Transgender Asal Indonesia Ini Sukses di Hollywood – Ambon Ekspres
Trending

Transgender Asal Indonesia Ini Sukses di Hollywood

SOLENA Chaniago, 37, sempat terpilih sebagai Uda Sumatera Barat pada 1994, akhirnya memutuskan untuk ganti kelamin dan memulai hidup baru.

Laporan Andra Nur Oktaviani, Jakarta

KEPUTUSAN Solena untuk menjadi transgender seutuhnya tidaklah instan. Dia sudah lama merasa ada yang aneh pada dirinya. Bahkan, sejak kecil, Solena yang tumbuh di Banda Aceh punya ketertarikan pada segala hal yang umumnya disukai anak perempuan.

Suatu waktu, dia pernah mengurung diri dalam kamar hanya untuk mencoba gaun cantik milik sang tante. Kala itu, usianya baru 6 tahun. Dia begitu senang melihat dirinya dalam balutan busana manis tersebut. Saking asyiknya, dia sampai tidak tahu bahwa orang tuanya mencari ke sana-kemari.

”Saat itu, aku deg-degan sekali. Ada perasaan takut. Aku pun menahan pintu sekuat tenaga agar mereka tidak masuk kamar,” ungkap Solena saat ditemui di Senayan City, Minggu (5/4).

Seiring bertambahnya usia, naluri keperempuanan Solena semakin menjadi. Kendati begitu, gayanya tetap gagah. Tidak sedikit pun terlihat bahwa dia berbeda dengan laki-laki normal pada umumnya.

Malahan, banyak cewek yang ingin dipacari Solena lantaran tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang tampan. Apalagi dia tergabung dalam tim paskibra (pasukan pengibar bendera) sekolah dan menjadi ketua kelas. Dengan citranya itu, tidak ada seorang pun yang mengejek Solena banci atau sejenisnya.

”Aktingku bagus banget kali, ya?” ucapnya lalu tertawa.
Namun, pada titik tertentu, Solena merasa harus jujur pada diri sendiri dan lingkungan. Dengan segala risiko yang mungkin terjadi, dia memberanikan diri berbicara kepada orang tuanya.

Menurut pengakuan Solena, kala itu orang tuanya menanggapi dengan sangat bijak. Mereka bahkan berhasil menenangkan Solena yang kala itu mulai gelisah. ”Mereka hanya menyuruh aku fokus dulu ke sekolah. Jangan memikirkan yang lain. Itulah yang akhirnya membuat aku bertahan,” ungkapnya.

Lulus SMA di Banda Aceh, Solena pulang kampung untuk menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat. Selama di Padang, dia tinggal bersama kakek dan neneknya, sedangkan orang tuanya tetap di Banda Aceh.

Jauh dari orang tua membuat sisi perempuan Solena semakin berontak. Bahkan, dia kemudian menjalin hubungan terlarang dengan seorang pemuda. Tapi, tidak lama, hubungan itu terendus orang tua Solena. Dia lalu diminta pulang ke Banda Aceh ketika masuk semester VI.

”Ayah dan ibuku saling menyalahkan sampai akhirnya mereka membuat keputusan tegas. Aku dipaksa menikah dengan perempuan,” ujarnya dengan raut wajah sedih sambil mengingat-ingat masa lalunya itu.

Tidak lama setelah kembali ke Banda Aceh, transgender yang tidak bersedia menyebut nama aslinya itu hijrah ke ibu kota. Sementara itu, orang tuanya hijrah ke Serang, Banten. Di Jakarta, Solena sempat bekerja kantoran sebelum akhirnya menikah pada 2003.

Kala itu, usianya baru menginjak 25 tahun. Dari pernikahannya tersebut, Solena dikaruniai seorang anak perempuan yang kini berusia 11 tahun.

Tetapi, terikat dalam tali pernikahan yang tidak pernah diharapkan membuat Solena depresi. Dia kerap bolak-balik keluar masuk UGD karena mengalami panic attack dadakan.

Saat itu, Solena merasa tidak mampu lagi untuk berakting. Dia ingin menyudahi semuanya. Termasuk menyudahi pernikahannya. Dia tidak bisa membohongi sang istri lebih jauh. Istrinya layak mendapat pendamping yang mencintai. Bukan seperti Solena yang hanya berpura-pura.

Keputusan itu membuat ayah Solena kecewa. ”Ayah menangis melihat kondisiku saat itu. Tapi, dia akhirnya mengizinkan aku bercerai,” ungkapnya.

Begitu proses perceraian selesai, dengan sedikit uang yang dimiliki, Solena memberanikan diri terbang ke Amerika Serikat untuk memulai hidup baru sebagai pribadi yang baru. Pribadi Solena yang sebenarnya. Bukan pribadi Solena yang selama ini berusaha dicitrakannya.

Meski berat harus meninggalkan anak yang masih balita, Solena tetap memaksakan diri berangkat ke Amerika. ”Dia masih sangat kecil. Baru berumur beberapa bulan. Aku berat anak, memang. Aku juga tidak pernah menyesal punya anak,” tuturnya.

Untuk bisa membahagiakan anaknya, Solena harus merasa bahagia lebih dahulu. Dia tidak yakin akan memperoleh kebahagiaan tersebut jika tetap berada di Indonesia. Karena itu, dia akhirnya berangkat, meski tanpa seorang pun yang dikenal di Negeri Paman Sam. Dia betul-betul memulai hidup baru dari bawah.

Berbagai profesi pernah dilakoni Solena. Pilihan pertamanya adalah tukang cuci piring. Lantaran tidak ada yang mau menyewakan kamar, Solena terpaksa menggelandang di jalanan. Dia tidur beralas lapak di emperan toko.

Kehidupan yang keras itu tidak membuat Solena patah semangat. Dia malah tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan disiplin. Perlahan tetapi pasti, karirnya mulai merangkak. Dari tukang cuci piring, naik menjadi pelayan alias waitress.

Dari posisi itu, Solena mendapat banyak keberuntungan. Secara tidak sengaja, seorang kru film Hollywood makan di restoran tempat Solena bekerja. Dengan tiba-tiba, kru film itu menawarinya bermain film.

Orang tersebut mengira Solena berasal dari Puerto Rico. Dia memang butuh pemeran perempuan Puerto Rico. Solena kemudian menjelaskan bahwa dirinya adalah orang Indonesia. Tetapi, kru film tersebut keukeuh mengajak Solena bermain film.
”Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku iyakan saja. Logat kan bisa dilatih,” jelasnya.

Akting yang selama ini dijalankan sebagai seorang pria, tampaknya, mendapat saluran dengan bermain film. Solena pun tidak menemui kesulitan berarti. Dengan lancar, dia bisa menyelesaikan proyek film pertamanya yang berjudul Brooklyn’s Finest yang juga dibintangi Richard Gere pada 2010.
Peran kecil itu ternyata menjadi batu loncatan untuk karir Solena selanjutnya. Sebab, dia lantas mendapat banyak tawaran untuk berperan dalam film-film pendek serta film-film dokumenter di Jerman dan Spanyol. Dia juga kembali mendapat tawaran film Hollywood. Kali ini, Solena bermain bersama Katie Holmes dalam film The Extra Man.
Karir yang bagus di dunia akting membuat Solena ketagihan. Dia lalu menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Keseriusannya berkarir di Hollywood membuat Solena berhasil mendapat SAG alias Screen Actors Guild.
Tidaklah mudah mendapatkan ”SIM” membintangi film Hollywood itu. Namun, dewi fortuna sedang berada di dekat Solena. Dia bisa mendapatkannya hanya dengan dua kali membintangi film Hollywood.
Dengan memiliki SAG, seseorang akan punya kesempatan lebih besar untuk membintangi sebuah film Hollywood. ”Line antrean casting-nya pun berbeda dengan yang tidak punya. Istilahnya, kita sudah punya lisensi,” tuturnya.
Di Amerika pula Solena mulai berani mengubah penampilannya. Tidak drastis, memang. Dia mengubahnya sedikit demi sedikit.
Serangkaian operasi plastik juga dilakukan di AS. Mulai mempercantik bagian dahi, hidung, payudara, bahkan ganti kelamin. Dia baru melakukannya dua tahun lalu dan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 miliar.
Seiring dengan berjalannya waktu, Solena mulai berpikir, semakin tua usianya, semakin sulit bersaing dengan para aktor muda. Dia pun merasa harus punya kemampuan lain yang bisa dijadikan pegangan hidup.
Yakni, menjadi master barber. Solena menilai profesi itu begitu menjanjikan. Berbeda dengan hairstylist yang menangani rambut perempuan, master barber secara eksklusif menangani rambut pria. Dan itu masih sangat jarang. Bahkan di Amerika.
Guna memuluskan niat tersebut, Solena rela merogoh pundi-pundi dolar yang mulai bisa dikumpulkannya untuk belajar seluk-beluk rambut. London, Los Angeles, dan New York menjadi saksi kerja keras Solena dalam belajar seluk-beluk barber.
Sekolah-sekolah rambut ternama pun didatanginya. Sebut saja Toni & Guy. Menurut dia, untuk menjadi barber, seseorang harus punya 50 persen skill dan 50 persen personality. Dengan begitu, pelanggan akan nyaman dan keluar wajah puas. Suatu hari, mereka pun akan kembali.
Demi profesionalisme itu juga, Solena tidak menerima panggilan di luar tempat kerja. Semua treatment dilakukan di tempat kerja. Untungnya, klien mau menghargai itu.
Padahal, kebanyakan di antara mereka adalah petinggi perusahaan di AS. Para manajer, direktur, hingga CEO pernah ditangani Solena. Di salon yang sama, mantan Presiden AS Bill Clinton pernah menjadi member.
”Tapi, bukan aku yang handle seperti yang banyak diberitakan. Rekan kerja aku yang handle,” katanya mengklarifikasi berita yang beredar di Indonesia.
Kehidupan Solena semakin terang. Kesuksesan karirnya merembet ke kehidupan asmara. Tahun ini genap tujuh tahun dia berpacaran. Dia semakin bahagia, meski ada saja kerikil yang membuat hubungannya dengan sang pacar hampir goyah.
Status transgender yang disandangnya cukup membuat badai menghampiri hubungan mereka. Seminggu setelah resmi berpacaran, Solena mengaku sebagai transgender. Saat itu juga, sang kekasih meninggalkannya. Solena pun sempat terpukul. Namun, tidak lama, dia kembali tegar.
Kesuksesan yang datang bertubi-tubi tidak membuat Solena gelap mata untuk tidak mau kembali ke kampung halaman. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat ingin kembali ke Indonesia. Itulah yang dilakukannya sekarang.
Beberapa waktu lalu, dia sempat membintangi film Indonesia yang rilis beberapa bulan lagi. Dia juga sedang mengerjakan proyek otobiografi dan bakal berada di Indonesia selama dua bulan.
Berada di Indonesia juga menjadi kesempatan bagi dia untuk bertemu sang bunda serta anak perempuan semata wayangnya. Menurut Solena, salah besar jika orang berpikir dirinya tidak perhatian kepada sang anak.
Sebagai ”ayah”, dia sangat sayang kepada putrinya itu. Meski, sebelumnya dia harus mengaku sebagai tante kepada anaknya itu.
Baru dua tahun lalu Solena mengaku kepada anaknya bahwa dirinya bukanlah adik ayahnya, melainkan ayahnya yang sesungguhnya. Kendati sempat kaget, anaknya akhirnya bisa menerima kenyataan tersebut.
”Dia anak yang cerdas. Hanya dalam waktu sejam, dia bisa mencerna semuanya. Aku sangat menyayanginya,” tandas Solena. (jpnn)

Most Popular

To Top