Golkar – Ambon Ekspres
Teknologi

Golkar

OLEH : Yani Kubangun, Wartawan, Pendapat Pribadi

Partai ini, tidak sekuat masa Soeharto. Sekarang rapuh, dan mudah keropos. Di era Soeharto, Golkar begitu berkuasa. Saat Harmoko menjadi ketua umum, Golkar mencapai syahwat politik tertingginya dalam momentum pemilu tahun 1997 dengan meraih 75 persen suara dalam pemilihan umum. Kala itu hanya tiga partai, selain Golkar, ada PDI dan PPP. Tahun 1998, Golkar mulai digoyang bersamaan dengan turunnya Soeharto dari kursi presiden.

Soeharto  turun, Golkar pun dituntut bubar. Sistem politik berubah, banyak partai lahir. Golkar berubah nama menjadi Partai Golkar. Sementara PDI pecah. Kelompok Megawati Soekarnoputri membentuk PDI-Perjuangan.  Partai Golkar berhasil keluar dari tekanan politik massa. Akbar Tandjung berhasil membawa partai itu ke tempat awalnya, menjadi partai yang disegani  di pentas politik. Namun kemudian terseok-seok juga, ketika AT sang ketua umum dihantam skandal Buloggate. Dia berhasil lolos, dan Partai Golkar pun kokoh.

Di tangan AT, Partai Golkar kuat. Pemilu 1999 mereka diurutan kedua, dibawah PDIP. Lalu 2004, mereka kembali menang berada di rating teratas partai peraih suara terbanyak dalam pemilu. Bersamaan dengan suksesnya keluar dari tekanan, beberapa elit beringin memilih keluar. Mereka mendirikan partai baru. Partai Karya Peduli Bangsa didirikan oleh Hartono. Setelah Jusuf Kalla jadi ketua umum, Wiranto keluar dari Golkar dan membentuk Partai Hanura. Lalu Edy Sudrajat Cs membentuk PKPI.

Di masa Aburizal Bakrie menjadi ketum, Golkar berada di rating kedua, setelah Parti Demokrat menang pemilu 2009. Kejutan dibuat Demokrat, menohok posisi Partai Golkar dan PDIP. Lalu Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden kedua kalinya, setelah pada tahun 2004 diluar dugaan menang atas Megawati Soekarnoputri maupun Wiranto. Elit Partai Golkar kembali keluar. Kali ini Surya Paloh, dan membentuk Partai Nasdem. Sebelumnya mantan anak mantu Soeharto, Prabowo Subianto membentuk Partai Gerindra.

Keluarnya elit Golkar dan membentuk partai baru, sedikit banyak menggembosi basis massa tradisional. Ini tampak dari kian tergerusnya prosentase suara beringin, dan berkibarnya partai-partai yang dipimpin kader Partai Golkar. Hanura, Nasdem, dan Gerinda sangat sukses. Sementara PKPI dan PKPB tak mampu bersaing. Partai Golkar masih kuat di 2014, tapi tak lagi sukses meraih suara. Banyak survei menyebut, ARB tak begitu sukses mengangkat Partai Golkar.

Partai Golkar pada pemilu 2014 berada di rating kedua, hanya saja raihan suaranya jauh dibawa pemilu 2009. Mereka hanya mampu mencapai 14 persen suara lebih, karena itu tak cukup modal mencalonkan pasangan presiden. Namun, keputusan sudah lebih dulu dikeluarkan. ARB terlanjur diciptakan Partai Golkar sebagai capres. Lobi sana-sini, komunikasi sana-sini, tak satupun parpol yang mau mengusung ARB. Di injury time, ARB mengalah. Tawar menawar dengan PDIP tak berhasil, kembalilah dia ke Prabowo, dan kemudian diterima awalnya dengan setengah hati.

Pencapresan ARB menjadi awal benturan diantara elit Partai Golkar. Friksi tercipta. Dinamika sudah berkembang menjadi perseteruan yang tak ada solusi. Tidak majunya ARB sebagai capres, bagi sebagian elit telah menjatuhkan kredibilitas partai di mata publik. Tapi kelompok  ARB selalu saja ada alasan. Mereka menangkis, dan perseteruan itu tak berkembang. Namun friksi kembali tercipta jelang Musyawarah nasional tahun lalu. Dua kelompok besar yang awalnya sudah saling tak senang, berbeda dalam penetapan waktu pelaksanaan Munas. Perdebatan yang tentunya tak subtansial.

Meski demikian permusuhan memang sudah tercipta. Saling ingin kuasa sudah mengendalikan emosi phisikologi masing-masing pihak. Lalu ada kelompok ARB, dan ada kelompok Agung Laksono.

ARB didukung AT, Muladi, Idrus Marham, dan sedikit kelompok Golkar senior, berhasil mengerahkan kekuatan DPD I dan DPD II se-Indonsia untuk menggelar Munas Bali. Sementara Agung Laksono tak begitu banyak didukung kalangan DPD, tapi mendapat angin segar dari kelompok tua di Partai Golkar. ARB dalam Munas Bali terpilih secara aklamasi, lalu Agung Laksono menggelar Munas Ancol. Meski sedikit mendapat legitimasi DPD I dan DPD II, namun Munas sukses dilaksanakan, dan Agung terpilih. Ada sengketa muncul, lalu dibawa ke ranah hukum.

Kemudian diambil alih Mahkamah Partai. Dan MP memutuskan Munas Ancol sah. Dari sini Kementerian Hukum dan HAM mensahkan kepenrusan Ancol. Agung menjadi ketum yang diakui negara, sementara ARB terlempar.

Putusan ini melahirkan konflik yang kian melebar. Menteri Hukum dan HAM, yang PDIP, dan anak buah Joko Widodo itu dituding ikut main. Putusan dinilai tak adil. Padahal keadilan, memang tak pernah bisa memuaskan semua pihak.

Apalagi keadilan itu bersentuhan dengan kepentingan politik. Pemerintah tentu sangat berkepentingan dengan Partai Golkar. Golkar cukup kuat di Koalisi Merah Putih. KMP dibentuk Prabowo Cs saat pilpres. Kini koalisi itu bertahan, tentu untuk menjadi bargaining politik dengan pemerintah. KMP tanpa Golkar, seperti burung yang ingin terbang, tapi satu sayapnya patah.

Golkar sangat berpengaruh di KMP. Agung nyatakan tak ingin lagi bersama KMP. Secara politik, sangat menguntungkan pemerintah. Pemerintah akan mudah dalam urusan dengan DPR. Apalagi kalau ada aksi bersih-bersih elit yang masih loyal kepada ARB. Tentu tak mudah membersihkannya, punya implikasi ganda. Karena itu, Agung tentu tak ceroboh. Politisi sekelas Bambang Soesatyo dan Setya Novanto tak mudah ditundukan hanya dengan selembar legitimasi dari pemerintah. Pertarungan bagi mereka belum usai, karena itu mereka melawan.

Di Maluku juga loyalis ARB melawan. Kelompok Zeth Sahuburua yang sudah di-caretakerkan oleh Paulus Mantulameten, mulai angkat bendera perang. Genderang ditabuh. Pesimisme berubah menjadi sikap yang optimis. Meski optimism itu terkesan dipaksakan. Elit Golkar seperti Husein Toisuta, memang tak ada pilihan selain lawan. Bagi dia, melawan atau tidak, kursinya di DPRD terancam.

Mantulameten Cs sudah begitu frontal. Mereka main pecat. Mereka main singkirkan. Apalagi KPUD memastikan  akan mematuhi keputusan Kemenkum HAM, maka makin tertekan sudah Husein Toisuta kenapa Husein? Karena dia dinilai kelompok Mantulameten, adalah wakil rakyat yang menolak kubu Agung.

Yang lain, memilih diam. Mereka tentu tidak perlu menyatakan bergabung dengan Agung, toh tidak ada lagi dua Golkar. Mereka ingin di Golkar, dan Golkar yang sah dibawah kendali Mantulameten yang ditunjuk Agung. Jadi, tak ada alasan untuk menggantikan mereka. Mereka sah berada di Golkar, tanpa memilih loyalis siapapun. Yang penting mereka loyal ke Partai Golkar. Jadi mungkin saja tak akan ada lagi bersih-bersih. Karena aksi itu justeru bisa berdampak pada eksistensi partai di mata publik. perseteruan ARB dan Agung saja sudah menghasilkan dampak negatif, apalagi ditambah main campakan.

Bagi saya, konflik ini susah dituntaskan. Baik ARB dan Agung ingin tetap berkuasa. Keinginan berkuasa ini, mengalahkan keinginan membesarkan partai. Kedua kelompok ini hanya ingin mempertahankan eksistensi mereka di panggung politik lewat partai. Partai hanya dijadikan media, untuk membuat mereka besar. Sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari citra partai. Saat ini Partai Golkar yang dikalahkan oleh kubu Agung maupun ARB. Partai Golkar benar-benar kalah. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!