnya.

Soal lokasi persembunyian dari kelompok tersesebut Jacobus, mengaku belum bisa dibuka lebih jauh. “Nantilah jika semuanya sudah iya, baru kita buka. Ditakutkan jangan sampai ketika di buka mereka-mereka (Kelompok) ini menghilang. Jadi sabar karena kami masih terus bekerja dan berupaya untuk membasmi mereka,” tutupnya.

Sementara itu, Kaur Operasional Satreskrim Polres Ambon, Inspektur Polisi Satu Izack Salamor, mengaku dari hasil penyelidikan sementara SS maupun AM ini merupakan dua orang dari kelompok yang terlibat dalam aksi kekerasan di Saparua.

“Dugaan sementara ini terlibat aksi pembacokan sasabone, pencurian dan penjaran terhadap toko di Saparua, kemudian aksi penembakan terhadap rumah warga di Sirisori Amalatu, kemudian aksi pembacokan, yang setiap kali kejadian di sebut OTK, ternyata dugaan kita inilah kelompoknya,” paparnya.

Untuk keterlibatan maupun keterkaitan dengan insiden di Haruku maupun Leihitu, Salamor yang merupakan penyidik senior di Polres Ambon itu, menambahkan pihaknya masih mendalami hal tersebut dari kedua pelaku yang diamankan. “Kita sementara kembangkan keterkaitan dan keterlibatan mereka, tetapi pelaku mengaku sementara di Saparua aja,” katanya.

Lebih lanjut kata Salamor, pihaknya masih terus mengejar para pelaku yang belum tertangkap dan menelusuri dugaan keterlibatan mereka dalam penembakan-penembakan yang terjadi di wilayah Saparua, sementara belum mempunyai bukti kuat untuk Menjerat meraka atas persoalan itu.

“Sementara sudah tiga saksi diperiksa dalam kasus ini. untuk itu, SS dijerat dengan pasal 170 jonto Pasal 451 ayat (1) dan atau Pasal 351 Ayat (2). ”Hukuman penjara lima tahun enam bulan,” kuncinya.(AHA)

Most Popular

To Top