Olahan Ikan Menjadi Wisata Kuliner – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Olahan Ikan Menjadi Wisata Kuliner

SIAPA yang tak kenal keindahan kepulauan Maluku.Kepulauan ini memiliki gugusan pulau-pulau kecil yang mempesona dan unik sebagai daya tariknya. Provinsi Maluku memang dikenal akan kekayaan laut dan rempah-rempahnya. Semua dapat dilihat dari kuliner khas maluku sebagai kota asal tarian bambu gila ini.

Ikan asap merupakan kudapan favorit masyarakat Maluku. Tak heran jika di provinsi ini banyak ditemukan penjual ikan laut asap. Salah satu sentra penjualan ikan asap berada di Pasar Ikan Asap di Desa Hative Kecil, Ambon.
Sesuai dengan penyebutannya, ikan asap memang diolah melalui cara pengasapan dengan kayu bakar.

Di Kota Ambon, Maluku, ikan laut asap memang telah kesohor sebagai menu kudapan di berbagai rumah makan.
“Ikan asap atau “Ikan Asar”  yang dijual di kawasan Galala Kota Ambon, Provinsi Maluku ini, menjadi wisata kuliner yang  semakin diminati baik warga lokal maupun wisatawan mancanegara. Kata  salah satu penjual  ikan asap, Jhon Yokleli.

Selain merupakan hasil olahan dari ikan segar, kuliner asal Maluku ini juga  bisa bertahan tidak basi sampai selama satu minggu. Tak heran jika kerap menjadi oleh-oleh khas untuk dibawa pulang.

“Ikan asap merupakan kuliner khas yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Banyak wisatawan yang datang dari luar kota hingga luar negeri,  mencari ikan ini untuk dibawa pulang,” katanya kepada koran ini di lokasi penjualan ole-ole ikan asap, Jumat(13/3).
Menurut dia, ikan asap bisa bertahan hingga tiga sampai lima hari setelah pengasapan. Bahkan, dapat mencapai satu minggu jika dimasukkan ke dalam lemari es.

“Ini merupakan hasil tangkap ikan segar, yang kemudian  diasap dari jam lima hingga delapan pagi. Saat diasapi kita mengolesi bumbu racikan dan minyak sayur agar bisa bertahan lama dan rasanya tetap enak meski disimpan di dalam lemari es,” ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan ini.

Jhon mengatakan, ikan asap Galala ini  berbeda dengan ikan asap lainnya karena ikan yang digunakan sebagian besar adalah ikan cakalang atau ikan tuna, yang merupakan hasil tangkapan para nelayan setempat.

Proses pembuatan ikan asap ini cukup mudah, namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Proses awal membuat kuliner khas Ambon ini adalah dibakar lalu diasap selama 1-2 jam dengan diolesi rempah dan minyak sayur. Ini gunanya agar rasa dan kelezatannya tetap melekat pada ikan asap ini.

“Kondisi ikan yang segar dan bersih dapat membuat ikan asap dapat bertahan hingga satu minggu,” katanya.
Dalam sehari, biasanya mulai dari 15-20 ekor ikan cakalang segar diasap. Dan biaya pengasapan untuk satu ekor ikan Rp3000.

“Yang laku paling 10 ekor per hari. Dengan harga mulai dari Rp30.000- Rp40.000 per ekor. Jika stok ikan yang telah diasap habis baru kami asapi lagi agar dapat bertahan lama. Yang terpenting ikannya segar dan kebersihan saat mengasap juga  diperhatikan,”ugkapnya.

Dia juga berharap, pemerintah bisa memperhatikan dari sisi kemasan. Menurutnya, lokasi yang disediakan saat ini sudah sangat baik, namun dari sisi kemasan mereka hanya mengandalkan kardus bekas dan lakban serta plastik.

“Kalau kami diberikan bantuan berupakan kemasan kan bagus. Pasti nilai jual akan semakin tinggi dan minat pembeli juga banyak karena terjamin kemasan pelindung kuliner ini. Dan lokasi yang ada saat ini perlu dipromosikan sehingga masyarakat baik lokal maupun mancanegara bisa tahu dimana penjualan ikan asap khas Maluku  dijual,”harapnya. (IWU)

Most Popular

To Top