Dua Tahun Bersekolah Dalam Tenda Rusak – Ambon Ekspres
Trending

Dua Tahun Bersekolah Dalam Tenda Rusak

Hujan Libur, Matahari Belajar Dibawa Pohon

Desa Negri Lima, bukan wilayah pedalaman seperti di Papua. Tapi selama hampir dua tahun terakhir, kondisi pendidikan tiga Sekolah Dasar dan satu Taman Kanak-Kanak di desa itu, memprihatinkan. Mereka menimba ilmu di tenda pengungsian yang jauh dari keramaian kampung. Libur saat hujan dan belajar di luar tenda kala matahari di ubun-ubun, adalah bagian dari penderitaan mereka.

Siang itu, Sabtu (14/3), langit Negeri Lima mendung. beberapa siswa SD dengan seragam olahraga bermain gelang karet yang diikat menyerupai tali panjang di pinggiran jalan. Hari itu, mereka sengaja di pulangkan lebih awal dari jam sekolah, karena ada ketegangan antara warga Negeri Lima dan Desa Seith.

Disamping kanan jalan Dusun Latan, berdiri 11 tenda berukuran 9 x 5 meter. Tenda-tenda tersebut disusun menyerupai sebuah lingkungan sekolah. Tenda-tenda berwarna biru inilah yang digunakan 3 sekolah dasar yakni SDN 01 Negeri Lima, SDN 02 Negeri Lima, SD Inpres Negeri Lima dan TK Negri Lima paska banjir bandang menerpa desa itu 25 Juli 2013. Jumlah keseluruhan siswa dari keempat sekolah sekitar 400 orang.

Di depan tenda kelas 1 dan 2, sebuah rumah kebun berukuran 6 meter x 3 meter tanpa dinding. Atapnya dari daun pohon sagu. Tidak ada parabot didalamnya. Hanya 14 kursi kayu dan 3 meja berbahan triplek. Bangunan ini yang dipakai para guru untuk berkantor. Sementara SD Inpres memanfaatkan salah satu ruang kelasnya untuk kantor.

Bagi orang yang baru datang ke Negeri Lima, pasti tidak mengetahui bahwa ada aktifitas pendidikan di dusun perbatasan antara desa Seith dan Negri Lima tersebut. Meski letaknya tak jauh dari jalan raya, namun tenda-tenda ini seperti bersembunyi dibalik rimbunan ratusan pohon Cengkeh dengan tinggi rata-rata 9-10 meter itu.

Selain di pagari pepohonan, sekolah-sekolah ini juga tidak punya papan nama layaknya sekolah pada umumnya, yang bisa memperlihatkan kalau disitu terdapat lingkungan pendidikan. Hanya satu tiang bendera dari batang bambu yang menjulang tinggi hampir menggapi ujung pohon cengkeh, sebagai penanda ada sekolah disitu.

Kondisi fisik beberapa tenda memprihatinkan. Selain sobek pada bagian dinding, lubang-lubang kecil juga mengangah dari bumbungan tenda. Seperti di kelas 1 dan 2 yang hingga kini belum diganti sejak bencana. “Tenda untuk kelas 1 dan 2, sejak bencana hingga sekarang belum diganti,”ujar Muhammad Jafar Salong (46), penjaga sekolah sekaligus tenaga honorer SDN 1 Negri Lima.

SDN 1 mendapatkan jatah 3 tenda untuk ruang belajar. Masing-masing tenda dibagi menjadi dua kelas. Dengan ukuran panjang tenda 9 meter dan lebar 5 meter, tentu sangat sempit jika ditempati sebanyak 70-80 siswa dua kelas sekaligus. Nyaris tidak ada sekat antara satu kelas dengan kelas lainnya. Sebab hanya dibatasi 5 potongan kain yang menggantung begitu saja.

Setiap kelas punya enam meja belajar dengan panjang sekitar 2 meter yang terbuat dari triplek. Kursi-kursi plastik, terpaksa diatur berhimpitan untuk mencukupi luasan tenda. Kondisi ini diakui Jafar, sangat mengganggu konsentrasi belajar siswa saat jam pelajaran berlangsung.

”Apalagi mereka kan masih SD, jadi agak sulit untuk ditenangkan,”kata Jafar. Ia mengaku, kondisi seperti itu juga dialami sekolah lainnya.

Pemerintah daerah Malteng, melalui Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan pernah menjanjikan bantuan bahan seperti tripleks, agar bisa membatasi ruang-ruang kelas dalam tenda tersebut. Namun, bantuan itu tak kunjung datang.
Kondisi tenda yang mulai rusak terutama pada bagian bumbungannya, mudah ditembus air hujan dan menyebabkan lantai tanah liat menjadi becek. Seperti yang terjadi di hari itu. Meski hujan dengan intensitas ringan dan berlangsung sekira 10 menit saja, namun ruang kelas 1 dan 2 sudah tergenangi air.

Untuk menjaga agar tidak terjadi genangan air, pihak sekolah dan warga setempat menaburi lantai kelas dengan batuan kerikil. Selain  itu, mereka juga membuat selokan sedalam 15 centimeter untuk menghalau air. Namun tidak bertahan, jika hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung dalam waktu lama.

“Kalau hujan, biasanya kami libur. Kondisi sekolah yang bocor dan letaknya jauh, membuat siswa memilih tidak datang ke sekolah. Jadi seperti inilah kondisinya kalau hujan,” kata Jafar.

Begitu sebaliknya jika matahari terlalu panas, para siswa belajar dibawa pohon karena penatnya tenda. Setiap tenda memang memiliki enam jendela kecil. Tapi angin sulit masuk karena jarak antar tenda yang berdekatan.
“Kalau panas, anak-anak terpaksa mengangkat kursi dan membawanya ke bawah pohon untuk belajar. Sebab kalau sudah sampai jam 12-1 siang, di dalam tenda ini panas,”akuinya.

Tenda untuk kelas kelas 3 dan 4, juga tak kalah memprihatinkan. Tiang penyangga di bagian belakang tenda rusak ditimpa pohon Cengkeh, bulan lalu. Beruntung kejadiannya pada malam hari. Pihak sekolah menyanggahnya dengan potongan kayu. Selain itu, papan tulis (whiteboard) juga telah rusak akibat terkena air hujan.

Anti Salong (11), salah satu siswa SD Inpres menuturkan, perbedaan yang mencolok dari sekolahnya sebelumnya adalah kebersihan. Hal ini, diakui siswa kelas 6 yang akan mengiktui Ujian Nasional, April mendatang, sangat menganggu proses belajar mengajar.  “Kalau di sekolah lama, katong rasa nyaman terima pelajaran dari para guru. Kalau di tenda, selain seng  bersih, juga seng nyaman,” kata Anti berlogat Ambon.

PRO-KONTRA
Tokoh masyarakat Negri Muhammad Gozali Soulissa mengatakan, salah satu penyebab terhambatnya pembangunan gedung sekolah karena belum adanya pelepasan tanah milik Abdullah Soulissa, bupati pertama Maluku Tengah.

Gozali mengaku, belum lama ini, anak-anak Abdullah Soulissa menemuinya dengan maksud menghibahkan tanah dengan luas sekitar 200 meter x 100 meter yang saat ini dipakai untuk lokasi sementara keempat sekolah tersebut. Akan tetapi hingga sekarang pembicaraan itu tidak dilanjutkan.

Selain masalah tanah, juga terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat Negeri Lima. Sebagian besar masyarakat Negri Lima lebih setuju jika pembangunan gedung sekolah yang baru sebaiknya di dalam lingkungan kampung agar mudah dijangkau para siswa.

“Memang salah satu kendalanya juga adalah pro-kontra masyarakat. Sebagian berpendapat sebaiknya gedung sekolah baru di bangun di dalam kampung. Sebab lahan yang mau di hibahkan ini agak jauh dari kampung,” tutur lelaki paruh baya ini.

Gozali yang akan dilantik dalam waktu dekat sebagai Raja Negri Lima ini mengaku, masih ada lahan lain yang bisa digunakan sebagai lokasi pembangunan sekolah. Hanya saja, ia belum punya kewenangan untuk berembuk dengan masyarakat membicarakannya.

Keterlambatan ini juga disebabkan tidak adanya langkah dari pemerintahan desa. Sejak di angkat jadi pejabat sampai hari ini, Surahman Pesilahtu belum pernah menggelar rapat dengan masyarakat. “Beliau belum pernah melakukan pertemuan dengan masyarakat untuk membicarakan masalah ini. Perangkat desa juga tidak ada sekretaris dan bendahara. Akhirnya pemerintahan seperti tidak berjalan,”katanya.

Namun, sebagai tokoh masyarakat yang dipercayakan memimpin Negri Lima, Gozali berusaha setelah resmi menjabat sebagai kepala desa, akan bertemu dengan pemerintah daerah. Sebab kata dia, bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua pernah datang ke Negri Lima untuk memberikan harapan itu.

“Kami belum punya hak untuk mengatakan kapan di bangun Karena pemerintahan saat ini masih di pegang pejabat Desa. Tapi Insha Allah, akan saya usahakan setelah dilantik,” akuinya.
***

Jarak antar kampung besar Negri Lima dengan sekolah sementara yang terletak di perbatasan Seith-Negri Lima sekitar 2 kilometer. Para siswa yang rata-rata tinggal jauh dari lingkungan sekolah darurat, mengeluarkan Rp 4000 untuk biaya transportasi (ojek) per hari. Sedangkan bagi guru yang tidak punya motor, sekitar Rp 10.000.

Kondisi ini tentu berbeda ketika sekolah baru dibangun dekat kampung besar yang merupakan tempat tinggal hampir semua siswa dan guru. Selain itu, para siswa juga terlambat datang ke sekolah. Apalagi yang memilih jalan kaki. Masalah tersebut juga menjadi keluhan guru.

“Kalau saya setiap hari Rp 10.000 untuk harga ojek. Nah, jarak yang jauh ini juga menjadi salah satu pertimbangan masyarakat,”kata Jafar, yang mengaku sudah jadi guru honorer sejak 2002.

Keprihatinan pendidikan di Negri Lima bukan saja terhadap  jarak dan kondisi fisik tenda-tenda darurat itu, tapi juga rasa aman. Para siswa keempat sekolah tersebut biasanya dipulangkan sebelum jam sekolah selesai, karena ketegangan antar warga Negri Lima dan desa tetangga.

“Tadi memang ada tegang, jadi anak-anak kami pulang lebih awal. Kalau terjadi apa-apa siapa yang bertanggung jawab,” kata Madjah Soulissa, guru olahraga SDN 1 Negri Lima, pekan lalu. Jarak dusun Latan, lokasi sekolah sementara dengan Seith sekitar 6 Kilometer.

Meski berada dalam kompleksifitas masalah yang serius, namun tak menyurutkan semangat siswa untuk belajar dan menggapai cita-cita mereka. Jafar menuturkan, beberapa kali siswa SDN 1 Negeri Lima mengikuti lomba gerak jalan, baris-berbaris, cerdas-cermat, bola kaki dan perlombaan lainnya ditingkat kecamatan.

Pemerintah kabupaten Maltang maupun Provinsi Maluku memang telah menaruh perhatian terhadap kondisi pendidikan di Negeri Lima paska banjir waela. Bahkan pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan telah mengalokasikan anggaran untuk membangun gedung sekolah yang baru, baik SD, SMP maupun SMA, tetapi hingga kini belum dapat dilakukan.

Anggaran yang dialokasikan Kementerian yakni Rp 1,25 miliar untuk pembangunan 9 ruangan sekolah dasar, SMA Rp 2,7 miliar dan Rp 250 juta untuk membangun gedung Paud dan TK. Kepala Dinas Pendidikan dan Olahra Maluku Tengah, Askam Tuasikal dikonfirmasi soal kepastian dana tersebut, belum memberikan jawaban.

Anti hanya berharap, pemerintah daerah kabupaten Maluku Tengah dan Negri Lima segera duduk bersama menyelesaikan persoalan pembangunan sekolah mereka. Baik pembebasan lahan dari pemilik maupun lokasi ideal pembangunan sekolah. Ia tak ingin melihat teman-temannya mengikuti UN di tahun mendatang di tenda-tenda pengungsian.

“Beta (saya) ujian bulan April. Karena itu, beta berharap semoga katong pung sekolah bisa segera di bangun,”. Namun Anti seakan telah pupus harapan seiring belum adanya tanda-tanda pembangunan sekolahnya.

Tahun lalu, sebanyak 110 siswa dari SDN 1, SDN 2 dan SD Inpres Negri Lima, mengikuti Ujian Nasional (UN) di tenda-tenda darurat. Dapat dipastikan pengalaman itu kembali terjadi di tahun 2015. (**)

Most Popular

To Top