Kemenangan Tagop, Ditentukan Ayub – Ambon Ekspres
Trending

Kemenangan Tagop, Ditentukan Ayub

AMBON, AE— Bursa pemilihan kepala daerah di Buru Selatan tak kalah menarik dari tiga kabupaten lainnya yang akan menggelar pesta politik lokal lima tahunan itu. Tagop Soulisa dinilai tak akan menang mudah, jika tak lagi berpasangan dengan Ayub Saleky.

Pilkada Bursel 2010, pasangan Tagop Soulissa-Ayub Seleki yang kini menjadi bupati dan wakil bupati bersaing ketat dengan pasangan Anthon Lesnussa-Hadji Ali dan Zainudin Booy-Yohanis Lesnussa. Tagop dan Ayub yang diusung PDI Perjuangan ini, akhirnya menang dengan selisih suara sedikit.

Selain ketiga figur ini, ada nama lain yang muncul sebagai calon wakil bupati, yakni Semy Latbual anggota DPRD Maluku asal PDIP dapil Bursel dan Akhialus Soulissa anggota DPRD Bursel.

Tagop didorong untuk kembali bertarung. Namun wakilnya, sampai sekarang belum ditentukan. Sejumlah nama digadang menjadi wakilnya pada pilkada kali ini. Diantaranya Semy Latbual, Akialus Soulissa dan Hakim Fatsey.
Belakangan muncul nama Ayub Saleky yang akan maju sebagai calon bupati, disisi lain juga diisukan masih tetap akan bergandeng dengan Tagop. PDIP Maluku sebagai partai pendukung Tagop masih dalam proses penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati di daerah itu.

Tagop dinilai sulit menang bila terdapat dua pasangan calon. Ini dilihat dari sebaran dukungan dan kekuatan politik di lima kecamatan di Bursel. Pilkada 2010, pasangan Tagop-Ayub unggul di kecamatan Ambalau, Namrole dan Leksula. Kemenangan ini dominan ditentukan oleh kehadiran Ayub sebagai wakil dari Leksula.

Analis politik Almudatsir Sangadji menilai, sangat mudah Tagop kembali memenangkan pilkada bila tetap berpasangan dengan Ayub. Pasalnya, kata dia, kedua figur ini sementara punya kekuasaan di lingkup pemerintahan dan masyarakat Bursel.

“Agak mudah di analisa jika mereka berdua kembali berpasangan dan memenangkan pertarungan. Keduanya sementara berkuasa disana dan punya jaringan yang tidak bisa diragukan,” ujar Sangadji kepada Ambon Ekspres via seluler, Rabu (1/4).

Sebaliknya kata dia, bila Tagop memilih orang lain sebagai wakilnya dan Ayub tetap maju bupati, kekuatan politik bisa berimbang. Meski menjabat wakil bupati, Ayub dinilai punya pengaruh siginifkan di birokrasi.

“Ayub meskipun wakil bupati, tapi dia punya pengaruh yang cukup signifikan. Tensi politik Bursel sangat kompetitif jika ada figur lain calon ditambah Tagop dan Ayub,”papar dosen Unidar, yang sering menganalisa persaingan pilkada sejak 2009 ini.

Dengan demikian, lanjut Sangadji, kemenangan Pilkada Bursel kali ini sangat ditentukan oleh calon wakil bupati. Selain itu, aspek geopolitik dan basis kekuatan politik (massa).

Dikatakan, dari sisi geopolitik, Akialus Soulissa, Hakim Fatsey yang merupakan mantan Sekda Bursel dan Semy Latbual dapat dijadikan figur wakil. Ketiga nama ini berasal dari kecamatan Leksula. “Nah, kalau figur wakil dari Leksula, saya melihat pak Tagop bisa menggandeng Semy Latbual dan Akialus Soulissa. Dua orang ini dari sisi elektoral cukup teruji. Karena dua kali terpilh sebagai anggota DPRD. Kemudian mereka ini adalah kader PDIP,” paparnya.

Disingung soal jumlah pasangan, menurut akademisi Universitas Darussalam Ambon ini, maksimal tiga. Bisa saja Tagop-Semy, Ayub-Zainudin Boy atau Ayub-Hakim Fatsey dan Booy-Fatsey.

Kalaupun Ayub dan Zainudin berpasangan, akan menjadi lawan yang cukup kuat bagi Tagop. “Kalau hanya dua pasangan maka pertarungannya sangat kompetitif. Namun apabila Tagop-Ayub berpasangan lagi, sangat mudah mereka menang,” urainya.

Analis Politik lainnya, Mohamad Ikhsan Tualeka mengatakan, dalam konteks pilkada langsung sejak digulirkan sampai sekarang, incumbent tetap berpeluang. “Saya kira dalam Pilkada Kabupaten Buru Selatan, Tagop sebagai incumbent masih punya peluang yang lebih besar dibanding kandidat lain,” jelas Tualeka.

Menurut Tualeka, calon kepala daerah incumbent punya sejumlah keunggulan. Baik popularitas, networking atau hubungan dengan partai politik, termasuk juga jaringan ke bawah, khususnya Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan birokrat.

“Incumbent punya sejumlah keunggulan komparatif, Tapi bukan tak mungkin terkalahkan. Sebagai incumbent tentu kinerjanya selama menjabat bisa saja jadi sasaran tembak untuk dikritisi dan tentu saja hal itu bisa melemahkan posisi incumbent,” katanya.

Dalam konteks itu menurut Tualeka, yang juga Peneliti pada Indonesia Governance Index (IGI) ini, dalam posisi semacam ini kandidat lain bisa saja muncul dan menjadi alternatif pilihan yang jauh lebih menjanjikan. Apalagi dengan tawaran Program yang lebih realistis dengan strategi kampanye dan pemenangan yang lebih jitu.

“Saya melihat figur seperti Zainudin Booy yang pada pilkada lima tahun lalu menjadi salah satu rival terkuat Tagop di Buru Selatan bisa menjadi batu sandungan, dan kali ini bisa saja mengungguli Tagop,” ungkapnya.

Sebagai putra asli Bursel, bila saja Booy mampu menerapkan strategi yang baik berdasarkan evaluasi atas kinerja tim pemenangannya saat pilkada lalu, punya kans untuk menang. “Selain itu, yang perlu dilihat juga adalah siapa calon wakil bupati yang akan dipasangkan dengan kandidat bupati. Sebab calon wakil kerap punya pengaruh signifikan dalam mendongkrak perolehan suara. Calon wakil bisa menjadi semacam vote getters atau pendulang suara yang potensial,”akunya.

Sementara untuk Ayub, kata Iksan juga punya peluang yang jauh lebih besar. Selain menjabat wakil bupati, tingkat popularitas Ayub cukup terjaga. Apalagi tidak bia dipungkiri penggunaan politik identitas seperti agama dan daerah masih kerap digunakan.

Hal ini kemudian menyebabkan pemilih dengan latar agama mayoritas bisa terpecah pada sejumlah kandidat. Sehingga pemeluk agama tertentu yang semula minoritas namun karena pemilihnya terkonsolidasi dengan baik hanya pada satu kandidat tertentu yang mempresentasikan kelompok mereka, bukan tidak mungkin kandidatnya menang.

“Dalam konteks ini, saya lihat pak Saleky bisa saja diuntungkan dan punya peluang menang. Namun ini semua kembali pada strategi masing-masing kandidat,”tuturnya.

Terlepas dari dinamika dan geliat pilkada, dia berharap pemilih di Bursel nanti dapat menentukan pilihannya dengan baik, memeriksa dengan lebih teliti rekam jejak kandidat, dan jangan mau terpengaruh dengan politik uang.

“Momentum daulat rakyat itu termanifestasikan dalam ajang pemilihan umum atau pilkada, jadi jangan disia-siakan. Pilihan dibilik suara sangat menentukan arah Bursel kedepannya,”kuncinya mantan aktivis anti korupsi ini.(TAB)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!