Majulan Pendidikan Maluku – Ambon Ekspres
Pendidikan

Majulan Pendidikan Maluku

MULAILAH DARI ANAK, BUKAN DARI KURIKULUM

Oleh: Try Nabilla Buseri (masyarakat)
Berbicara tentang pendidikan, mesti dimulai dari ‘para belia’. Bukan dari kurikulum! Kenakalan pada anak merupakan “embryo management”. Mereka nakal karena ingin pengakuan. Itulah peran pendidikan dalam mendidik anak. Mendidik anak berarti membimbing dan mengelola pribadi mereka untuk dapat mengubah perilakunya menjadi patut, dan tumbuh menjadi manusia yang berakhlakul kharimah, mandiri, dan produktif.

Kita akan sangat sulit mencegah anak-anak untuk tidak merokok misalnya, ketika gurunya, orang tua atau orang-orang yang menasehatinya masih saja mengepulkan asap. Gerakan “Gemar Membaca”pun akan sulit menjadi kebiasaan anak didik dan hanya menjadi slogan dan bahan ceramah selama mereka yang dianggap sebagai pendidik (panutan) dalam prakteknya masih memberikan contoh jauh dari apa yang mereka katakan/ajarkan.

Lantas bagaimana nasib pendidikan di daerah Maluku? Apakah semakin baikkah, sama saja atau semakin menurun? Momentum Gerakan Maluku Gemar Membaca (GMGM) ini semestinya menjadi refleksi seluruh komponen daerah, khususnya mereka yang sehari-harinya bergelut di dunia pendidikan.Pendidikan kita jangan menciptakan ketakutan untuk gagal dalam berbuat dan berpraktik. Jangan digegas atau dikarbit agar dapat bersaing dan meraih angka tinggi dalam nilai-nilai ujian dengan cara instan. Oleh karena pendidikan, sejatinya mampu memberikan pengalaman kepada anak untuk banyak berbuat, adalah pengalaman yang bermakna.

Namun kita juga tidak menutup mata atas berbagai keberhasilan yang telah diraih daerah ini. Misalnya, sejumlah siswa Maluku yang mengharumkan nama daerah di event nasional maupun internasional. Masih ada guru yang tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab walaupun telah mengabdi puluhan tahun dengan status honor dan upah yang minim.

Masih ada kepala sekolah yang selalu menjadi inspirasi dan motivasi bagi guru-gurunya dan tidak tergoda dengan ‘rayuan’ dana pembangunan sekolah. Juga masih ada sejumlah kepala daerah yang diberi penghargaan karena perhatiannya yang luar biasa terhadap kemajuan pendidikan di daerahnya. Dan masih banyak lagi sosok anak bangsa yang membanggakan yang patut diteladani, walaupun mereka kadang tersembunyi (tidak ter-expose) dan kalah tenar dengan mereka yang asyik berbuat semau gue.

Disinilah perlunya “Gerakan Maluku Gemar Membaca” seluruh bidang termasuk pendidikan. Seluruh lapisan masyarakat harus bangkit dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, sejahtera. Bangkit dari kemalasan, kebodohan, kepura-puraan, ketidakadilan, kesombongan, keserakahan, keculasan, dan bangkit dari sikap serta pikiran-pikiran yang masih berbau individualitas (hanya demi kepentingan diri sendiri/kelompok).

Untuk memperkuat potensi yang beragam, maka dapat kita identifikasikan masalah tersebut dengan 9 prinsip :
1. Berorientasi pada perkembangan dan kebutuhan anak (Developmentally Approriate Practice)
2. Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain
3. Menciptakan lingkungan yang kondusif
4. Menggunakan pembelajaran terpadu melalui tema-tema yang menarik
5. Mengembangkan kecakapan personal dan social sebagai bentuk kecakapan hidup generic
6. Menggunakan berbagai media yang ada di lingkungan sekitar anak
7. Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)
8. Dilakukan secara bertahap, dan berulang-ulang melalui siklus yang berkesinambungan
9. Memanfaatkan teknologi informasi sederhana

Sembilan prinsip di atas amat diperlukan dalam memahami pentingnya Gemar Membaca di Maluku. Mulailah saat ini juga. Yakinlah, tidak ada yang mustahil jika ada kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh diiringi doa kepada Yang Maha Kuasa. Wallahualam Bishawab.(*)

Most Popular

To Top