Kedai Baca sebagai Konsep Perpustakaan – Ambon Ekspres
Pendidikan

Kedai Baca sebagai Konsep Perpustakaan

Gerakan Maluku Gemar Membaca (GMGM) telah  diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan, Januari 2015 kemarin. Namun hingga kini, GMGM justru belum kelihatan realisasinya sampai ke masyarakat. Karena itu, Pemerintah Maluku dapat merealisikan gerakan ini dengan penyediaan sarana dan prasarana penunjang GMGM.

‘’Bagaimana mungkin ada gerakan gemar membaca tanpa ada fasilitas yang tersedia. Mendorong semangat membaca tidak bisa hanya dengan sebuah program tanpa didukung dengan ketersediaan fasilitas penunjang,’’ ingat akademis asal Unpatti, Mohamad Borut S.Sos saat berbincang dengan Koran ini, kemarin.

Pengelola Perpustakaan Keliling dalam Program Rekosiliasi Perpustakaan Maluku tahun 2002-2014 ini mengingatkan, bicara tentang membaca tidak cukup dengan ada perpustakaan di sekolah- sekolah atau perpustakaan wilayah.

Apalagi kondisi masyarakat Maluku yang belum memiliki animo yang cukup tetang membaca. Ini, kata dia, merupakan sebuah kendala bagi GMGM. ‘’Karena itu semestinya ada skenario yang dilakukan agar dapat menarik minat masyarakat khususnya pemuda, pelajar dan mahasiswa untuk dapat memfokuskan diri dengan membaca,’’ ingat dosen FISIP Unpatti ini.

Skenario, ingatnya, penting dilakukan dan bila dibiarkan maka GMGM tidak akan memberikan sesuatu manfaat bagi masyarakat, apalagi bagaimana mengajak untuk menulis karena menulis mestinya dimulai dengan membaca, karena dengan banyak membaca seseorang dapat melakukan sebuah karya penulisan yang baik.

Tulisan yang memiliki kualitas dan dapat diterima adalah karya tulis yang dilakukan melalui kajian–kajian teoritis dan ilmiah, dan hal ini hanya dapat terwujud dengan banyak membaca buku–buku dan litelatur. Di Maluku khususnya Kota Ambon, tersedia sumber daya manusia (SDM) yang cukup, akan tetapi berapa banyak orang yang memiliki keinginan menulis, baik melalui opini di media–media cetak apalagi sampai pada tingkat menulis sebuah buku. Ini karena kurangnya minat membaca.

Padahal, lanjutnya, membaca tidak bisa mengharapkan partisipasi guru dan dosen di sekolah atau di kampus, orang tua di rumah pun tidak dapat secara maksimal mendidik anaknya agar rajin membaca.

Oleh karenanya pemerintah memiliki peran penting. ‘’Jika menghendaki budaya baca merupakan hal penting bagi pengembangan masyarakat yang bermartabad, maka sudah saatnya melalui program GMGM ini menyediakan sebanyak mungkin ruang–ruang baca dengan sebuah konsep yang dapat menarik dan memancing animo orang agar mau meluangkan waktu datang ke tempat – tempat yang telah disediakan untuk membaca walaupun hanya sejenak,’’ ungkap dia.

Meneger Program Recovery Maluku pada Yayasan Pelangi Maluku ini berpendapat, Maluku khususnya di Ambon ada beberapa sekmen yang dapat dilakukan sebagai strategi untuk menarik orang membaca, seperti Warung Kopi di Kota Ambon. Diskusi warung kopi sudah menjadi rutinitas berbagai elemen masyarakat mulai dari buruh, pegawai dari golongan paling rendah hingga pejabat, politisi, pengusaha, aktifis dan mahasiswa.

‘’Bila pemerintah serius, dapat dibuat kedai baca atau warung kopi dengan konsep perpustakaan. Para penikmat kopi datang tidak sekedar menikmati kopi, tapi juga memanfaatkan waktu untuk membaca berbagai buku dan literature yang tersedia di warung kopi,’’ terangnya.

Begitupun di tempat keramaian atau pusat perbelanjaan, dapat didesain ruang istirahat atau ruang tunggu keluarga dengan konsep taman bacaan atau ruang bermain anak. Tentu tersedia pula minuman dan makanan ringan dan lainnya.,

‘’Nah, untuk mengembangkan budaya membaca, mesti dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kebiasaan nongkrong dan membicarakan berbagai hal di warung kopi sudah merupakan hal biasa setiap hari. Bagi kami hal ini sangat efektif bila ada keinginan dari pemerintah bersama pengelola GMGM dengan menggandeng masyarakat yang ingin memulai usaha warkop sebagai kedai baca,’’ tandasnya lagi.

Mahasiswa pasca sarjana Unhas ini mengingatkan, membudayakan gemar membaca memang merupakan suatu hal yang sangat berat. Bisa dibayangkan, seorang anak penempuh pendidikan SD selama 6 tahun, SMP 3 tahun dan SMU 3 tahun, maka jadi 12 tahun masa sekolah.

Membaca hanya dilakukan di sekolah saat proses belajar mengajar dan membaca dilakukan jika ada tugas dari sekolah. Kondisi ini berlaku seterusnya, bahkan sebagai mahasiswa pun hanya beberapa orang yang rutin membaca.

‘’Karena itu, jika saat ini pemerintah ingin agar GMGM dapat mempengaruhi orang untuk gemar membaca, maka harus menyediakan sarana dan fasilitas ditempat strategis sehingga dapat diakses dengan mudah dalam sebuah suasana nyaman,’’ tandasnya. (*)

Most Popular

To Top