Disperindag tak Temukan Indikasi Praktek Kartel Beras – Ambon Ekspres
Amboina

Disperindag tak Temukan Indikasi Praktek Kartel Beras

AMBON, AE.—Beras  masih menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir lantaran harganya yang melonjak di luar kewajaran. Pengawasan  Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku terkait kenaikan harga beras yang terjadi di Maluku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan praktik kartel beras.

“Kartel adalah sekelompok pedagang yang ikut mengatur, mendistribusikan dan menentukan naiknya harga beras.  Di Maluku, sampai saat ini tidak ditemukan adanya kelompok tersebut. Kenaikan harga beras bukan dipengaruhi praktik kartel, namun murni karena kurangnya pasokan,”ungkap Bustaman Ohorella, Kepala Bidang Perdagangan

Dalam Negeri Disperindag Provinsi Maluku kepada Ambon Ekspres di runag kerjanya, Rabu(11/3).
Menurutnya, naiknya harga beras premium dan medium pada beberapa bulan terakhir ini baik di Kota Ambon maupun seluruh Indonesia, dipengaruhi oleh beberapa hal. Misalnya, musim panen  yang seharusnya panen di bulan Februari namun tertunda karena bencana alam (banjir) , pergantian musim atau perubahan alam.

“Karena suplai langka dan tidak ada panen maka harga melonjak. Sejauh ini kami belum temukan kartel. Tetapi tim kami terus bekerja untuk mengawasi terkait hal tersebut,” katanya.

Sesuai laporan terjadi penurunan angka produksi beras tahun 2014 yang mempengaruhi ketersediaan stok di sentra produksi dan di bulan Desember 2014 terjadi keterlambatan pembagian raskin bagi masyarakat.

“Akibat dari tidak ada penyaluran beras raskin kepada masyarakat, maka angka permintaan beras premium dan medium naik sementara suplai berkurang karena gagal panen,”paparnya.

Ohorella menyebutkan, dari hasil pantauan di lapangan harga beras premium yang semula Rp11.000 per kg menjadi Rp12.500- Rp13.000 dan untuk harga medium naik dari kurang lebih Rp10.000 menjadi Rp11.500. Pihaknya juga, telah meminta Bulog untuk melakukan Operasi Pasar (OP) untuk mengetahui stok beras cadangan pemerintah medium di Kota Ambon yaitu di pasar Batu Merah dengan kuota 7,5 ton per hari dan di pasar Mardika 7,5 ton per hari, untuk mengendalikan gejolak harga beras yang naik belakangan ini.

“Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk menekan harga beras dengan mengimbanginya  mengkonsumsi pangan lokal. OP dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya spekulasi harga beras oleh pedagang baik di Ambon maupun di Kabupaten/Kota yang ada di Maluku,”harapnya. (IWU)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!