Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Tetap Menggunung – Ambon Ekspres
Trending

Ekonomi Tumbuh, Kemiskinan Tetap Menggunung

AMBON,AE— Ekonomi Maluku tetap berpeluang tumbuh di tahun 2015.  Pertumbuhannya bisa mencapai 6.5 hingga 7.6 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya menjadi jaminan menurunkan tingkat  kemiskinan  di daerah ini. Kecuali pertumbuhan merata dan menyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat.

“Menurut saya, ekonomi Maluku akan terus tumbuh positif dalam tahun ini dengan angka pertumbuhan 6,5-7,6 persen. Namun perlu diwaspadai karena pertumbuhan Maluku masih didorong oleh sektor konsumtif dan bukan oleh sektor-sektor produktif. sehingga dampak riilnya bagi penyerapan tenaga kerja pun kurang,” kata pengamat ekonomi Universitas Pattimura (Unpatti) Teddy CH Leasiwal, Kamis (19/3).

Dikatakan, pertumbuhan yang positif ini pun tidak memberi efek yang kuat bagi penurunan laju angka pengangguran.  Ini yang menjadi salah satu masalah kenapa angka kemiskinan  di Maluku  terus naik.

“Kemiskinan di Maluku, akan sulit diturunkan selama infrastruktur, lapangan kerja dan keterisolasian akses tidak diperbaiki. Mengenai berapa besar kemiskinan yang bisa diturunkan,  menurut saya akan sangat sulit ditentukan, namun lajunya bisa ditekan,” jelasnya.

Ketua Devisi Pengkajian Laboratorium Pengkajian dan Penelitian Ekonomi (LPPE) Unpatti ini menilai, selama satu tahun pemerintahan Gubernur Maluku,  Said Assagaff dan wakilnya Zeth Sahuburua belum menunjukkan langkah konkrit yang strategis untuk mengurangi angka kemiskinan.

“Saya kira ekonomi Maluku adem ayem saja, tidak mengalami kejutan yang luar biasa. Belum ada langkah-langkah strategis yang dilakukan untuk mendorong terjadinya lompatan ekonomi  di Maluku,” ungkap dia.

Salah satunya adalah iklim investasi belum terbangun dengan baik, sehingga pemanfaatan sektor unggulan pun tidak maksimal. selain itu SKPD-SKPD bidang ekonomi kurang mampu menerjemahkan apa yang menjadi keinginan Gubernur Maluku maupun masyarakat Maluku, sehingga program maupun kebijakan-kebijakan yang ada belum mampu memberikan stimulan yang besar bagi roda ekonomi Maluku.

“Namun tak bisa kita pungkiri bahwa selama satu tahun ini, ekonomi Maluku berjalan cukup stabil dan tidak ada gejolak berarti selain shock dari kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), itu pun tidak terlalu mempengruhi makro ekonomi Maluku,” kata Leasiwal.

Direktur Eksekutif Moluccas Economic Reform Institute (MOERI) Tammat R Talaohu menilai hal yang sama, ekonomi Maluku masih berpeluang naik, namun tidak sampai menyentuh angkat 6 persen. Itu pun tidak berpengaruh positif bagi penurunan tingkat kemiskinan di daerah ini.

“Ekonomi Maluku masih tergantung pada ekonomi nasional. Karena belum ada stimulan. Jadi untuk tahun ini, pertumbuhannya hanya bisa mencapai 5 persen sekian. Itu prediksi saya,” kata Talaohu, kemarin.

Dia menegaskan, selama pemerintah daerah belum dapat menciptakan soluasi agar  ekonomi Maluku tidak selalu ‘berkiblat’ pada ekonomi nasional, maka ekonomi di daerah akan sulit diperbaiki. Itu berarti, tingkat kemiskinan pun sulit ditekan.

“Salah satu contoh, nilai rupiah sekarang, kan melemah. Itu menjadi salah satu faktor lambannya pertumbuhan ekonomi nasional. Dan itu turut dirasakan oleh Maluku yang belum punya stimulan  ini,” ungkapnya.

Kendati tumbuh di tahun ini, namun Talaohu menilai ekonomi Maluku belum mampu mengurangi jumlah masyarakat miskin di daerah yang menempati urutan keempat sebagai daerah termiskin di Indonesia ini. “Karena pertumbuhan itu bukan pada sektor produktif, tapi konsumtif. Sehingga sulit menekan, apalagi mengurangi jumlah masyarakat miskin di daerah ini,” kata dia.

Menyoal  langkah strategis pemerintah untuk memperbaiki ekonomi di Maluku, Talaohu mengatakan, sebagai catatan kritis,  harus diakui bahwa itu belum dilakukan secara baik. Pemerintahan yang telah berjalan selama lebih dari satu tahun ini  belum menunjukkan   langkah strategis secara konkrit untuk mengurangi tingkat kemiskinan.
Namun dalam jangka panjang, pemerintah telah menunjukkan upaya ke arah sana. Diantaranya, upaya untuk merealisasikan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN) dan beberapa program lain yang berasal dari pemerintah pusat.

“Kita berharap, pemda tidak terlalu fokus pada upaya jangka panjang, tapi upaya strategis dan konkrit untuk segera menurunkan tingkat kemiskinan harus pula diperhatiakan. Salah satunya dengan memberdayakan masyarakat di semua bidang, sesuai potensi alam yang kita miliki,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, secara nasional Provinsi Maluku menempati urutan keempat sebagai daerah termiskin di Indonesia setelah Provinsi Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT). (MAN)

Most Popular

To Top