Kaki Tangan Lemas, Sulit Genggam Barang, Itu Tanda Penyakit MG – Ambon Ekspres
Kesehatan

Kaki Tangan Lemas, Sulit Genggam Barang, Itu Tanda Penyakit MG

PADA pagi, tubuh merasa segar dan bisa melakukan apa saja. Entah mengapa, saat siang mendadak salah satu kelopak mata melemah dan turun. Tangan dan kaki mulai lemas. Sering tidak bisa menggenggam barang.
Bahkan, penderitanya sering terjatuh dan tidak bisa bangun seperti tidak punya kekuatan sama sekali untuk menggerakkan kaki. Itulah tanda-tanda penyakit myasthenia gravis (MG).

Dokter Isti Suharyanti SpS(K) menjelaskan, myasthenia gravis memang membuat otot-otot tidak bisa bergerak atau lumpuh. Seperti diketahui, otot di seluruh tubuh dikontrol oleh impuls saraf yang timbul dalam otak. Impuls saraf itu kemudian turun melewati saraf-saraf menuju serabut otot. Keduanya tidak benar-benar tersambung, namun ada jarak.

Persimpangan antara serat saraf dan otot yang akan dipasok itu bernama myoneural junction. “Supaya otot bergerak, ada zat kimia bernama asetilkolin yang menyeberang dan ditangkap oleh reseptor pada serabut otot. Pada penderita MG, reseptor ini dirusak oleh antibodi,” jelas dokter yang bertugas di RSUD dr Soetomo, Surabaya, tersebut.

Antibodi yang merusak itu disebabkan adanya kelainan autoimun. Akibat banyaknya reseptor yang dirintangi dan dirusak, asetilkolin tidak bisa menempel dan otot tidak dapat merespons. Asetilkolin yang terbuang akan dihancurkan oleh enzim. Penyebab kelainan itu belum diketahui pasti, namun hingga saat ini diduga karena genetik.
Kelenjar thymus juga kerap dikaitkan dengan MG karena kelenjar itulah yang menghasilkan antibodi.

Seharusnya, kelenjar thymus hilang seiring bertambahnya usia. Itu rata-rata terjadi sebelum manusia mencapai umur 20. Jika thymus masih ada dan aktif hingga lewat masanya, antibodinya memang akan menyerang tubuh.
”Pada penderita MG yang ditemukan ada kelenjar thymus, biasanya akan dilakukan operasi untuk menghilangkannya,” ungkap dokter yang pernah menangani langsung beberapa kasus MG.

Setelah dihilangkan, beberapa pasien bisa sembuh; ada yang hanya berkurang gejalanya atau malah berkurang sebentar, kemudian terjadi gejala MG seperti sebelum dioperasi. ”Karena itu, penyebabnya belum bisa diketahui pasti. Obatnya pun belum ada,” lanjutnya.

Tindakan medis yang bisa dilakukan adalah pemberian obat-obatan untuk menurunkan gejala. Yakni, dengan minum mestinon seumur hidup. Dokter Isti menjelaskan, kerja mestinon adalah untuk menghambat enzim kolin esterase yang menghancurkan asetilkolin yang tidak bisa ditampung. ”Reseptor yang tersisa ini kan butuh sekali. Jadi, asetilkolinnya jangan buru-buru dipecah. Biar saja menumpuk, biar ’dipaksa’ nempel,” jelasnya.

Sehari survivor MG harus minum tujuh butir mestinon bila kondisinya sedang tidak baik. Dosis itu bisa dikurangi bila kondisinya baik. Mestinon cukup mahal, namun bisa ditebus dengan BPJS karena termasuk obat yang bila tidak diminum bisa mengancam nyawa. Obat lainnya yang bisa diberikan adalah intravenous immunoglobulin (IVIG) untuk mengurangi penggiatan kekebalan.(puz/c6/dos)

Most Popular

To Top