Jejak Islam Tionghoa di Maluku – Ambon Ekspres
Pesona Manise

Jejak Islam Tionghoa di Maluku

KAJIAN arkeologi, sejarah Islam selama ini masih banyak mengungkap tentang asal mula Islam yang datang di wilayah nusantara.Selama ini, teori menyebutkan bahwa Islam nusantara berawal dari berasal dari Arab, Persia, Gujarat. Sementara sangat minim penjelasan yang menyangkut pengaruh Islam dari China. Pengaruh muslim China di Maluku sudah dipastikan ada, mengingat pedagang China telah memainkan perannya sejak sejak era perdagangan di Maluku dimulai.

Dari penelitian arkeologi, berupaya untuk melacak jejak pengaruh muslim China di Maluku yang tidak pernah tercatat dalam sejarah islamisasi di Maluku. Lokasi penelitian mulai dilakukan di Pulau Haruku, mengingat banyak data pendukung yang menunjukkan adanya jejak Islam di pulau tersebut.

Terpilih empat negeri di wilayah Pulau Haruku yang pada masa lampau merupakan persekutuan negeri yang membentuk kerajaan Islam Hatuhaha, yang berpusat di Rohomoni. Selain dianggap sebagai pusat kerajaan Islam masa lampau, hingga saat ini masih jelas teramati, salah satunya dengan adanya Mesjid Kuno Uli Hatuhaha atau Hatuhahamarima, yang disebut sebagai mesjid induk milik keempat negeri Islam itu.

Pengaruh Islam China dapat dijajaki pada arsitektur mesjid Kuno Uli Hatuhaha di Desa Rohomoni, pada bagian pintu masuk terdapat tiang pada kanan dan kiri pintu beranda mesjid terdapat ukiran naga. Simbolisasi naga sangat identik dengan perlambangan banyak kebaikan, diantaranya kesuburan dan kemakmuran.

Selain itu, dalam pemahaman masayarakat, berbagai bentuk ukiran dan motif hias pada Mihrab di mesjid-mesjid kuno, juga dianggap identik dengan budaya China. Seperti yang terlihat di mesjid kuno di Desa Kabauw dan Kailolo. Pada arsitektur mesjid, pengaruh China tampak jelas dengan adanya motif naga pada  pintu beranda dan serambi.

Di abad ke 15, Uli Hatuhaha telah menerima pengaruh Islam dari para mubaligh Islam yang datang dari Arab, Pasai, dan Jawa. Diantara para mubaligh itu ada seorang keturunan China bernama Ma Hwang. Oleh penduduk setempat disebut Upuka Pandita Mahuang yang berarti Tuanku Mubaligh Ma Hwang.

Dari tradisi tutur masyarakat, terungkap bahwa di Maluku, yakni di Pulau Haruku, di situs Kerajaan Islam Hatuhaha, terdapat informasi tentang penyebaran Islam dari Upuka Pandita Mahuang. Selain itu,terdapat Marga Pattiasina yang juga dipercaya sebagai leluhur yang berasal dari China yang berarti Raja China. Jika tradisi tutur menjadi acuan, memang terdapat pengaruh komunitas muslim China di Maluku.

Berdasarkan sumber lisan tokoh masyarakat di Uli Hatuhaha, marga Pattiasina di Desa Rohomoni, merupakan keturunan tokoh penyebar Islam dari China, yang bernama Pai Chin. Pattiasina sendiri mengandung pengertian Pati atau Raja dari China.

Wuri Handoko, arkeolog yang meneliti tentang Islam di Balai Arkeologi Maluku dan Maluku Utara mengatakan, penelitian yang dilakukan mengenai jejak Islam Tionghoa masih merupakan tinjauan awal. Sementara masih ada kendala-kendala yang dihadapi pada saat berlangsungnya penelitian. Minimnya penutur dan juga tertutupnya masyarakat setempat dalam memberikan informasi yang dianggap tabu.

“Masyarakat sekitar masih menganggap tabu dalam memberikan informasi, karena tradisi adatnya yang masih sangat kuat. Masih perlu lagi untuk digali lebih dalam mengenai jejak Islam Tionghoa di Maluku,” jelas Wuri. (ARI)

Most Popular

To Top