Konflik Yang Diwariskan secara Turun Temurun – Ambon Ekspres
Pendidikan

Konflik Yang Diwariskan secara Turun Temurun

Ini adalah merupakan sebuah cerita fakta yang telah ada sejak zaman dahulu kalah asalnya dari negeri Buano. Pada zaman dhulu sebelum terbentuk desa/negeri yang sekarang katong kenal dengan Buano Utara masyarakat di sana hidup terpisah-pisah ada yang tinggal di pegunungan dan di pesisir-pesisir panatai, ada sekitar lima tempat yang dorang tempati karena waktu itu hidop dalam suku atau kelompok masing-masing.

Nah dari sini ada salah seorang kepala suku dari kelompok yang tinggal di pegunungan telah menikah dengan seorang perempuan dari suku yang tiggal di pesisir pantai.Setelah upacara pernikahan selesai si perempuan tadi dia ikut lakinya ke tempat tinggal lakinya yang di pegunungan sebagaimana kebiasaan masyarakat lain pada umumnya, sesampainya dong dua di dia pung laki pung tempat tinggal dong di sambut dengan acara adat dan kebiasaan di sana sehingga keluarga besar sangat senang paskali menerima dorang berdua.

Di pegununganlah inilah dong hidup rukun dan damai bersama keluarga besar di sana, sementara keluarga dari si parampuang tadi dorang sedih sekali mengingat saudari mereka yang satu-satunya pergi tinggalkan mereka semua. Waktu telah berlalu hari demi hari telah dong lalui hingga bulan demi bulan telah berlalu kini tiba saatnya untuk parampuang tadi mengandung, keluarga dari si lelaki sangat bahagia sekali namun ada hal-hal aneh yang muncul pada si perempuan tadi dia minta makan itu makanan yang harus asalnya dari tempat di mana dia di besarkan yakni makanan yang di makan oleh orang-orang di pesisir pantai seperti bia, ikan batu-batu, kepiting dan lain-lain.

Hamper tiap hari si perempuan tadi dia menangis dan memberontak dari pagi sampe sore karena makanan yang dia minta itu sangat susah sekali untuk dorang temukan di daerah-daerah pegunungan. Keluarga laki-laki yang tadinya sayang dan cinta terhadapnya sekarang semuanya sudah berubah menjadi marah dan benci terhadap sikap si parampuang tadi, bagaimana tidak apabila makanan itu tidak ada saat makan maka seperti biasanya dia berontak dan menangis lagi dari pagi hingga sore kombali para keluarga tidak bisa tahan lagi dengan kondisi seperti bagini setiap hari.

Karena dorang samua tidak tahan lagi dengan ulah si parampuang tadi maka jalan terakhir mereka usir untuk kembali ke tempat asalnya di pesisir pantai iko dia pung saudara-saudara di sana. Lakinya suru pulang begitu saja karena dorang sudah terlalu marah dan benci terhadap dia, tanpa menunggu lama si parampuang tadi menyiapkan bekal dan pulang iko dia pung keluarga dengan keadaan menggandung bahkan su mau melahirkan. Tanpa di antar oleh dia pung laki karena lakinya sendiri yang mengusir dia pulang dengan keadaan marah berat bahkan sebelum berangkat laki dan keluarganya sempat menghina si perempuan.

Dengan perasaan sedih di sertai rasa haru dia mulai melngkah meniggalkan tempat lakinya sepanjang perjalanan dia menangis menyelesuri gunung dan daratan hutan dalam keadaan mengandung sebelum sampai ke dia pung saudara-saudara ada beberpa tempat yang dia singga dan istirahat di situ dan tempat-tempat itu di beri nama sesuai dengan kondisi dia saat berada di tempat itu misalnya ada satu tempat yang di beri nama “Hatu Nusu” hatu artinya batu dan nusu artinya tulang-tulang rusuk, menurut bahasa Buano.

Tempat ini di beri nama hatu nusu karena saat dia singga untuk istirahat di tempat ini di situ ada terjdi suatu kejadian terhadap dirinya yaitu dia merasakan sakit pada tulang-tulang rusuknya karena tidak lama lagi dia akan melahirkan.

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melehlahkan apalagi dengan kondisi mengandung maka ini saatnya untuk dia tiba pada keluarganya, dong kaget ketika dia datang dong gembira sekali karena selama ini dia pergi tinggalkan dong samua. Namun setelah dong Tanya mana se pung laki kanapa dia tar antar se kamari malahan dia tega sekali biarkan se sandiri yang bajalang dari jauh-jauh sana sampe ke sini, si parampuang dengan nada menahan tangis se jadi-jadinya dia berkata beta dapa usir dari beta pung laki dan keluarganya makanya beta pulang ini seng ada orang yang antar beta bahkan dorang hina-hina katorang katanya babou anyer-anyer dan segala rupa macam.

Akhirnya keluarga besarnya tidak menerima perlakuan yang di lakukan terhadap saudara parampuangnya dong mengamuk apalagi si perempuan adalah putri bonso dari beberapa bersaudara bahkan saudara-saudara laki-lakinya di suku dorang adalah para kapitan makanya mereka sangat marah sekali. Dari sinilah dorang mulai mengangkat sumpah untuk tidak ada lagi ada ikatan saudara dengan dorang para anak cucu tidak boleh menikah lagi dengan turunan dari mereka bahkan karena saking marahnya mereka akan berjanji akan membunuh anak yang sedang ada di dalam kandungan ibunya itu saat ia lahir supaya tidak ada ikatan turunan dari dorang yang ada di pegunungan itu.

Beberapa hari kemudian lahirlah anak yang di tunggu-tunggu tadi maka sesuai dengan perjanjian dong anak tersebut telah di pastikan bahwa dia laki-laki maka di bawalah dia di suatu tempat yang telah di tentukan untuk di bunuh dan di potong setelah itu di bawa ke lautan lalu di buang potongan-potongan itu tiba-tiba terjadi satu kejadian pada bayi malang tersebut yakni potongan-potongannya berubah menjadi ikan cakalang. Sampai saat ini tempat itu menjadi tempat ikan cakalang berkumpul dan apabilah para nelayan sampai di tempat itu maka di situ akan di lihat secara nyata bagaimana ikan-ikan cakalang di daerah tersebut berkumpul.

Setelah prosesi “Tunu manan hatu putih” Di mana dalam prosesi ini adalah peristiwa berkumpulnya masyarakat yang awalnya hidup berpisah-pisah untuk hidup menyatu dalam satu kampong yang sekarang di kenal dengan Buano. Peristiwa di atas tidak akan di lupakan bahkan tempat yang awalnya di pesisir pantai tadi mereka tidak rela kalau sampai para anak cucu dari turunan mereka yang tadinya berasal dari keluarga laki-laki berada di sana. Hal ini akan terbukti sampai sekarang di sana dan di rasakan oleh para anak cucu.

Mereka yang bersal dari keluarga laki-laki atau dari gunung adalah Nuru Unau pada marga Tamalene sedangkan dari pihak parampuang atau dari pesisir pantai itu mereka di kenal dengan Nuru Naini pada marga Tamarele. Di pesisir pantai yang dahulunya mereka tinggal dari keluarga parampuang itu di kenal dengan tempat ikan dan Bia terbanyak di situ, namun anehnya ketika ada orang-orang yang punya marga atau ikatan turunan dari si laki-laki tadi mau mencari ikan di situ pasti kembali dengan tangan kosong tanpa dapat apa-apa tapi kalu selain dari dorang pasti dapat ikan dan Bia sampai puas di sana itu karena para leluhur menyembunyikan semua yang ada di daerah itu dari dorang semua dan bagi yang tidak percaya silahkan ke Buano dan buktikannya di sana.(*)

Most Popular

To Top