Mampukah 4 Incumbent Bertahan – Ambon Ekspres
Trending

Mampukah 4 Incumbent Bertahan

AMBON, AE— Bursa pemilihan kepala daerah di empat kabupaten di Maluku pada 2015 semakin menarik. Empat petahana akan bertarung kembali di daerah masing-masing. Kondisi ini akan mempermudah calon yang masih berkuasa menuju kemenangan, dan menjadi beban besar kandidat lain untuk merebut kekuasaan.

Analis politik Almudatsir Sangadji kepada Ambon Ekspres via telepon, Kamis (19/3) mengatakan, penentuan seorang incumbent menang atau kalah tergantung baik atau buruknya kinerja pemerintahan selama menjabat. “Tingkat popularitas para incumbent ini dipicu oleh kinerja yang dilaksanakan selama kepemimpinan pertamanya. Tingkat popularitas mereka pasti lebih baik dari calon lainnya,” ujarnya.
Bakal calon bupati dan wakil bupati incumbent di daerah masing-masing yakni, Tagop Soedarsono Soulissa (bupati Buru Selatan), Sitti Umuriah Suruwaky (wakil bupati Seram Bagian Timur) berpasangan dengan Syarifudin Go,

Barnabas Orno (bupati Maluku Barat Daya) dan Abraham Godlife Gainau (penjabat bupati Aru).
Almudatsir melanjutkan, selama ini statistik pilkada menunjuk  bahwa incumbent punya peluang dan menang. Faktor utama dan sering digunakan dalam kontestasi pilkada adalah  penguasaan mesin birokrasi.

Incumbent lanjut dia, akan melakukan politisasi birokrasi dengan memanfaatkan Pegawai Negeri Sipil (PNS), baik di lingkungan pemerintahan maupun guru. Tak pelak, juga dengan ancaman sehingga dapat memuluskan keinginan politik. “Mereka memanfaatkan kekuatan PNS. Baik dengan ancaman di pindahkan ke wilayah terpencil atau digantikan dari jabatan. Padahal ini dilarang. Birokrat itu harus netral dalam momentum politik,”bebernya.

Sementara soal soal elektabilitas dan akseptabilitas, sangat tergantung bagaimana para incumbent memposisikan kebijakannya. Apakah kebijakan itu pro rakyat atau tidak dan mampu mengubah kehidupan masyarakat.

Dukungan politik yang massif dari partai pendukung juga menjadi faktor berikutnya. Dalam perebutan dukungan partai, incumbent punya kans besar.”Yang kedua adalah dukungan partai. Biasanya incumbent punya kapital politik besar soal dukungan partai. ketika dia menjadi kepala daerah punya power yang begitu kuat. Baik dari sisi komunikasi politik maupun finansial,”sebut dia.

Meski begitu dosen Universitas Darussalam Ambon ini menilai, kandidat pendatang baru dan telah bertarung sebelumnya tidak bisa di sepelehkan. Mereka punya kekuatan publik yang kuat, terutama yang menjadi tokoh masyarakat.

“Pendatang baru juga tidak bisa dianggap remeh atau tidak punya peluang. Karena rata-rata dari mereka adalah tokoh-tokoh lokal yang punya nama. Baik yang berasal dari kalangan politisi, birokrasi maupun tokoh masyarakat yang dianggap punya ketokohan,” kilahnya.

Untuk mengalahkan incumbent, menurut Almudatsir, pendatang baru harus mendapatkan dukungan publik yang signifikan. Hal ini sebagai penyeimbang atas kekuatan incumbent. Tata kelola pemerintahan yang buruk juga menjadi senjata para kandidat baru.

“Kenapa di Jakarta Joko Widodo bisa mengalahkan Fauzi Bowo yang notabanenya incumbent? itu karena masyarakatnya kritis dan dia (Jokowi-red) punya dukungan publik yang kuat,” jelasnya.  Apalagi lanjutnya, pilkada kali ini hanya satu putaran saja.

Disinggung soal incumbent siapa yang punya peluang kuat diantara keempatnya, dia belum bisa menganalisa dari sekarang. ”Soal peluang incumbent, saya kira relatif. Sebagai pengamat, kita hanya bisa melihat dari jauh. Tapi masyarakat yang mengetahuinya secara detail track record para incumbent ini,” papar kandidat magister ini.

Sementara itu menurut Mohamad Ikhsan Tualeka, Analis Politik sekaligus Koordinator Maluku Democratization Watch (MDW) mengungkapkan, belajar dari pengalaman, pelaksanaan pilkada sebelumnya paling tidak ada 3 faktor penting yang membuat incumbent punya kecenderungan untuk menang.

Pertama, akses ekonomis. Dengan posisi dan kedudukannya sebagai bupati/wali kota atau gubernur yang sedang menjabat, incumbent mempunyai ruang kesempatan lebih besar dalam menguasai akses ekonomi dibanding kandidat lain.

Dalam pilkada, lanjut dia, dana memang bukan segalanya tetapi segalanya memerlukan dana, dan harus diakui dana sangat penting keberadaannya. Dalam konteks ini, dana semacam ‘gizi politik’ bagi setiap kandidat. Tanpa gizi politik, seorang kandidat menjadi ‘lesu darah’, dan kalah dalam persaingan.

“Tak bisa dipungkiri, kemudahan akses ekonomi ini tentunya memudahkan seorang kandidat mendapatkan dana untuk pembiayaan pelaksanaan kampanyenya,” urai Tualeka kepada Ambon Ekspres, kemarin.

Yang kedua lanjut Tualeka, incumbent menguasai akses sosial-kemasyarakatan. Penguasaan terhadap akses ini sangat penting karena membuka ruang dalam mendongkrak tingkat elektabilitas dan popularitas kandidat. Dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa  pemilih tentu lebih memilih calon yang telah dikenalnya.

“Popularitas akan dengan mudah didapat oleh calon kepala daerah incumbent.  Betapa tidak, nama dan foto calon incumbent tentu akan lebih mudah dijumpai setiap hari baik lewat spanduk-spanduk maupun di media-media lokal baik cetak maupun elektronik. Faktor ini berpengaruh terhadap preferensi politik sang pemilih,” bebernya.

Incumbent menjalankan tugasnya sebagai pejabat dan pada saat bersamaan secara tidak langsung juga melakukan sosialisasi. Mengunjungi masyarakat, memberikan informasi dan menyajikan tanggapan atas pertanyaan masyarakat, meresmikan sebuah proyek adalah bagian dari tugas seorang pejabat.

Berikutnya akses politik. Kata dia, bila seseorang menjabat sebagai bupati, wali kota atau gubernur, maka sudah bisa dipastikan memiliki akses yang mudah untuk menduduki kursi pimpinan partai politik misalnya. Demikian juga pada saat pencalonan pilkada, incumbent tidak akan repot mencari kendaraan politik.  “Dengan segala dan aneka kemudahan yang dimiliki incumbent tersebut, maka tidak banyak calon incumbent yang mengalami kekalahan dalam pilkada,”ungkapnya.

Hanya saja, kata dia, bukan tak mungkin incumbent tidak bisa terjungkal, bila faktor fakta kegagalan kinerjanya selama menjabat bisa dipublikasi, disosialisasi dengan baik kepada pemilih antara lain melalui kampanye negatif.

Sementara disisi lain pendatang baru tampil dengan lebih agresif dan dinamis, punya personality yang lebih kuat dan menjanjikan, dengan menawarkan program-program dan visi-misi yang lebih realiatis dimata pemilih, maka incumbent bisa saja ditinggal dan akhirnya kalah. Yang perlu dicatat, besarnya peluang menang incumbent bukan  berarti menutupi kran kemenangan pendatang baru.

“Sebab, kekalahan calon incumbent Fauzi Bowo dari Jokowi di Jakarta, kekalahan calon incumbent Hamid Rizal di Natuna, AJ Sondakh di Sulawesi Utara dan kekalahan calon incumbent dalam Pilkada Kota Padang Panjang, Kabupaten Solok, Limapuluh Kota dan bahkan Pilkada Provinsi Sumatera Barat, merupakan contoh paling jelas, bahwa dalam pilkada, semua kandidat punya peluang untuk menang, tergantung strategi politik yang mereka jalankan,” kunci salah satu tokoh muda Maluku ini mencontohkan.(TAB)

Most Popular

To Top