Yeye: Kami Dipukul, Lalu Dibuang – Ambon Ekspres
Trending

Yeye: Kami Dipukul, Lalu Dibuang

TUAL, AE— Isu perbudakan yang dilakukan PT Pusaka Benjina Resources, sudah dibantah oleh Penjabat Bupati Kepulauan Aru, A. Gainau maupun Kapolda Maluku, Brigjen Murad Ismail. Namun apa yang diakui Yeye salah seorang pekerja tidak bisa menampik adanya perlakuan tak manusiawi dari pihak perusahaan.

Yeye, Warga Negara Myanmar yang ikut dalam pemulangan 319 nelayan asing ini, sempat mengutarakan kondisi mereka selama bekerja di Benjina. Dengan bahasa Indonesia seadanya, dia mengaku banyak mendapat perlakuan kasar secara fisik.

‘’Kami dipukul dan dikuliti, kami dibuang,’’ ujar Yeye dengan dialeg Indonesia terputus-putus. Yeye, adalah satu dari sekian banyak WNA yang diduga mengalami perbudakan selama bekerja. Di Benjina juga ditemukan banyak kuburan WNA. Kematian mereka tidak diketahui penyebabnya.

Yeye sendiri sudah cukup lama bekerja di Indonesia. Namun apakah juga lama bekerja di Benjina, dia tidak menjelaskan, karena tidak mengerti apa yang ditanyakan wartawan. Hanya saja dia mengaku, bersama rekan-rekannya, tindak kekerasaan selalu terjadi.

‘’kerja banyak, uang sedikit. Kami sakit, ada rumah suntik (Rumah sakit-red) di Dobo, kami tidak dikasih uang suntik,’’ kisahnya dengan raut wajah sedih.

Gainau sebelumnya membantah tudingan adanya dugaan perbudakan di wilayahnya. ‘’Isu perbudakan tidak ada sama sekali di Kepualauan Aru,’’ tandas Gainau kepada sejumlah wartawan di sela-sela kegiatan Musrebang Provinsi Maluku di pendopo Yarler Tual, belum lama ini.

Dia membantah tegas informasi perbudakan. Kata mantan Sekda Aru itu dugaan perbudakan ini salah ditafsirkan. Pasalnya beberapa waktu lalu sempat beberapa nelayan WNA mabuk-mabukan diatas kapal dan beradu jotos. Untuk menghentikan, mereka pun sering dibawa turun ke ruang isolasi sambil menunggu kembali sadar baru dikembalikan ke Kapal.

‘’Saat itu diantara mereka mabuk jadi perusahaan berikan sanksi dengan mengurung mereka di ruang khusus yang kelihatan seperti ruangan penjara,’’ tuturnya membantah soal penyiksaan.

Disinggung soal mempekerjakan anak dibawah umur, Gainau kembali membantah. isu perbudakan dan mempekerjakan anak dibawah umur tidak pernah terjadi. ‘’Jadi mereka sudah bersepakat dengan pihak perusahaan jika ada yang mabuk-mabukan dan beradu jotos dimasukan ke dalam ruangan khusus sambil menunggu kembali mereka sadarkan diri. Jadi tidak benar perusahaan PBR Benjina melakukan perbudakan,’’ kata penjabat Bupati itu.(SAT)

Most Popular

To Top