Kopertis: Aktivitas Perkuliahan Tak Dihentikan – Ambon Ekspres
Nasional

Kopertis: Aktivitas Perkuliahan Tak Dihentikan

AMBON, AE— Koordinator Kopertis Wilayah XII Maluku-Maluku Utara, Zainuddin Notanubun, membantah menghentikan semua aktivitas di kampus Universitas Darussalam. Penghentian hanya dilakukan terhadap pelayanan kopertis ke Unidar.

“Bukan menghentikan aktivitas perkuliahan di sana (Unidar), tapi menghentikan pelayanan Kopertis kepada mereka (Unidar),” kata Notanubun kepada Ambon Ekspres di ruang kerjanya, Kamis (12/3).

Pelayanan yang dihentikan, lanjut Notanubun, yakni pelayanan beasiswa kepada mahasiswa, pemberian rekomendasi kepada dosen untuk mendapatkan beasiswa bagi dosen yang ingin melanjutkan studi dan penempatan dosen di Unidar saat ada pengangkatan dosen baru.

“Pelayanan itu yang saya hentikan. Itu pun hanya sementara, semua akan berjalan lagi setelah masalah antara mereka sudah selesai. Saat ini, silakan mereka jalan, tapi saya tidak urus selama mereka masih berkonflik,” tegasnya.

Ini dilakukan karena sebagai Perguruan Tinggi, Unidar dinilai tidak sehat akibat perseteruan antara pihak di dua Yayasan yang dibawa hingga ke ranah hukum. Tugas koordinator kopertis yang melakukan pengawasan, pengendalian dan pembinaan, berkewajiban mengambil langkah menghentikan pelayanan kepada Unidar. “Itu sebagai upaya meningkatkan mutu perguruan tinggi, makanya Perguruan Tinggi harus sehat,” ujarnya.

Perguruan Tinggi yang sehat itu ada delapan kriteria, salah satunya tidak boleh ada konflik di internal, antara dosen dengan rektorat, antara rektorat dengan yayasan, dan atau antara yayasan dengan yayasan. “Kalau itu terjadi, berarti dikatakan perguruan tinggi yang tidak sehat,” ungkap dia.

Diakui, perseteruan itu telah dia sikapi sejak tahun 2013. Beberapa kali mempertemukan kedua belah pihak di kantor Kopertis Wilayah XII Maluku-Maluku Utara untuk menyelesaikan masalah yang terjadi secara baik, tanpa harus dibawa ke ranah hukum.

“Dan sebenarnya tahun lalu saya sudah umumkan (penghentian pelayan kepada Unidar) tapi saya masih memberikan kesempatan. Saya selalu bilang, kalau sampai masuk di pengadilan, itu saya kategorikan tidak sehat. Kalau tidak sehat, konsekuensinya adalah, saya hentikan pelayanan kepada Unidar, sesuai dengan fungsi saya,” terangnya.

Setelah konflik dibawah ke jalur hukum, Notanubun pun kembali mempertemukan kedua belah pihak, mengingatkan mereka untuk tidak melanjutkan masalah di pengadilan, jalur islah yang harus ditempuh. Ternyata upaya hukum diteruskan. “Tapi ini bukan selamanya, nanti kalau masalahnya sudah selesai, pelayanan akan kembali saya berikan kepada mereka (Unidar),” kata dia.

Dia menegaskan, apa pun yang terjadi, mahasiswa tidak mungkin dikorbankan. Sebab, mahasiwa sudah melaksanakan kewajiban mereka, hak-hak mereka juga harus diberikan.

“Saya juga berharap, agar masyarakat jangan keliru dalam memahami keputusan saya, menghentikan pelayanan. Saya bukan provokator, saya kerja sesuai tugas dan wewenang. Saya sangat berharap, Darussalam harus sehat agar mutu pendidikan terus ditingkatkan,” kunci dia.

Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Unidar Ambon, Rais Mahu mengatakan, mahasiswa akan dirugikan bila hak mereka dalam mendapatkan pelayanan dalam bentuk apa pun, tidak dipenuhi. Padahal, mahasiswa telah menunaikan kewajiban.

“Mahasiswa kan hanya berharap proses perkuliahan tetap jalan dengan normal, pelayanan tetap stabil, hak-hak kami sebagai mahasiswa diberikan. Kalau ada masalah di yayasan, ya jangan sampai berdampak pada kami,” katanya, Kamis (12/3).

Kendati hingga kemarin pelayanan di kampus merah itu masih berjalan lancar, namun mahasiswa semester akhir ini berharap, Kopertis lebih bijak dalam menyikapi masalah yang terjadi. Proses hukum tetap didukung, namun jangan berdampak negatif pada mahasiswa. Mahasiswa harus mendapatkan hak mereka.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan politik (FISIP) Unidar, Abu Hasim Lulang mengungkapkan, bila aktivitas di kampus itu dihentikan, maka mahasiswa yang rugi, terutama dalam mendapatkan hak mereka berupa proses perkuliahan.

Mantan Pengurus BEM Fisip Unidar ini mengatakan, masalah yang melibatkan dua Yayasan, perlu dipisahkan dari kehidupan kampus. Masalah hukum berjalan, aktivitas kampus tetap berjalan.

“Jangan kami dirugikan. Memang ada masalah, tapi bukan berarti kami juga di bawa-bawa. Kami sebagai mahasiswa tetap melaksanakan kewajiban dengan baik, karena itu, kami juga harus mendapatkan hak kami, yakni pelayanan. Makanya, kami harap jangan hentikan aktivitas di kampus,” imbuhnya.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Unidar Ambon, Abdullah Rumatiga mengaku khawatir dengan sengketa dua yayasan. Bila aktivitas di kampus Unidar dihentikan oleh kopertis, mahasiswa dirugikan, karena hak-hak mereka tidak diperoleh secara maksimal.

Mantan ketua BEM Fakultas Pertanian Unidar ini berharap, perseteruan antara kedua pihak di dua Yayasan dapat berakhir dengan cepat dan secara baik, sehingga kampus Unidar tidak lagi menjadi sorotan. Akibatnya, mahasiswa juga yang jadi korban. (MAN)

Most Popular

To Top