Kartu Sakti Belum Ampuh di Maluku – Ambon Ekspres
Trending

Kartu Sakti Belum Ampuh di Maluku

AMBON, AE— Tiga kartu sakti, Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), hanya bisa menjadi stimulan bagi masyarakat dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang tidak ampuh dalam mengatasi persoalan kemiskinan di Maluku.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Diah Utami mengatakan, kendati tiga kartu sakti tersebut dapat membantu masyarakat miskin di Maluku, namun dampaknya tidak signifikan dalam mengurangi jumlah masyarakat miskin di daerah ini.

“Memang membantu, karena dengan tiga kartu itu, masyarakat terbantu dalam memenuhi kebutuhannya. Tapi, untuk Maluku, belum dapat diharapkan untuk menekan tingkat kemiskinan,” ungkap Diah Utami di ruang kerjanya, kemarin.

Dikatakan, untuk menekan dan mengurangi tingkat kemiskinan di Maluku, selain program tiga kartu tersebut, harus diikuti dengan program pemberdayaan masyarakat di bidang perekonomian.

Masyarakat Maluku butuh stimulasi untuk lebih berdaya. Penyediaan lapangan kerja menjadi salah satu jalan paling efektif untuk melepaskan predikat sebagai daerah termiskin keempat di Indonesia.

“Penyediaan lapangan kerja, itu yang penting. Sehingga, masyarakat bisa lebih berdaya dalam meningkatkan taraf hidup ekonomi menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Hal senada juga disampaikan, pengamat ekonomi Universitas Pattimura (Unpatti) Jufri Pattilouw. Kata dia, “Yang pasti, aspek keadilan sosial harusnya kartu-kartu sakti tersebut juga menyentuh masyarakat Maluku  sebagai bagian integral dari negara ini. Saya tidak bisa memperkirakan jika Maluku luput dari peta distribusi. Tapi  bagaimana pun, seharusnya Maluku menjadi prioritas, mengingat daerah ini memiliki prestasi sebagai juara termiskin keempat di Indonesia,” kata  dia, Rabu (25/3).

Menurutnya, kemiskinan akan bertambah jika masyarakat  yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak diberi stimulasi untuk berkembang. Dan masyarakat  yang berada sedikit diatas garis kemiskinan (hampir miskin) yang jumlahnya juga cukup besar tentu akan sangat rentan terhadap gejolak ekonomi, misalnya inflasi.

“Mereka yang hampir miskin tersebut berpeluang untuk terperosok menjadi miskin dan menambah angka kemiskinan, jika stabilitas ekonomi tidak terjaga dengan baik,” kata dia.

Sebenarnya ada program-program lain yang tetap berjalan di Maluku, seperti kartu perlindungan sosial dan sebagainya. Namun Maluku sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, jelas butuh penanganan khusus.

“Sehingga kartu-kartu sakti yang menjadi program unggulan presiden Jokowi tersebut memang sudah seharusnya segera disalurkan ke Maluku,” ungkapnya.

Ekonom dari Universitas yang sama, Teddy Ch Leasiwal mengemukakan, penyaluran kartu sakti sampai saat ini pun belum dilakukan secara optimal, karena belum terdistribusi secara merata kepada semua keluarga miskin, terutama di Maluku. Dia juga tidak menampik adanya dampak positif  tiga kartu sakti tersebut terhadap daya beli masyarakat miskin. Namun, itu hanya dalam jangka waktu pendek.

“Kalau sampai saat ini kartu sakti belum turun tentu  masyarakat miskin akan semakin sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.  Namun, perlu kita ingat bahwa kartu sakti ini bukan untuk mengurangi kemiskinan di Maluku,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, angka kemiskinan di Maluku, ada atau tidak adanya kartu sakti tetap cenderung meningkat, karena lapangan kerja yang sempit, masih banyak daerah yang terisolasi, belum lagi inflasi yang tinggi pada wilayah-wilayah yang terisolasi, selain itu kebijakan- kebijakan ekonomi masih cenderung membuat jurang kemiskinan di Maluku semakin lebar.

Sebaiknya pemerintah Maluku, memikirkan cara yang lebih ril dalam mengurangi kemiskinan, misalnya dengan meningkatkan pertumbuhan lapangan kerja, menggalakan ekonomi kreatif berbasis sumber daya alam, membuka wilayah-wilayah yang terisolosi dengan memprioritas pembukaan akses transportasi dan pasar, sehingga akselerasi ekonomi bisa terjadi.

“Memang penyelesaian persoalan kemiskinan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi sampai menghilangkan kemiskinan, itu sesuatu yang mustahil. Tetapi mengurangi laju kemiskinan dapat dilakukan, asalkan dilakukan secara komprehensip, terarah dan konsisten,” ungkapnya. (MAN)

Most Popular

To Top