CERITA RAKYAT – Ambon Ekspres
GMGM

CERITA RAKYAT

BATU BADAONG DAN MALIN KUNDANG

OLEH : Eklepinus J. Sopacuaperu

batu badaong….Batulah batangke….Buka mulutmu….Telangkan beta…Buka mulutmu…Telangkan beta…..

Sungguh syair lagu yang penuh dengan kesedihan yang amat dalam. Penggalan syair lagu tersebut merupakan bagian syair lagu yang dinyanyikan oleh seorang ibu (mama) di dalam sebuah cerita rakyat Maluku yang sangat terkenal, berjudul “batu badaong”.

Cerita ini sengaja penulis pilih untuk dituliskan kembali dan dimasukan ke Panitian Lomba Cerita Rakyat Maluku. Namun, agak terkesan tidak mengulangi cerita yang sudah sering didengarkan oleh khalayak, maka penulis menggunakan metode studi perbandingan (comparative study approach) untuk menguak visi atau pesan moral dari cerita itu dengan melakukan perbandingan cerita rakyat Sumatera yaitu, “Malin Kundang”.

Di dalam suasana international woman’s day pada tanggal 8 Maret yang lalu, cerita ini dituliskan untuk menonjolkan dimensi femenis dari cerita rakyat yang selama ini kurang begitu diperhatikan.

Cerita I: Batu Badaong

Dikisahkan pada zaman dahulu kala, hiduplah keluarga yang amat sederhana. Tepatnya di daerah Tobelo dengan rumah beratap rumbia, keluarga itu melangsungkan kehidupannya. Sang ayah bekerja sebagai Nelayan sementara si ibu adalah wanita yang ulet dan rajin. Sepasang suami-isteri ini dikaruania dua orang anak bernama, o bia moloku dan o bia mokara. Sang ayah menghabiskan waktunya untuk melaut demi menghidupi keluarganya.

Suatu ketika, sang ayah hendak pergi melaut dan si ibu mempersiapkan diri untuk pergi ke kebun. Si ibu (mama) menasihati anak-anaknya untuk tidak memakan terlur ikan, sebab apabila terlur ikan itu dimakan, maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (kecelakaanmusibah). Setelah menasihati si ibu kemudian berangkat menuju ke kebun.

Ketika sang ibu pergi, tak lama kemudian si bungsu o bia mokara menangis dengan hebat dan tak henti-hentinya karena ia Lapar dan meminta makan (telur ikan) dari sang kakak. Karena tak tega melihat adiknya, kakak pun meberi si bungsu telur ikan. Setelah selesai makan, terdapat sisa telur ikan yang menempel di gigi, si bungsu. Selang beberapa waktu, mama pun kembali dari kebun dan membawakan sayuran juga ubi-ubian. Seperti biasa, setelah pulang mama akan menyusui si bungsu.

Di gendongan sang ibu, si bungsu senyum gembira, saat senyum itu sisa telur yang menempel di gigi tampak dan terlihat oleh mama. Suasana sedih, kecewa bercampur dengan kepedihan yang dalam tak dapat terhindarkan lagi. Sang ibu pun berlari menuju pesisir pantai, kedua anaknya juga mengikuti dari belakang sembari memanggil mama, mama, mama. Namun, panggilan dan tangisan anak-anaknya itu tidak dipedulikan sang ibu.

Tibalah sang ibu pada sebuah batu besar di tepi pantai ketika melompat ke dalam air laut, ia pun menyanyikan syair lagu dan memohon agar batu itu dapat terbuka, sehingga sang ibu bisa masuk. Kemudian, batu itu pun terbuka dan sang ibu masuk ke dalamnya. Demi meghindari petaka yang besar, sang ibu mengorbankan dirinya demi kedua putra-putri yang amat dicintai olehnya.

Cerita II: Malin Kundang

Malin adalah seorang anak dari keluarga miskin. Hidup dan dibesarkan oleh sang ibu, si Malin tumbuh menjadi dewasa. Malin pun memutuskan untuk memperbaiki ekonomi keluarganya dengan mencari pekerjaan dan karenanya meninggalkan ibu kandungya. Kehidupan Malin di negeri seberang, sangat berubah dari sebelumnya. Malin berhasil dalam perkerjaannya dan menajadi seorang saudagar yang amat kaya. Ia pun menikah dengan seorang puteri yang sangat cantik.

Suatu saat, Malin memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Mendengar kabar bahwa anak semata wayangnya akan pulang, sang ibu pun bergegas menuju dermaga untuk menanti putra yang sangat dirindukannya. Ketika kapal telah bersandar di pelabuhan, Malin turun dengan isterinya yang centik. Sang ibu begitu terharu melihat anaknya yang telah sukses dan menjadi saudagar kaya.

Ia pun segera menghampiri Malin dan mendekapnya, sembari berkata “anakku Malin, ibu kangen kamu”. Malin mendorong ibunya dan berkata “oh.. maaf saya tidak kenal anda”. Hati sang ibu sangat hancur, ia pun berlutut dan menaikan doa kepada yang Maha Kuasa, “Oh.. Tuhan kalau memang benar ia adalah Malin anakku, biarlah ia menjadi batu”. Setelah itu ia pun pulang ke gubuknya yang sederhana.

Malin menghabiskan waktu berposta pora dengan para sahabat, kemudian menuju kapal untuk kembali ke negeri seberang. Setelah beberpa waktu ia berlayar, tiba-tiba angina dasyat mengahatam dan menghancurkan kapala Malin. Malin pun secara ajaib berubah mnjadi batu, seperti doa ibu kandungnya.Berdasarkan tabel perbandingan di atas, maka dapat dilihat secara jelas perbandingan di antara kedua cerita rakyat.

Dari segi tokoh terdapat kemiripan unsur-unsur tokoh yang dijumpai pada kedua cerita, ada ibu juga anak. Sementara dari segi latar tempat dijumpai pula kemiripan, misalnya di rumah, pantai (di dalam cerita batu badaong, sang ibu dan anak berlari di tepi pantai), dermaga juga merupakan daerah sekitar pesisir pantai (di dalam cerita malin kundang), laut menjadi tempat berlayarnya kapal Malin juga tempat melaut sang ayah pada cerita batu badaong. Kesamaan latar ‘laut’ ini juga jelas pada akhir cerita.

Kedua Cerita, Malin Kundang atau Batu Badaong mengakhiri ceritanya di laut. Ibu menerjunkan dirinya ke laut dan masuk ke dalam sebuah batu, sementara Malin menjadi Batu di tengah laut. Persamaan kedua cerita ini semakin dipertegas pada alur cerita, yang diakhiri dengan close ending.

Kendati memiliki persamaan, kedua cerita ini memiliki perbedaan yang tajam. Apabila dilihat dari segi penokohannya, maka akan tampak jelas perbedaan di antara kedua cerita, yang menurut hemat penulis menjadi ciri khas dari kedua cerita tersebut.

Titik balik (turning point) dari kedua cerita tersebut terletak pada penokohan IBU. Ibu merupakan tokoh yang berperan penting (round character) di awal hingga akhir kisah. Dari peranannya yang mendominasi cerita, maka titik balik (turning point) kedua cerita itu terletak pada penokohan ibu.

Memang pada bagian awal cerita penokohan ibu pada kedua cerita Nampak sama, di cerita batu badaong: ibu amat sedih dan kecewa, ketika melihat sisa telur ikan yang menempel di gigi si bungsu, menandakan ketidakpatuhan anak terhadap nasihat sang ibu. Perasaan yang sama pun dialami oleh ibu Malin, ketika ditolak oleh anaknya dan tidak diakui sebagai putra semata wayang di depan banyak orang.

Tetapi, pada bagian akhir cerita perbedaan penokohan Ibu sangatlah berbeda, dan di sinilah letak perbedaan kedua cerita rakyat tersebut. Pada cerita malin kundang, rasa sakit dan pedih di hati seorang ibu, akibat penyangkalan dan penolakan dirinya sebagai ibu, dibalaskan melalui sumpah atau kutuk kepada si malin, anak yang durhaka. Suasana berbeda terlihat pada cerita batu badaong, di mana sang ibu mengorbankan dirinya demi menghindari petaka kepada kedua anak yang ia cintai.

Nilai pengorbanan seorang ibu, menunjukan peranan dan eksistensi yang membedakan ibu atau mama di Maluku dengan para ibu di tempat lain. Ibu atau mama di Maluku memiliki nilai yang tinggi dan mendapat penghormatan yang dalam. Rasa cinta dan saying ibu/mama di Maluku tidak ada bandingnya. Inilah ibu/mama di Maluku yang begitu cinta dan saying bagi anak-anaknya. Dalam penghayatan yang dalam terhadap international women’s day, tulisan ini dipersembahkan kepada para wanita, yaitu para ibu/mama yang ada di Maluku.

Merekalah perempuan/wanita perkasa, penuh kasih dan lemah lembut. Ratusan bahkan ribuan lagu yang bertemakan mama telah digubah sejak dahulu kala yang termuat dalam lagu-lagu tradisional, hingga masa kini melalui lantunan lagu-lagu pop modern. Mama, aku bangga padamu… mama aku cinta padamu… mama aku akan membahagiakanmu… mama engkaulah pahlawanku.

Sio, mama ee.. beta rindu mau pulang ee..Sio mama ee, mama su lai kurus lawing e..Beta balong balas mama, mama pung cape sio dolo ee Sio, Tete Manis see, jaga beta pung mama ee

Most Popular

To Top