Nilai Kesakralan Sasi Adat Kei Dinilai Telah Bergeser – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Nilai Kesakralan Sasi Adat Kei Dinilai Telah Bergeser

GMKI Malra/Tual Gelar Seminar Budaya

AMBON, AE—Keberadaan sasi adat Kei merupakan warisan budaya leluhur yang senantiasa harus dijaga dan dilestarikan. Sayangnya, kekayaan budaya Kei tersebut dinilai saat ini telah melenceng dari esensi sasi adat. Hal inilah yang mendorong GMKI Cabang Tual/Malra menggelar seminar dengan mengambil tema “Hukum Adat Sasi dan Peran Masyarakat Adat Dalam Kesinambungan Pemerintahan di Kota Tual”.

Seminar berlangsung di aula Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Kompleks Un, Kota Tual, Sabtu (21/3). Kegiatan dihadiri Ketua GMKI Cabang Tual/Malra Luther Rahayaan, senior GMKI Tual/Malra Paul Beruatwarin, pimpinan OKP se-Kota Tual dan Kabupaten Malra serta perwakilan pelajar/mahasiswa.

Dalam kesempatan seminar, Luther Rahayaan menyampaikan, seminar budaya yang digelar ini bertujuan agar pemuda memiliki tugas untuk menjaga fungsi dan peran sasi Hawear sebagai warisan dari para leluhur. ”Diharapkan semua elemen masyarakat menjunjung tinggi adat agar tetap terjaga nilainya dan tidak melenceng dari jalurnya,” ungkap Rahayaan dalam sambutan sekaligus membuka seminar budaya tersebut.

Dalam sesi materi, para narasumber yang dihadirkan yakni Maimuna Renhoran (peneliti/aktivis perempuan), Roby Teniwut (aktivis senior/budayawan) dan Anton Ohoira (dosen STIA Langgur/budayawan). Maimuna menyampaikan, dalam konteks budaya masyarakat Kei, sasi merupakan bagian dari jati diri, totalitas budaya dan manifestasi hukum Larvul Ngabal.

”Dalam UUD 1945 pasal 18b dinyatakan bahwa pada prinsipnya, negara mengakui dan menghormati hukum masyarakat adat dan nilai-nilai tradisional untuk hidup dan berkembang selama tidak bertentangan dengan Pancasila. Namun sayangnya, pemerintah masih dinilai kurang memperhatikan nilai adat sehingga masih terjadi benturan nilai,” kata Maimuna.

Hal ini juga ditegaskan Roby Teniwut yang mengakui dewasa ini di Kei, sasi mengalami pergeseran nilai dimana sasi digunakan dalam kepentingan politik dan hukum. ”Sasi yang digunakan tidak pada nilainya dapat menghambat pembangunan, layanan publik dan investasi,” paparnya.

Sementara itu, Antonius Ohoira, akademisi STIA Langgur itu menyarankan perlu ada diskusi mendalam antara para stakeholder, tokoh adat, akademisi dan pihak terkait untuk menyepakati nilai-nilai hukum adat termasuk sasi.
Dalam kegiatan tersebut, ketika sesi diskusi/tanya jawab terdapat beberapa pertanyaan dan pernyataan menonjol dari peserta diantaranya sasi telah mengalami degradasi nilai dimana awalnya Sasi sangat sakral, namun akhir-akhir ini sasi dapat digunakan atas latar  belakang politik, hukum dan nilai materialistis.

Peserta lain berpendapat, perlu ada rekomendasi kepada Pemkot Tual dan Pemkab Malra beserta legislatifnya untuk mengkaji secara mendalam terkait sasi sebagai warisan budaya adat Kei.(SAT)

Most Popular

To Top