Muhabeth, Kekuatan Penanggulangan Bencana di Negeri Kilang – Ambon Ekspres
Trending

Muhabeth, Kekuatan Penanggulangan Bencana di Negeri Kilang

Kilang adalah salah satu negeri adat di Pulau Ambon yang sebelah barat berbatasan dengan Negeri Hukurila, timur dengan  Negeri Naku, utara dengan Negeri Soya, sedang selatan dengan Laut Banda.

Oleh:Fuad Mahfud Azuz, Fasilitator Destana

Kilang hanya berjarak 8 kilometer dari pusat Kota Ambon. Namun untuk menempuhnya, membutuhkan ekstra usaha. Bayangkan, hanya ada 4 angkot menuju Kilang. Jalan berliku, di samping kiri-kanan jalan kita “nikmati” pemandangan jurang yang dalamnya bisa lebih 50 meter dengan kemiringan 50 hingga 70 derajat. Sisi jalan juga kita bisa temukan tebing dengan kemiringan dan ketinggian seperti di atas. Di beberapa lokasi jalan, terdapat lubang-lubang kiri kanan jurang. Ada juga tanda-tanda bekas longsoran yang sudah dibersihkan, dan ada yang belum dibenahi. Di satu lokasi yang biasa disebut “batu-batu alus”, lokasi sebelum tiba di Naku dan Kilang, tampak kiri kanan jalan bronjong bertingkat-tingkat sedang dikerja kontraktor karena longsor.

Di Kilang, saya baru melihat aktifitas ekonomi “tifar”. Dengan sedikit canda, Rolina, gadis manis Kilang yang juga anggota forum mengaku, mereka “kuliah tifar” pagi-sore. Artinya, pagi hingga jam 10.00 ke kebun ambil nira (bahan baku sopi), dan nanti jam 16.00 – 18.00 kembali ke kebun untuk hal sama. Hasil akhir adalah “sogun”. Nama keren untuk sopi gunung. Bagi orang Kilang, sogun produksi mereka adalah salah satu sopi terbaik di Ambon. Heheh, saya hanya dengar-dengar saja, karena tidak pernah minum sopi. Jadi tidak bisa membanding: baik, hampir baik atau terbaik.

Sogun juga biasa dihidangkan bagi tamu. Kata Pak Ais Pattiheuwean, Sekdes Kilang, “.. ini penghormatan kami bagi tamu.”  Tapi bagi saya yang tidak minum sopi, saling menghormati juga adalah menghargai saya untuk tidak minum karena ajaran yang saya anut demikian. Jawaban itu ampuh. Sampai selesai kegiatan, tifar, masak sopi dan sogun hanya bagian dari kajian saya.

Hal menarik lain yang saya temukan adalah aktifitas ekonomi dengan tanaman jangka panjang seperti pala, cengkeh, buah-buahan telah membuat alam mereka terjaga. Tidak perlu membuat terasering karena lahan miring. Kebun-kebun mereka mirip hutan bebas. Dari sisi lingkungan, ini sangat membantu. Lingkungan tidak mudah rusak sebagaimana masyarakat yang melakukan pertanian jangka pendek dan harus mengolah tanah, menebang pohon agar matahari langsung menyinari tanaman (semisal kebun sayur, ubi dll).

Saya bersyukur, bisa mengenal Kilang selama kurang lebih enam bulan (Juli – Desember). Karena tahun 2014 mendapat kesempatan ikut membina program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang diprakarsai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Di Maluku, Program Destana memasuki tahun ketiga setelah tahun 2012 dua desa tangguh di Kabupaten Buru,  dan tahun 2013 lalu di Maluku Tengah  – Negeri Allang dan Negeri Lima.  Tahun 2014 ini, kebagian Kota Ambon yakni, Negeri Kilang dan Negeri Nusaniwe.

Konsep yang mendasari penanggulangan bencana adalah bahwa pemerintah ingin membagi peran penanggulangan bencana ke semua unsur di negara ini. Dan untuk Destana, pemerintah memberi peran itu lebih pada masyarakat desa bersangkutan. Rasionalisasinya adalah, bahwa masyarakat desa merupakan masyarakat yang paling rawan terpapar bencana. Mereka tersebar dalam ratusan ribu kelompok, yang tentunya pemerintah tidak akan mampu menangani sendiri bila mana terjadi bencana. Proses pergeseran peran menurut pemerintah bukan karena melepas tanggung jawab, tapi lebih pada memperkuat kelembagaan di tingkat kelompok masyarakat. Hehe.., negara sadar, sering terlambat tiba di lokasi.

Sebuah desa, negeri atau kelurahan yang terpilih mengikuti program Destana, memiliki kriteria dasar; a). terpapar risiko bencana, b). memiliki SDM yang mampu saling bahu-membahu bersama masyarakat menghadapi risiko dan bahkan bencana, c). dan apabila ditimpa bencana mampu dengan segera bangkit dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Ketiga  kriteria saling kait. Sukar membentuk sebuah desa tangguh hanya dengan dua kriteria saja apalagi bila kemudian mengandalkan kedekatan dengan aparat pemerintah untuk mempengaruhi penempatan program Destana. Karena ketiga kriteria akan bermuara pada kearifan dan kecakapan masyarakat desa. Destana lebih pada membangun kapasitas masyarakat. Sehingga benar masyarakat menjadi pertimbangan utama.

Ketika untuk pertama kali saya dan Ibu Eva Tuhumury (pimpro) serta tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, mengunjungi kedua negeri, Kilang dan Nusaniwe, ada kecurigaan saya karena Kilang adalah negeri asal Sekertaris Kota Ambon, yang juga adalah Kepala BPBD Kota Ambon, sementara Nusaniwe, di sana Ibu Eva tinggal. Perasaan itu saya simpan. Sampai ketika bulan Oktober lalu, serius mendampingi 30 orang anggota Forum Destana, baru saya ungkap. Bahwa kecurigaan terpilihnya Kilang karena ada Kepala BPBD, sekarang terjawab. Negeri Kilang memenuhi ketiga kriteria Destana dan dibanding daerah sekitar. Bisa dipertanggungjawabkan.

Pikiran-pikiran miring seperti saya ungkap di atas, adalah sangat wajar. Toh kapasitas saya sebagai fasilitator. Posisi saya adalah mitra BNPB/BPBD. Saya siap memberi catatan kritis atas apa yang saya lihat, saya pikir. Saya akan menilai objektif – plus dan minus – terhadap apa yang saya temukan. Sebagaimana yang saya temukan di Kilang.
MUHABETH UNIT DAN NEGERI

Masih teringat jelas, ketika  Pak Ais memaparkan lembaga muhabeth unit di tiap RT dengan segala aktifitas yang sudah dijalankan. Rupanya ini sebagai lembaga yang mendukung kapasitas masyarakat selama ini. “Katong su punya muhabeth di tiap unit. Nanti kehadiran Destana akan membantu katong membentuk muhabeth tingkat negeri. Jadi katong sangat berterima kasih ada BNPB“. Kalimat tersebut saya rekam baik dalam ingatan. Ingin saya buktikan di kemudian hari.

Dan, selang beberapa waktu kemudian, kami dapati bahwa muhabeth adalah keunikan PRB di negeri-negeri Kristen di Ambon. Walau nanti akan ditemukan beberapa perbedaan penanganan di berbagai negeri, namun intinya, muhabeth adalah lembaga yang mengurusi aktifitas menyangkut yang berduka dalam kelompok/unit tersebut, semisal ada kematian, sakit dll.

Muhabeth (berdasar penuturan, Pak Nus, panggilan akrab Stefanus Latuheru, Ketua Forum PRB Negeri Kilang) tahun 1960-an berada di bawah kendali pemerintah negeri. Fungsi utama adalah untuk memudahkan pengurusan bagi orang yang berduka, terutama kematian. Keluarga yang berduka tidak lagi bersusah payah mengurusi jenazah, kubur, tenda dll. Muhabeth akan mengambil alih kerja-kerja tersebut. Di kemudian hari, muhabeth tidak hanya untuk mengurusi kematian, tapi sudah melebar pada duka secara umum, seperti sakit dll.

Pada kasus bencana longsor tahun 2012 dan 2013, di mana hampir semua lokasi unit muhabeth negeri Kilang mengalami peristiwa longsor, maka masing-masing unit muhabeth bertindak menyelamatkan warganya.

Kesepakatan tidak tertulis juga ada, bila terjadi kejadian seperti longsor, banjir dll, maka muhabeth unit akan menangani sendiri. Namun bila skalanya sudah besar, maka akan meminta bantuan muhabeth unit lain untuk terlibat, sampai dengan membantu  bencana di negeri tetangga. Ini dilakukan secara berjenjang. Laporan ke Pemerintah Kota tentang kejadian longsor misalnya tetap menjadi prioritas, tapi sama sekali mereka telah menghilangkan ketergantungan. Kekuatan internal yang pertama digerakkan.

Saya bahagia, setidaknya selama kegiatan Destana di Kilang, tidak pernah mendapat keluh kesah mereka tentang keterlambatan pemerintah menangani kasus longsor yang pernah terjadi. Mempertanyakan fasilitas yang bisa didapat sebagai anggota relawan PRB juga samasekali tidak saya temukan. Mereka bahkan hingga merelakan sebagian “uang duduk” untuk kas Forum dan beberapa Pembina yang aktif bersama mereka selama kegiatan Destana. Saya lalu sedikit berkesimpulan, a). mungkin, masih mungkin nih…., kesiapan berbagi suka dan duka berawal dari kekerabatan mereka yang  masih terjaga. Komunitas mereka sebagai masyarakat pinggiran yang berada di gunung dan relatif terisolir, juga membantu hal tersebut. b). Kesalehan sosial menjadi perekat dan unsur utama ketangguhan, sebab mereka masih berada dalam unit-unit muhabeth gereja dan pemerintah negeri sebagai payung.

Di sini, saya ingin mengutip tulisan saya di media ini tanggal 3 Desember 2013 dengan judul “Dimana Agama Ketika Bicara Bencana”, bahwa ada tiga pendekatan dalam memahami bencana; pertama, pendekatan ilmu pengetahuan yang menghasilkan penjelasan sebab musabab, proses kejadian hingga akibat bencana, serta mencoba menjelaskan langkah- langkah penanganan bencana mulai dari prabencana, saat bencana hingga pasca bencana. Kedua  pedekatan budaya yang meng hasilkan kearifan lokal. Dan ketiga, dengan pendekatan agama.

Pendekatan ilmu pengetahuan dianggap paling lengkap, karena mampu menjelaskan bencana dari berbagai segi. Setelah ilmu pengetahuan, kita banyak menyaksikan pendekatan bencana melalui budaya. Sedang agama nyaris terabaikan.  Agama kadang diposisikan untuk meligitimasi penjelasan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, agama mendapat legitimasi dari ilmu pengetahuan.

Dua pendekatan awal sudah dikaji dan dikembangkan sedemikian rupa. Sementara kajian peran agama sangat minim. Maka dalam kasus di Negeri Kilang, saya bisa katakan bahwa peran pendekatan ketiga (agama) adalah peran sangat penting dan utama. Bagaimana masyarakat bisa bertahan dan memiliki kekuatan internal dengan berpegang pada muhabeth, yang notabene adalah unit dibawah kuasa gereja?  Bagi Kilang, inilah forum PRB sesungguhnya.
ADAT ?

Lepas dari Kilang, saya masih mencari-cari apakah muhabeth adalah adat orang Maluku. Karena kita tidak temukan di komunitas muslim. Di komunitas Kristen sendiri tingkat keterlibatan muhabeth tidak sama. Ada muhabeth yang benar-benar bekerja aktif. Ada juga yang tidak. Demikian informasi saya dapatkan dari para relawan PRB ini.

Mereka nampaknya ingin menunjukkan bahwa di Negeri Kilang, muhabeth benar-benar menjadi tulang punggung  dan perpanjangan tangan gereja dan pemerintah negeri dalam menangani duka bahkan bencana.

Pada kesempatan berikut ketika meminta kesediaan 30 warga masyarakat untuk menjadi anggota Forum Destana, semua diambil dari masing-masing muhabeth. Termasuk ketika menyusun kepengurusan, keenam muhabeth unit membagi habis kepengurusan. Saya senang, karena lembaga yang sudah ada di Kilang langsung cun dengan kebutuhan Destana. Inilah amanah program destana. Membangun kapasitas masyarakat berdasar kearifan lokal, kebiasaan setempat, kesalehan sosial yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian masyarakat tidak membentuk hal baru padahal mereka sudah miliki kapasitas tersebut sebelumnya dan telah teruji bertahun-tahun.

Bagi saya pelajaran penting dari membangun Destana melalui pengefektifan kelompok dalam masyarakat sangat membantu program itu. Saya jadi ingat, destana itu “mengikat” yang sudah ada. Itu potongan kata yang saya dengar empat tahun lalu, dalam pembekalan kami sebagai fasilitator Destana di Makassar. Kata kunci itu baru saya dapati di Kilang tahun 2014.  Terima kasih semua guru lapangan saya di Kilang. (*)

Most Popular

To Top