2 atau 3 Pasangan di SBT – Ambon Ekspres
Trending

2 atau 3 Pasangan di SBT

AMBON, AE— Pertarungan di bursa pemilihan kepala daerah Seram Bagian Timur, makin seksi. Pasangan yang bertarung diperkirakan hanya dua sampai tiga. Mereka yang bersaing, juga petarung di SBT baik dalam moment pilkada maupun pemilihan anggota legislatif saat pemilihan umum.

Mukti Keliobas tercatat pernah bertarung melawan Abdullah Vanath-Siti Umuriah Suruwaky dalam pilkada lima tahun lalu. Saat itu Vanath menang. Pertarungan bahkan harus berakhir di Mahkamah Konstitusi. Siti kini juga akan main dalam bursa dengan mencalonkan diri sebagai bupati.

Selain kedua calon bupati ini, Fachri Alkatiri, Raat Rumfot, dan Fathani Sohilauw pernah bertarung di SBT. Fachri dua kali terpilih mewakili rakyat SBT di DPRD Maluku, Raat berulang kali menjadi wakil rakyat di DPRD SBT, kemudian peraih suara terbanyak dapil SBT untuk DPRD Maluku. Sementara Fatani dua kali bertarung, satu kali lolos ke DPRD Maluku, sekali kalah.

Mukti didorong berpasangan dengan Fachri yang digadang PKS. Gubernur Maluku secara terbuka memberi dukungan kepada Mukti, di sisi lain, dia juga mendorongnya berpasangan dengan Fachri. Namun, sampai kemarin pasangan ini belum terbentuk. Mukti belum punya bendera, sementara Fachri sudah diusung PKS.

Sedangkan Siti, memilih Saifudin Go. Saifudin atau biasa disapa Ongen Go, adalah birokrat murni. Namun, dia adalah tokoh dari Geser, yang kerap disebut-sebut mewakili basis Geser. Siti sendiri dua kali mendampingi Vanath, dan dua kali juga mereka terpilih. Pernah Siti mengalahkan Mukti. Dan kini Siti kembali akan melawan Mukti.

Kini mereka kembali bertarung. Tapi dalam atmosfer berbeda. Terutama basis politik yang salah satu variabel penentu kemenangan. Mukti disebut masih punya kantong suara yang utuh sejak Pilkada 2010.

Beberapa kecamatan pecahan Seram Timur seperti kecamatan Tutuk Tolu, Kilmuri, Kian Darat dan Lian Fitu, merupakan basis suara Mukti. Ditambah kecamatan Siwalalat, Teor dan Kesui. Sementara kekuatan dan basis suara Sitti Umuriah Suruwaky, juga cukup besar. Dibantu Vanath, pasangan ini bisa mendulang suara banyak dari PNS.
Sitti akan bekerja ekstra untuk bisa mencuri suara di kecamatan Pulau Panjang, Pulau Gorom, Gorom Timur, Bula, Bula Barat, Werinama, Seram Timur, Tutuk Tolu dan Kiandarat yang wilayah rebutan kedua figur ini.

Analis politik Almudatsir Sangadji menilai, konfigurasi calon di pilkada di SBT hanya dua hingga tiga pasangan. Jumlah ini kata dia, dilihat dari presentasi dukungan politik (suara dan kursi) di DPRD dan aspek figuritas.

Pasangan pertama yakni, Mukti Keliobas- Fachri Husni Alkatiri yang dari sisi figuritas dan dukungan partai punya peluang besar maju. Kemudian Sitti Suruwaky-Saifudin Go. Sementara dua figur yang diprediksi juga maju yakni  Fatani Sohilauw atau Raad Rumfot.

“Dari sisi persyaratan partai dan figuritas, kemungkinan besar Mukti-Fachri Alkatiri bisa maju sebagai bupati dan wakil bupati Sementara pasangan Sitti Umuriah Suruwaky-Saifudin Go, dari sisi presentasi dukungan partai belum tentu lolos sebagai calon bupati dan wakil bupati, Karena pasangan ini belum punya peta jelas soal dukungan partai,” ujar Sangadji kepada Ambon Ekspres via seluler, Kamis (26/3).

Dalam Undang-Undang nomor 01/2015 sebagaimana diubah dengan UU nomor 8/2015 tentang pilkada mengatur bahwa pasangan calon bupati dan wakil bupati dari partai atau koalisi partai harus memenuhi syarat 20 persen kursi di DPRD dan 25 persen suara hasil pemilu.

Pasangan Mukti-Fachri dari sisi figuritas sangat menarik. Hanya saja kata Sangadji, sampai sekarang belum teruji atau dipatenkan. Sehingga komunikasi politik dengan kandidat dan partai lain masih terbuka.

“Dari sisi kefiguran menarik. Karena dukungan politik parlemen, sangat realistis. Tetapi proses ini kan belum diuji. Artinya komunikasi politik untuk dukungan partai masih terbuka,”katanya.

Soal peluang kemenangan, Sangadji belum bisa memprediksi. Menurut dia, kemenangan Mukti-Fachri dan Sitti-Saifudin atau Fatani jika sudah mendapatkan pasangan, sangat ditentukan sejarah politik di SBT.

“Sebab kita tidak bisa membaca peluangan kemenangan head to head, misalnya Mukti dan Sitti. Akan tetapi juga membaca sejarah politik di SBT atau pertarungan politik lama yang bisa mempengaruhi konstalasi politik dan menentukan kemenangan,” katanya.

Faktor penentu lainnya, lanjut dia, dukungan bupati SBT sekarang Abdullah Vanath. Dukungan Vanath kata dia, belum tentu diberikan kepada Sitti yang notabenenya wakilnya selama dua periode.

“Ketiga figur balon bupati ini dari Gorom. Kemungkinan besar dukungan AV ke Fatani Sohilauw jika dia juga calon dan Sitti. Bisa saja masuknya Fachri dengan MK bisa saja dukungannya lari ke MK-FA,”ucapnya.

Dia memprediksikan, apabila dukungan Vanath sepenuhnya diberikan ke pasangan Mukti-Fachri, maka kemenangan dapat diraih dengan mudah. ”Kalau ke pasangan lainnya, maka perolehan suara di pilkada bisa jadi merata. Tetapi kalau Vanath dukung MK-Fachri,  peluang menang mereka besar,” tuturnya.

Pengamat politik Universitas Pattimura Ambon Jen Latuconsina, menilai, kemungkinan  hanya ada 3 atau 4 pasangan calon bupati dan wakil bupati. Pasalnya, pilkada di kabupaten bertajuk Ita Wotu Nusa ini, tak diikuti incumbent.

“Dari kemungkinan 3-4 calon itu, hanya dua yang akan bertarung secara ketat yakni Mukti Keliobas dan Sitti Umuriah Suruwaki. Keduanya memiliki popularitas yang siginifikan. Dimana lebih dikenal masyarakat SBT ketimbangan calon lainnya,”kata Latuconsina via pesan singkat tanpa menyebut nama calon lainnya, kemarin.

Hanya saja lanjut dia, keunggulan kedua pasangan tersebut harus disertai dengan kualitas dan pengaruh wakil bupati masing-masing yang bisa menjadi vote geter untuk meraih suara signifikan. “Disamping itu kendaraan partai yang solid juga menjadi penentu kemenangan  kedua pasangan ini,” tambahnya.

Selain itu, peluang bagi Mukti dan Sitti untuk merebut kursi bupati terkesan rumit apabila Fatani dan Masum Wailissahalong juga ikut bertarung. Kedua figur alternatif ini, bisa menjadi kuda hitam.

Soal dukungan Vanath, kandidat doktor ini menilai, tidak bisa dipastikan kepada Sitti. Ini disebabkan, konfigurasi calon bupati dan wakil bupati sampai sekarang yang belum final dan ditetapkan Komisi Pemilihan Umum.

“Apalagi rata-rata seluruh calon yang menguat belum ada yang representatif dari Werinama, daerah kelahiran Vanath. Karena itu jika Masum Wailissahalong ikut serta, maka kemungkinan Vanath akan mensupportnya karena dia satu daerah dengan Vanath. Jika Vanath mensupport Masum Wailissahalong berarti peluang Sitti untuk bertarung ketat dengan Mukti sangat tipis,” urainya.

Analis politik universitas Paramadina, yang juga peneliti Indonesia Governance Index (IGI) Mohamad Ikhsan Tualeka, pertarungan dalam Pilkada SBT akan kembali melibatkan polarisasi kekuatan politik lama, yang telah mengkristal dan belum cair hingga kini. Menurutnya akan ada dua kutub politik yang bersaing.

“Saya melihat persaingan politik akan kembali melibatkan representasi kekuatan politik dari Abdullah Vanath dengan seteru lamanya Mukti Keliobas. Abdullah Vanath tentu tak mau kuda-kuda dan dominasi Politiknya di SBT berakhir, dia akan mendukung kandidat yang punya peluang menang paling besar dan memiliki hubungan politik dan emosional yang kuat dengan dirinya. Wakil Bupati saat ini Siti, saya kira akan dia usung”, Jelas Tualeka

Menurut Tualeka, Mukti Keliobas, walau pernah dua kali kalah bertarung, masih memiliki pendukung tradisional dipastikan akan maju. Ini jadi semacam persaingan jilid dua buat Mukti. Sementara kandidat lain kalaupun maju hanya menjadi pelengkap.

“Saya kira Mukti juga masih punya kans besar untuk bisa memenangkan pilkada Kali ini bila kekuatan pendukung lain mulai merapat atau dapat ia rangkul. Sebagai kader Golkar, bila saja semua kader mendukung penuh, termasuk Gubernur Maluku Said Assegaf langkah Mukti bisa saja moncer,”k atanya.

Apalagi belakangan ini menurut Tualeka, dalam berbagai kesempatan, khususnya saat kunjungan kerja Gubernur Maluku ke SBT belum lama ini, Assagaff dalam sambutannya secara terang-terangan menyatakan  mendorong dan mendukung sepenuhnya Mantan Ketua DPRD SBT, Mukti Kaliobas sebagai Calon Bupati SBT. Sedangnya dalam acara yang sama, Vanath juga tak mau kalah, dengan mengatakan, ia secara terbuka mendukung Siti Umuriah  Suruwaky,

“Jadi secara politis ini bisa juga dikatakan sebagai persaingan Vanath vs Assegaf. Rupanya sisa kompetisi politik saat pilgub kemarin juga belum usai,” katanya.

Namun Tualeka berharap, persaingan politik yang terjadi jelang maupun pasca pilkada tidak membuat  konstalasi politik cenderung memanas apalagi hingga memunculkan konflik yang eksesif.

“Saya kira belajar dari pengalaman, masyarakat saat ini makin dewasa, asalkan elit politik dan para pendukung kandidat dalam pilkada mau berpolitik secara santun, serta menghargai nilai-nilai demokrasi,” kuncinya.(TAB)

Most Popular

To Top