Nyanyian Adat, Sarana Penguatan Identitas Anak Negeri Kei – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Nyanyian Adat, Sarana Penguatan Identitas Anak Negeri Kei

NYANYIAN adat sebagai salah satu bentuk tradisi lisan, merupakan budaya orang Maluku sejak belum dikenalnya tulisan yang dikemudian hari diperkenalkan oleh bangsa asing. Dalam nyanyian adat, terdapat nilai-nilai moral serta budaya yang ditanamkan dan diwariskan leluhur kepada generasi muda bangsa.

Dalam tulisan Jacquelin Pattiasina, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Ambon,di Kepulauan Kei, nyanyian adat identik dengan sarana pengingat yang sarat akan nasihat orang tua terhadap anak akan budayanya sebagai anak Evav.

Kepulauan Kei oleh penduduk asli Kei dikenal dengan nama Tanat Evav, yang artinya Negeri Evav, dimana kata Evav terdiri dari kata E dan Vav. E berarti ‘tanah’ dan ‘Vav’ berarti dibawah, di sana, di selatan’ sehingga secara etimologi, kata evav mempunyai pengertian ‘tanah’ dibawah atau tanah di selatan.Nama tersebut sesuai dengan letak geografis dan arah mata angin yang menunjukkan letak Kepulauan Kei yang berada di bagian selatan dari Provinsi Maluku.

Namun karena tidak ingin dikaitkan dengan peristiwa RMS maka pulau-pulau di selatan ini menamakan tempat mereka dengan Maluku Tenggara. Kepulauan Kei terdiri atas sejumlah pulau antara lain Pulau Kei Besar, Pulau Kei Kecil, Tanimbar Kei, Kei Dulah, Dulah Laut, Pulau Kuur,Taam dan Pulau Tayandu. Selain itu terdapat juga pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni.

Kata “Kei” sebenarnya berasal dari kata “Kai”. Dulu ketika bangsa Portugis datang di Pulau Kei dan mereka bertanya-tanya pada penduduk asli dalam bahasa asing yang tidak dimengerti, maka penduduk asli menjawab “betkai” yang artinya tidak tahu. Sejak saat itu oleh Bangsa Portugis pulau tersebut dinamakan Kai dan hingga zaman pemerintah kolonial Hindia Belanda tetap menggunakan nama itu. Lambat laun kata “kai” berubah pelafalannya menjadi “Kei” hingga sekarang.

Ciri khas yang menjadi identitas orang Kei adalah bahasa Kei. Pada Kepulauan Kei terdapat 3 rumpun bahasa yang digunakan antara lain Bahasa Kei, Bahasa Kur dan Bahasa Banda. Bahasa yang paling luas pemakainnya adalah bahasa Kei yang digunakan di 207 desa di Pulau Kei Kecil, Kei Besar dan pulau-pulau sekitarnya. Ketika misionaris Katolik menjalankan misi penyebaran agama di Kepulauan Kei, Pater H. Geurtjens pada tahun 1919.

Bahasa Kei tidak mempunyai sumber tertulis, oleh karenanya Pater Geurtjens menyelidiki penggunaan Bahasa Kei secara lisan dan kemudian ditulis dengan berpedoman pada tata bahasa dan abjad Eropa. Bahasa Kei merupakan alat komunikasi dalam keluarga dan kehidupan bermasyarakat.

Meskipun tidak diajarkan dalam muatan lokal di sekolah, namun Bahasa Kei tetap terjaga kelestariannya dengan cara dipergunakan sebagai bahasa utama sehari-hari.

Selain sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari, Bahasa Kei juga digunakan sebagai alat pendukung adat, misalnya dalam upacara perkawinan adat, upacara sasi dan juga dalam sidang adat. Dua macam bahasa lainnya yang terdapat di Kepulauan Kei yakni Bahasa Kur dan Bahasa Banda. Bahasa Kur digunakan oleh penduduk Pulau Kur dan Kamear.

Sedangkan Bahasa Banda digunakan di Desa Banda Eli dan Banda Elat. Bahasa Banda dan Bahasa Kur merupakan bahasa yang berasal dari luar. Bahasa Banda yang digunakan di Banda Eli dan Banda Elat dibawa oleh penduduk Pulau Banda di Maluku Tengah yang melarikan diri ke Kepulauan Kei akibat mengalami penyiksaan oleh Belanda pada masa pemerintahan Jan Pieterszoon Coen yang pada saat itu melakukan pembunuhan besar-besaran di Pulau Banda.Walaupun hidup ditengah-tengah masyarakat Kei, namun kedua bahasa tersebut tidak membawa dampak apapun bagi Bahasa Kei. (HIR)

Most Popular

To Top