Kota Kedua Kebutuhan Mendesak – Ambon Ekspres
Trending

Kota Kedua Kebutuhan Mendesak

AMBON, AE.—Kota orde kedua menjadi kebutuhan mendesak, karena itu penting ditindaklanjuti oleh pemerintahan saat ini dalam bentuk program untuk meminimalisir berbagai masalah sosial yang lebih banyak terjadi di pusat kota, akibat kepadatan penduduk.

Staf pengajar Fisip Unpatti yang sedang menyelesaikan studi doctoral di bidang administrasi publik, Muhammad Jen Latuconsina mengaku, setiap pemerintahan memiliki program pembangunan berbeda, namun bukan berarti perencanaan yang dibuat oleh pemerintahan sebelumnya tidak lagi diteruskan oleh pemerintahan saat ini.

“Bila ada wacana yang dapat menjawab masalah yang dihadapi pemerintahan saat ini, maka wacana itu pantas diwujud nyatakan. Saya kira kita sangat sepakat bahwa itu harus dilakukan untuk mengurangi kepadatan penduduk di pusat kota Ambon, yang pusatnya di kecamatan Sirimau,” kata Latuconsina, Jumat (3/4).

Mestinya, kata Latuconsina, ada distribusi penduduk di kecamatan lain, yakni kecamatan Leitimur Selatan, Teluk Ambon dan Kecamata Baguala. Apalagi di kecamatan Teluk Ambon, dari kawasan Passo sampai di Laha masih kosong. Itu yang mestinya dimanfaatkan untuk mengurangi kepadatan penduduk di pusat kota.

“ Jadi kita harus sepakat bahwa pembangunan kota orde kedua harus tetap dijalankan. Dan mestinya Pemkot Ambon bekerja sama dengan Kabupaten Maluku Tengah dalam hal ini kecamatan Leihitu, Leihitu Barat dan kecamatan Salahutu karena proses pembangunan Kota Ambon kedepan akan bersentuhan dengan dua kecamatan tersebut,” imbuhnya.

Dia memperkirakan kurun waktu lima hingga sepuluh tahun kedepan, kepadatan penduduk di kota Ambon sulit dikendalikan. Dan kondisi itu sangat berpotensi menimbulkan masalah sosial lainnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Ambon saat ini perlu melanjutkan wacana kota orde kedua. Kendati butuh waktu dan dana yang tidak sedikit, namun bila tidak dimulai maka sulit diwujudkan. “Ini harus dilakukan secara kontinyu.

Butuh waktu lama kan. Jadi dananya harus bersumber dari APBD Kota Ambon, Provinsi Maluku, dan dari APBN. Pemkot dan DPRD Kota sudah harus kosentrasi untuk masalah ini,” ujarnya.

Kawasan baru, lanjutnya tidak hanya untuk pemukiman baru, tetapi juga untuk menjadi kawasan baru bagi perkantoran dan sentra ekonomi.

Pengamat ekonomi Universitas Pattimura (Unpatti), Jufri Pattilouw mengemukakan, pendistribusian penduduk ke kawasan baru di Kota Ambon, dengan sendirinya akan membuka sentra ekonomi baru. Pertama kali, memindahkan sebagian penduduk ke kawasan baru yag menjadi lokasi pembangunan kota orde kedua.

Jika yang dimaksud adalah sentra ekonomi di sektor perdagangan, maka jelas perlu dibentuk secara alamiah, tidak bisa dipaksakan karena pasti akan selalu mengikuti jalur aktivitas ekonomi masyarakat.

“ Harus diingat, prinsip ekonomi adalah efesiensi dan optimasi. Oleh karena itu, jika tujuan permintaan adalah mengurai kepadatan penduduk, judulnya bukan menggeser sentra ekonomi, tapi menggeser aktivitas penduduk. Jika aktivitas penduduk telah bergeras, maka otomatis sentra ekonomi akan terbentuk dengan sendirinya,” ungkapnya.

Pada level ini, kata Pattilouw, tugas pemerintah hanya membantu menyiapkan sarana dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk memudahkan proses itu. Bukan sekadar memindahkan sentra ekonomi saja, sementara penduduknya tidak berpindah.

“ Kalau hanya sentra ekonominya saja yang berpindah, maka kepadatan penduduk tidak akan terurai, dan sentra ekonomi yang dibangun, pasti gagal. Bagaimana mungkin kita membangun toko di tengah hutan sementara pembelinya tidak ada di situ? Jadi yang harus dipikirkan, bagaimana agar sebagian penduduk bisa berpindah ke situ. Otomatis sentra ekonomi akan terbentuk di situ,” katanya.

Pattilouw mengatakan, masuknya penduduk baru tidak bisa dihindari. Itu adalah konsekuensi ketika daerah ini ingin maju. Realita menunjukan, bahwa daerah-daerah yang maju hanyalah daerah-daerah yang terbuka, tanpa keterbukaan, kota Ambon tidak akan pernah bisa maju.

Yang rasional, lanjut dia, adalah memperluas kota dengan perencanaan tata ruang yang memungkinkan kota ini bisa berkembang dalam jangka panjang. “Sekali lagi, yang rasional adalah memperluas kota, dan diikuti langkah-langkah untuk menggeser sebagian penduduk ke situ,” terang dia.

Dia menilai, wilayah potensial yang sudah sering diwacanakan seperti kawasan Talaga Kodok hingga Wayame cukup menarik untuk dipertimbangkan sebagai kota orde kedua. Disamping cukup luas dan strategis, juga singron dengan keberadaan jembatan merah putih, sehingga menggeser sebagian penduduk ke situ akan lebih mudah.

“ Salah satu strateginya, misalnya dengan memindahkan kawasan perkantoran ke wilayah tersebut. Efeknya tidak langsung tapi secara alamiah saya yakin sebagian penduduk, berikut aktivitas ekonominya lamban laun akan ikut bergeser ke wilayah itu,” terangnya.

Jika ini direncanakan dengan matang melalui sebuah konsep tata ruang yang baik, persoalan kepadatan, kemacetan dan sebagainya bisa terurai. Dan dalam jangka waktu panjang, kota Ambon mungkin akan semakin nyaman dan indah. (MAN)

Most Popular

To Top