“Batu Badaong dan 2 Anak Pembangkang” – Ambon Ekspres
Pendidikan

“Batu Badaong dan 2 Anak Pembangkang”

OLEH : MONICA TRISKIA LEIWAKABESSY, SMA Negeri 1 Ambon

Pada zaman dahulu kala hiduplah satu keluarga nelayan yang tinggal di pesisir pantai desa Kalele. Sang ayah bernama Epy bekerja sebagai penjala ikan yang harus menantang maut di tengah ombak laut, sedangkan istrinya Eta sehari–hari bekerja di  kebun untuk membantu menghidupi anak mereka. Pasangan suami istri ini mempunyai 2 orang anak remaja  yang memiliki sifat pembangkang bernama Atus dan Ocha.

Suatu hari, saat subuh Epy hendak pergi menangkap ikan di laut bersama para nelayan lain yang tinggal di desa Kalele, dengan berat hati Eta dan kedua anak mereka Atus juga Ocha melepas kepergian Epy dari tepi laut. Sebelum Epy hendak pergi naik keperahu, ia berpesan kepada istrinya untuk tidak memakan 2 ikan julung yang ia pelihara di rumah, sang istri pun berjanji mengikuti pesan suaminya.

Akan tetapi jauh didalam lubuk hati Eta merasa ada sesuatu yang mengganjal kali ini seperti tak ingin suaminya turun kelaut, tapi Eta  segera menghilangkan perasaan tak baiknya itu karena melihat semangat Epy demi menghidupi kedua anak mereka. Setelah perahu yang di naiki Epy mulai menjauh dari tepi pantai, pulanglah Eta, Atus dan Ocha kerumah.

Setelah sampai di rumah Epy segera bersiap–siap untuk berangkat ke kebun sebelum berangkat ia berpesan pada anaknya untuk jangan pernah memakan 2 ikan julung yang di pelihara Epy,  sedangkan Atus dan Ocha hanya bermalas – malasan di rumah.

Suara ketukan pintu terdengar  “Ocha cepat liat siapa yang datang !” perintah Atus yang saat itu sedang berbaring santai di sofa.

“Kakak punya kaki dan tangan, silahkan dibuka sendiri”  lawan Ocha kepada kakaknya.
“Aku ini kakakmu, seharunya kau menuruti aku” jawab Atus masih berbaring santai di sofa.
“Terserah kakak saja” jawab Ocha dengan beranjak membuka pintu rumah.

Ternyata yang datang adalah Ina teman menari Ocha mengajaknnya untuk pergi latihan menari di balai desa,  dengan segera Ocha langsung meninggalkan rumah tanpa pamit kepada sang kakak. Atus yang saat itu sudah bosan di rumah kemudian pergi ke lapangan desa Kalele dan melihat beberapa temannya sedang bermain Enggo sambunyi yang merupakan permainan tradisional, Atus pun ikut bermain.

Matahari telah hilang ditelan garis laut dan bulan mulai menjulang mempaparkan sinarnya, Eta pulang dari kebun dengan memikul beberapa kayu bakar di tangan kanan, sayuran, dan umbi dibelakang punndaknya terlihat wajah Eta sangat lelah.

Setelah tiba di rumah, Atus dan Ocha tidak menyambut kedatangan ibu mereka dengan dengan senang, mereka langsung menyuruh Eta memasak makanan untuk mereka dengan bentakan, karena Eta sangat menyayangi mereka ia pun hanya menuruti kata mereka tanpa menegur anaknya bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, setiap malam Eta selalu berdoa agar Tuhan mau mengubah sikap anaknya sambil terus menanti kepulangan dari suaminya.

Hari demi hari di lewati Eta bersama Atus dan Ocha dengan kata – kata yang tidak patut di ucapkan anak kepada orang tua, sikap Atus dan Ocha tiap hari makin menjadi, Eta hanya bisa menasehati mereka, tapi apa daya ibarat kata pepatah “masuk telinga kiri, keluar telinga kanan” nasehat yang tiap hari di katakan Eta, mereka hanya menganggap itu angin lalu bahkan tak jarang mereka melawannya.

Pada suatu sore di lapangan desa, Atus sedang bermain bola bersama temannya akan tetapi Atus bermain dengan tidak sportif, hal itu membuat teman-temannya marah, salah seorang teman Atus bernama Adi memarahinya akan tetapi Atus tidak menerima, akhirnya terjadi perkelahian antara mereka berdua kepala desapun langsung datang dan menengahi, hasilnya mereka pulang ke rumah dengan wajah babak belur, Atuspun pulang kerumah dan saat Epy betanya Atus hanya menjawab dengan bentakan “Ini bukan urusan ibu !”.

Pada malam hari di rumah Atus sedang duduk bersila di lantai bersama adiknya sambil menikmati ubi goreng yang di buat ibu mereka, kemudian terdengar sura teriakan dari luar.

“Hei, Eta ! keluar cepat” suara seorang wanita paru baya, dengan segera Eta keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang.
“Maaf, ada apa ini ?” tanya Epy dengan nada suara ramah.

“Kau harus bertanggung jawab! karena anakmu yang kurang ajar telah membuat muka anak saya babak belur” jawab orang tua Adi dengan nada tidak senang.
“Maafkan sikap anak saya, bu” jawab Eta dengan suara yang pelan dan tulus entah karena merasa bersalah atau karena rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya.

“Saya tidak mau ucapan maaf, saya mau kamu ganti rugi” tambah ibu Adi dengan wajah murka.
“Maaf bu untuk sekarang saya belum punya uang yang cukup, suami saya belum pulang dari melaut” kata Eta meminta belas kasian “Baiklah, kali ini saya maafkan tapi begitu suamimu pulang kau harus ganti rugi” Ucap ibu Adi dan segera berbalik badan dan pergi.

Ketika Eta hendak masuk kerumah ada satu suara menahannya “Maaf Eta, saya ada perlu”.
Eta berbalik dan ternyata yang dilihatnya adalah kepala desa Kelulu “Ya, ada apa kepala desa ? Apa ini masalah anak saya ?” tanya Eta seakan bisa menebak apa yang ingin disampaikan dan mempersilahkan kepala desa duduk.

“Bukan, Eta. Saya kemari dengan maksud lain”. Jawab kepala desa setelah duduk di bangku rotan milik Eta,
“Lalu ada maksud apa ?” tanya Eta penuh penasaran.

“Begini, tadi saya baru mendapat kabar dari salah seorang nelayan yang baru pulang menagkap ikan katanya di tengah laut ia menemukan perahu yang dinaiki suami kamu bersama nelayan yang lain sudah terbalik, dan kemungkinan mereka telah tenggelam” kepala desa memberikan penjelasa dengan rasa iba.

“Jadi maksud kepala desa, suami saya telah meninggal ?” tanya Eta yang kaget dengan penjelasan dari kepala desa.
“Kurang lebih seperti itu, tapi saya berjanji akan menggerakan para nelayan lain untuk mencari jasad suamimu” jawab kepala desa, yang tidak di tanggapi oleh Eta karena air mata telah meleleh di pipinya.

Etapun masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang terombang – ambing oleh perasaan sedih. Saat ia masuk ke dalam rumah terkejutlah Eta melihat kedua anaknya sedang makan ikan julung yang tidak boleh di makan mereka atas perintah Epy, suaminya.

Murkalah Eta terhadap anaknya “Hai anak-anakku betapa sedih hati ibu melihat kalian yang semakin hari semakin tidak menghargai orang tua kalian” kata Eta dengan nada marah bercampur sedih.
“Ibu kami lapar dan butuh makanan bukan butuh nasehat ibu, lagi pula kalo kami makan ikan ini ayah pasti tidak akan marah” jawab Ocha tanpa memedulikan apa kata ibunya.

“Asal kalian tau ayah telah meninggal, baiklah kalo kalian sudah tidak mau mendengar kata ibu lagi. Ibu akan pergi dan tidak akan kembali, jangan kalian sesali perbuatan kalian selama ini” jawab Eta yang putus asa dan pergi keluar rumah, sementara itu Atus dan Ocha melanjutkan makan dan tidak memedulukan ibu mereka.

“Udah tenang saja, pasti besok ibu kembali dan ibu pasti berbohong mengenai ayah” kata Atus kepada Ocha dengan mulut yang masih di penuhi oleh makanan.

Sementara itu Eta berlari hingga sampai ke tengah hutan yang sudah tidak dikenalinya, di temukannya batu besar berbentunk daun dan kemudian berkatalah Eta “Wahai batu badaong, bukalah mulutmu, telanlah aku ! Apa gunanya aku hidup jika anak-anakku selalu melawan dan sekarang suamiku telah tiada” kata Eta dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Seketika itu terbukalah batu badaong menjadi 2 bagian, kemudian masuklah Eta dan tertutuplah batu itu.

Keesokan harinya, Atus dan Ocha bangun kemudian mencari ibu mereka.
“Kakak ibu dimana ? Katamu ia akan pulang, tapi mana ?” tanya Ocha penuh penyesalan karena sudah mencari ibu mereka di seluruh penjuru desa namun belum menemukannya, maka putus asalah mereka dan menyesalkan atas perbuatan serta sikap pembangkang mereka terhadap ibunya. (*)

 

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!