Konflik PDIP tak Serius – Ambon Ekspres
Trending

Konflik PDIP tak Serius

AMBON,AE— Kisruh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maluku yang masih terasa usai Konferensi Daerah, dinilai sebagai akibat ketidakpuasan elit senior terhadap terpilihnya Edwin Adrian Huwae sebagai ketua. Kondisi ini harus segera disikapi dengan serius oleh Huwae agar kisruh tidak berkepanjangan.

Hal ini disampaikan pengamat politik Universitas Pattimura Ambon, Jen Latuconsina, kepada Ambon Ekspres via pesan pendek atau sms, Rabu (18/3). Kata dia, tidak ada konflik serius yang terjadi antara kader tua dan Huwae.

“Saya kira tidak ada lagi konflik yang membenturkan kader muda dengan kader senior di PDIP Maluku. Kalau ada ketidakpuasan kaders PDIP senior terhadap Edwin Huwae, itu hanya sebagian kecil saja,” ujar Latuconsina.

Bahkan menurut dia, tidak ada masalah krusial dan mendasar sehingga menciptakan kerengganan Edwin dan beberapa kader senior PDIP Maluku. Yang dirasakan saat ini, hanya dampak psikologis para kader senior seperti Bitzael Silvestre Temmar (Bito) dan Lucky Wattimuri dari konferensi daerah. “Itu hanya kendala psikologis saja ketika senior menganggap mereka yang layak menjadi ketua PDIP Maluku,” katanya.

Disinggung soal isu bahwa Bito enggan menerima Huwae, kandidat doktor ini menilai, tidak ada relevansinya. Kata dia, Temmar merupakan kader atau tokoh tua yang tidak punya poin dan posisi tawar strategis di PDIP Maluku saat ini.

”Tidak ngaruhnya perdebatan menyangkut dengan keengganan Temmar bertemu dengan Huwae. Pasalnya Temmar juga merupakan kader PDIP lanjut usia (lansia) selevel dengan M.J Papilaja yang tidak memiliki point strategis perdebatan PDIP senior dan junior,” tandasnya.

Dikatakan, Huwae telah berupaya mencegah kisruh internal elit senior dengan dirinya, maka mengakomodir beberapa kader tua dalam kepengurusan DPD PDIP Maluku 2015-2020. “Cara mendamaikannya, ya Edwin Huwae selaku ketua DPD DPDIP Maluku terpilih telah mengakomodir kader senior dalam kepengurusannya,” beber dosen FISIP Unpatti ini.

Hal berbeda disampaikan, pengamat politik Universitas Darussalam Ambon, Ali Roho Talaohu. Dia mengatakan, masalah krusial yang menghalangi penerimaan elit dan kader senior terhadap Huwae, sudah terjadi diawal pelaksanaan Konfercab maupun Konferda. Ini dipertegas saat Huwae terpilih jadi ketua DPD PDIP Maluku.

“Semua berawal dari pra pencalonan sampai pada pemilihan. Lalu muncul kubu. Huwae bergabung dengan Karel Albert Ralahalu jadi satu kubu dan Lucky Wattimuri dan Bito Temmar yang merupakan kader tua di blok lain,”urai Talaohu.

Meski begitu, kata dia, kemungkinan berdamainya elit dna kader senior PDIP Maluku dan Huwae sangat terbuka, asalkan Huwae bisa membangun komunikasi yang baik dengan tokoh senior.

“Saya kira meski Konferda telah selesai dan terpilih, namun Huwae harus mampu membangun komunikasi yang kontinyu dan sopan dengan kader senior. Terutama mereka yang kalah dalam pertarungan politik internal PDIP Maluku,” ucap Talaohu via telepon, kemarin.

Selain itu, Huwae yang diberikan kepercayaan memimpin PDIP Maluku ini, harus mampu membuktikan kinerjanya selama liam tahun mendatang. ”Selain itu, dia (Huwae-red) harus meyakinkan elit senior bahwa dia layak terpilih atau dipilih. Tentu dengan cara mengagendakan dan melaksanakan program-program partai yang bernas,” papar master ilmu politik Universitas Padjajaran Bandung ini.

Di partai politik saat ini, baik PDIP maupun partai lainnya, ego senioritas untuk berkuasa itu masih tinggi. Puncaknya dan bisa disaksikan secara gamblang oleh publik adalah saat momentum pergantian kepemimpinan lama.

“Saya pikir ini sulit diselesaikan, karena ada ego senioritas. Apabila PDIP Maluku saat ini dibawa kepemimpinan Huwae baik dalam interval waktu tertentu bisa digulingkan. Di dalam politik tidak ada yang mustahil,” tuturnya.

Ketua DPD PDIP Maluku, Edwin Adrian Huwae menampik kalau Bito menolaknya untuk bertemu. Hubungannya dengan mantan Sekretaris DPD PDIP Maluku ini, selalu harmonis.  Bahkan, dia mengaku banyak belajar dari Temmar.

‘’Itu urusan adik dan kakak saja. Saya ingin bertemu untuk silaturahmi adik dan kakak. Memang saat itu pak Bito sementara istirahat, jadi tak sempat ketemu. Jadi bukan ditolak,” tandas Huwae kepada sejumlah wartawan, kemarin.

Pernyataan Huwae sekaligus menepis pemberitaan Ambon Ekspres, edisi Rabu (18/3) kalau Bito menolak bertemu dengannya. ”Saya memang banyak belajar dari pak Bito. Saya dibesarkan beliau (Bito). Jadi hanya diplintir saja. Itu biasa,” sebutnya.

Meski begitu, ketua DPRD Maluku ini mengaku, sejumlah sesepuh dan senior PDIP mulai menemuinya untuk memberikan dukungan kepadanya menakhodai PDIP 5 tahun kedepan. ”Ada sesepuh dan senior berkunjung ke  saya untuk beri dukungan. Saya tentu terbuka. Semua hal didiskusikan untuk bagaimana gagasan membesarkan partai dan  mengawal pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Nah, masyarakat tinggal menilai,” terangnya.

Dia mengaku, saat ini konsolidasi struktural ditingkat bawah hingga DPD telah selesai. Menurut dia, semua potensi partai saat ini bersatu membesarkan partai  dan bersama masyarakat tingkatkan kesejahteraan. ”Nanti sore (sore kemarin) kita akan menggelar rapat pengurus. Kita rapat untuk kelengkapan struktur partai dan persiapan Pilkada di MBD, Bursel, Aru dan SBT,” jelasnya.

Sementara itu, pilihan Luki Wattimury menerima posisi Sekretaris DPD PDIP Maluku, dikecam pendukungnya. Ini karena Wattimury lebih memilih ‘aman’ ketimbang mengakomodir pendukungnya distruktur. ”Memang  kebanyakan pengurus orang pak Huwae. Tidak ada orang Luki. Itu yang menyebabkan pengikutnya berang,” kata salah satu kader PDIP.

Kader yang enggan namanya diwartakan mengaku,  pendukung Luki sudah lama menjabat  di DPD. Dia mengaku, saat ini kebanyakan wajah baru ditambah wajah lama menghiasi kepengurusan DPD PDIP Maluku. ”Jadi saatnya kita kebagian. Kan mantan pengurus lainya sudah merasakan duduk dipengurus,”sebutnya.(TAB/JOS)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!