Suku Naulu Bantu Bangun Mesjid di Sepa – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Suku Naulu Bantu Bangun Mesjid di Sepa

AMBON, AE—Kerukunan dan toleransi antar umat beragama sangat tinggi di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Seperti yang terlihat di Kecamatan Amahai. Kerukunan ini juga terlihat ketika masyarakat adat suku Nuaulu yang bermukim di kawasan perbukitan turut membantu menyelesaikan pekerjaan pembangunan Mesjid Alfalah di Negeri Sepa, pekan lalu.

Terlihat keharmonisan dan tatakrama yang dibangun kedua kelompok masyarakat ini yang berlainan keyakinan. Demikian disampaikan pemuda Negeri Sepa, Habib Bubakar kepada Ambon Ekspres via selulernya, kemarin. Menurut dia, Suku Naulu ini semula bermukim di kaki sungai Nua Kecamatan Waipia. Kemudian mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain.

Sebagian dari mereka hidup  mendiami  Gunung  Yaisuru yang berdekatan dengan Negeri Sepa.  Orang Naulu, menurut pandangan tetua adat Negeri Sepa, mereka menduduki tiga kampung yakni Kampung Latan (Kampung Lama). Kampung  Rohua  dan  Kampung  Bonara. Dikatakan, meski kepercayaan kedua kelompok masyarakat ini berbeda, namun tetap dihargai.
Bahkan keyakinan yang berbeda ini membawa manfaat yang besar untuk saling menjaga. Apa yang dilakukan warga Suku Naulu ini sangat diapresiasi masyarakat setempat. ‘’Maesjid Sepa mandek pembangunannya hampir tiga tahun. Pekerjaan pembangunan ini sedikit demi mulai diselesaikan,’’ terangnya.

Hal yang sama disampaikan Kepala Dusun Suku Naulu, Fitiri Nahatuwe. Menurut dia, bukan saja kerukunan terbentuk karena adanya pekerjaan mesjid namun kerukunan masyarakat Suku Nuaulu dengan negeri adat Sepa sudah ada sejak jaman leluhur.

Menurut dia, Suku Naulu semula buta dengan kerukunan antara sesama. Sebab kehidupan yang di ajarkan para leluhur mereka hanya berburu dan berkebun untuk hidup. Namun setelah mereka turun dari gunung maka mereka sudah mulai berkembang. ‘’Anak-anak  kami sudah dapat bersekolah bahkan hingga ke perguruan tinggi. Kerukunan antara sesama umat mencontohi Negeri Sepa yang selalu hidup rukun dengan sesama,’’ terangnya.
Fitiri mengaku, ketika ada pekerjaan masjid, mereka membantu dengan mengambil keperluan bangunan di hutan seperti bambu, tali pengikat tiang dan batang pohon. ‘’Jadi semua pemuda Nuaulu diwajibkan bepergian ke hutan membawa kebutuhan yang diperlukan. Bahkan untuk jadwal pekerjaan mesjid saja, maka pekerjaan lain ditunda turut berpartisipasi menyelesaikan pekerjaan mesjid hingga selesai.

Sebaliknya ketika rumah adat (baileo) Suku Naulu dikerjakan, maka warga Negeri Sepa juga turut membantu sehingga kerukunan ini terus terjaga dan dijadikan contoh untuk negeri-negeri di Malteng untuk tetap hidup dalam kerukunan antara sesama,” ungkapnya.(AID)

Most Popular

To Top