Lutfi Bansir, “Lahirkan” 170 Jenis Nangka dan 40 Macam Durian – Ambon Ekspres
Trending

Lutfi Bansir, “Lahirkan” 170 Jenis Nangka dan 40 Macam Durian

“Penghulu” Buah-buahan yang Sukar Lawan Rasa Penasaran

LUTFI Bansir tidak bisa hidup tanpa buah-buahan. Tapi, dia bukan fruitarian. Pria 44 tahun itu adalah peneliti dan penemu ratusan jenis buah lewat teknik kawin silang. Dia sampai dijuluki “penghulu” buah-buahan.

Lepas salat Asar pertengahan Maret lalu, Lutfi Bansir berjalan cepat masuk ke kebun buahnya di belakang Pasar Induk Bulungan, Kalimantan Utara. Di kebun seluas sekitar 2,7 hektare itu, tiga ekor anjing menyambut. Mereka mengitar kaki sang pemilik kebun dengan manja.

“Ini bapak ada tamu. Ayo masuk sana dulu,” kata Lutfi kepada tiga hewan peliharaannya tersebut.
Anjing-anjing itu pun menurut, bergegas menuju teras rumah kayu di kebun tersebut. Selain anjing penjaga, Lutfi mempekerjakan seorang pegawai khusus yang salah satu tugasnya menjaga ketebalan rumput agar sinar matahari tidak terlalu terik menghunjamkan sinarnya ke tanah. Air segar selalu mengalir di kebun tersebut.

Lutfi biasa menjamu tamu-tamunya di gazebo di bagian depan kebun. Untuk suguhan, dia tinggal memetik buah-buahan kawin silang hasil eksperimennya. Misalnya, ketika menjamu Jawa Pos (induk JPNN.com), dia menyuguhkan kelapa rasa pandan dan persilangan nangka dengan cempedak. Rasanya supermanis. Teksturnya lembut.

Doktor pertanian lulusan Universitas Brawijaya Malang itu menyatakan, sudah tidak terhitung berapa kali dirinya melakukan eksperimentasi terhadap buah-buahan. Baik secara generatif (kawin) maupun vegetatif (tanpa kawin). Meski banyak yang gagal, sejumlah percobaannya melahirkan varietas baru. Di antaranya, 14 jenis semangka tanpa biji, 170 jenis nangka, 30 macam jambu, dan 40 jenis durian.

Pria kelahiran 12 Juli 1969 itu secara khusus pernah meneliti karakteristik morfologi durian merah di Banyuwangi. Tapi, sampai saat ini belum diperoleh jawaban finalnya, mengapa durian Banyuwangi bisa berwarna merah total. Rasanya pun legit.
Lutfi menduga, salah satu penyebab durian Banyuwangi berwarna merah adalah pengaruh faktor tipologi geografi. Air laut membawa sulfur dan udara Gunung Ijen membawa belerang sehingga pohon durian bisa tumbuh begitu bagus.

Selain durian merah, di kota berjuluk Sunrise of Java itu ditemukan pohon durian yang diperkirakan berusia sekitar 400 tahun dan 90 tahun. Konon, pohon durian langka tersebut merupakan hadiah raja di Kalimantan untuk raja di Bumi Blambangan –nama lain Banyuwangi– pada masa silam. ”Sampai sekarang, saya masih penasaran pada legenda itu.”

Perhatian dan kepakaran Lutfi terhadap durian mengangkat namanya di dalam dan luar negeri. Dia sering diminta menjadi juri lomba, kontes, maupun festival durian. Tidak hanya di dalam negeri, namun juga sampai Malaysia dan Thailand. Para petani durian pun kerap memanfaatkan keahliannya untuk berkonsultasi.

Tidak heran bila Lutfi hafal durian apa saja yang berkualitas bagus dan bagaimana mengembangbiakkannya secara tepat. Di Malaysia, misalnya, terdapat dua jenis durian yang terkenal karena enaknya, yakni musang king dan ochee. Di Thailand, ada empat jenis durian yang rasanya mantap. Yaitu, kanyau, kradum thong, chanee, dan tentu saja monthong yang banyak dijual di supermarket-supermarket Indonesia.

Lutfi berobsesi kelak Indonesia punya jenis durian hasil kawin silang yang mengalahkan durian negara lain, termasuk durian Thailand. Keunggulan itu bisa diukur dari bentuk buah, daun, kadar gula, tebal dan warna daging, serta rasanya.

Juga, dari volume buahnya, bukan biji atau kulitnya. Tapi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, durian varian itu perlu ”penghulu” yang andal. Lutfi termasuk ”penghulu” yang tangan dinginnya telah menghasilkan buah-buah varian baru.

Tak heran bila pengusaha durian asal Malaysia mengincar ide Lutfi dan menawarinya untuk mewujudkan obsesinya tersebut. Misalnya, dia diminta menciptakan turunan durian monthong yang berwarna merah dengan rasa yang benar-benar nomor satu di dunia.

Namun, Lutfi menolak tawaran si pengusaha tersebut. Dia ingin mengembangkan buah durian unggulan itu di negeri sendiri. Indonesia harus memiliki durian atau buah lain yang mempunyai keunggulan agar mengalahkan buah impor. Apalagi, pangsa pasar durian sangat besar. Setiap tahun lebih dari 24 ribu ton durian.

”Bayangkan kalau kita punya durian yang bisa berbuah sepanjang tahun, tidak bergantung musim,” ungkapnya.
Apakah itu bisa terwujud? ”Tidak ada yang tidak mungkin. Saya akan mencari caranya sampai ketemu,” ucapnya.
Lutfi memang tidak pernah bisa diam melawan rasa penasaran. Dia sudah menghabiskan 17 tahun (mulai 1998) hanya untuk meneliti berbagai buah hasil kawin silang.
Bersama seorang petani di Kabupaten Bulungan, Lutfi juga pernah mengukir prestasi. Yakni, membawa jambu madu hijau (zighu dalam bahasa Bulungan) menjadi juara nasional pada 2003. Jambu zighu punya banyak keunggulan.
”Jambu ini bisa tahan sampai sepuluh hari tidak busuk. Pohonnya juga tahan hama,” papar alumnus Sekolah Teknologi Pertanian Jember tersebut. Jambu air biasa hanya bisa tahan beberapa hari dan membusuk.
Berkat prestasi itu, Lutfi mendapat kesempatan untuk studi buah-buahan ke Thailand pada 2004 dan Jepang. Dia belum puas dengan hasil kawin silang jambu hingga 30 kultivar. Bahkan, rasa penasarannya terus membesar.
Selain jambu dan durian, Lutfi mengawinsilangkan beragam turunan semangka tanpa biji. Bahkan, pada 1998 dia mampu ”melahirkan” semangka dalam berbagai bentuk. Awalnya dia menemukan sebuah semangka terjepit di pohon. Bentuknya kotak tidak beraturan.
Dari situ, Lutfi yakin semangka bisa dibentuk apa saja asal masih dalam batas pertumbuhannya. Cetakan pun lalu dibuat dengan beragam bahan. Mulai kaca, plastik, hingga fiber setebal 3 mm dan 8 mm. Sampai akhirnya, dia memperoleh plastik dengan ketebalan ideal 1 sentimeter.
”Nah, ini yang cocok. Tidak gampang pecah,” tuturnya.
Hanya, untuk itu, dia butuh biaya agak banyak. Dibantu Pemkab Bulungan, dia memesan fiber yang dia inginkan itu dari Tiongkok.
”Jadi, saya pesan langsung dari seorang teman di sana seharga Rp 57 juta,” kata dekan Fakultas Pertanian Universitas Kalimantan Utara (Kaltara) itu.
Hasilnya, kini di kebunnya tumbuh pohon semangka berbentuk kotak hingga berbentuk lambang cinta (love). Semangka jenis yang satu itu cocok untuk perayaan Valentine’sDay. Waktu itu, di antara 50 semangka cetak, yang betul-betul sempurna hanya 10 jenis, baik dari sisi bentuk simetrisnya maupun kepadatan isinya. Dia yakin semangka itu mampu menyaingi semangka kotak asal Jepang.
Masalahnya menyangkut harga jual. Dengan waktu tanam hingga panen kurang lebih 60 hari, apakah harganya cukup ekonomis di Indonesia? Sebab, di Jepang, orang mau membeli semangka dengan harga sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per buah.
”Di sini, kita mau jual berapa,” tambahnya.
Sampai sekarang Lutfi masih giat membimbing mahasiswanya di Universitas Kaltara untuk meneliti buah-buahan secara gratis. Gaji dari jabatan dekanlah yang dia relakan.
”Saya cuma butuh untuk memuaskan batin dan rasa penasaran saya. Cukup ke mana-mana naik motor,” tutur salah seorang kepala bidang di Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan itu, lantas tertawa. (jpnn)

Lepas salat Asar pertengahan Maret
lalu, Lutfi Bansir berjalan cepat
masuk ke kebun buahnya di belakang Pasar Induk Bulungan, Kalimantan Utara. Di kebun seluas sekitar 2,7 hektare itu, tiga ekor anjing menyambut. Mereka mengitar kaki sang pemilik kebun dengan manja.
“Ini bapak ada tamu. Ayo masuk sana dulu,” kata Lutfi kepada tiga hewan peliharaannya tersebut.
Anjing-anjing itu pun menurut, bergegas menuju teras rumah kayu di kebun tersebut. Selain anjing penjaga, Lutfi mempekerjakan seorang pegawai khusus yang salah satu tugasnya menjaga ketebalan rumput agar sinar matahari tidak terlalu terik menghunjamkan sinarnya ke tanah. Air segar selalu mengalir di kebun tersebut.
Lutfi biasa menjamu tamu-tamunya di gazebo di bagian depan kebun. Untuk suguhan, dia tinggal memetik buah-buahan kawin silang hasil eksperimennya. Misalnya, ketika menjamu Jawa Pos (induk JPNN.com), dia menyuguhkan kelapa rasa pandan dan persilangan nangka dengan cempedak. Rasanya supermanis. Teksturnya lembut.
Doktor pertanian lulusan Universitas Brawijaya Malang itu menyatakan, sudah tidak terhitung berapa kali dirinya melakukan eksperimentasi terhadap buah-buahan. Baik secara generatif (kawin) maupun vegetatif (tanpa kawin). Meski banyak yang gagal, sejumlah percobaannya melahirkan varietas baru. Di antaranya, 14 jenis semangka tanpa biji, 170 jenis nangka, 30 macam jambu, dan 40 jenis durian.
Pria kelahiran 12 Juli 1969 itu secara khusus pernah meneliti karakteristik morfologi durian merah di Banyuwangi. Tapi, sampai saat ini belum diperoleh jawaban finalnya, mengapa durian Banyuwangi bisa berwarna merah total. Rasanya pun legit.
Lutfi menduga, salah satu penyebab durian Banyuwangi berwarna merah adalah pengaruh faktor tipologi geografi. Air laut membawa sulfur dan udara Gunung Ijen membawa belerang sehingga pohon durian bisa tumbuh begitu bagus.
Selain durian merah, di kota berjuluk Sunrise of Java itu ditemukan pohon durian yang diperkirakan berusia sekitar 400 tahun dan 90 tahun. Konon, pohon durian langka tersebut merupakan hadiah raja di Kalimantan untuk raja di Bumi Blambangan –nama lain Banyuwangi– pada masa silam. ”Sampai sekarang, saya masih penasaran pada legenda itu.”
Perhatian dan kepakaran Lutfi terhadap durian mengangkat namanya di dalam dan luar negeri. Dia sering diminta menjadi juri lomba, kontes, maupun festival durian. Tidak hanya di dalam negeri, namun juga sampai Malaysia dan Thailand. Para petani durian pun kerap memanfaatkan keahliannya untuk berkonsultasi.
Tidak heran bila Lutfi hafal durian apa saja yang berkualitas bagus dan bagaimana mengembangbiakkannya secara tepat. Di Malaysia, misalnya, terdapat dua jenis durian yang terkenal karena enaknya, yakni musang king dan ochee. Di Thailand, ada empat jenis durian yang rasanya mantap. Yaitu, kanyau, kradum thong, chanee, dan tentu saja monthong yang banyak dijual di supermarket-supermarket Indonesia.
Lutfi berobsesi kelak Indonesia punya jenis durian hasil kawin silang yang mengalahkan durian negara lain, termasuk durian Thailand. Keunggulan itu bisa diukur dari bentuk buah, daun, kadar gula, tebal dan warna daging, serta rasanya.
Juga, dari volume buahnya, bukan biji atau kulitnya. Tapi, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, durian varian itu perlu ”penghulu” yang andal. Lutfi termasuk ”penghulu” yang tangan dinginnya telah menghasilkan buah-buah varian baru.
Tak heran bila pengusaha durian asal Malaysia mengincar ide Lutfi dan menawarinya untuk mewujudkan obsesinya tersebut. Misalnya, dia diminta menciptakan turunan durian monthong yang berwarna merah dengan rasa yang benar-benar nomor satu di dunia.
Namun, Lutfi menolak tawaran si pengusaha tersebut. Dia ingin mengembangkan buah durian unggulan itu di negeri sendiri. Indonesia harus memiliki durian atau buah lain yang mempunyai keunggulan agar mengalahkan buah impor. Apalagi, pangsa pasar durian sangat besar. Setiap tahun lebih dari 24 ribu ton durian.
”Bayangkan kalau kita punya durian yang bisa berbuah sepanjang tahun, tidak bergantung musim,” ungkapnya.
Apakah itu bisa terwujud? ”Tidak ada yang tidak mungkin. Saya akan mencari caranya sampai ketemu,” ucapnya.
Lutfi memang tidak pernah bisa diam melawan rasa penasaran. Dia sudah menghabiskan 17 tahun (mulai 1998) hanya untuk meneliti berbagai buah hasil kawin silang.
Bersama seorang petani di Kabupaten Bulungan, Lutfi juga pernah mengukir prestasi. Yakni, membawa jambu madu hijau (zighu dalam bahasa Bulungan) menjadi juara nasional pada 2003. Jambu zighu punya banyak keunggulan.
”Jambu ini bisa tahan sampai sepuluh hari tidak busuk. Pohonnya juga tahan hama,” papar alumnus Sekolah Teknologi Pertanian Jember tersebut. Jambu air biasa hanya bisa tahan beberapa hari dan membusuk.
Berkat prestasi itu, Lutfi mendapat kesempatan untuk studi buah-buahan ke Thailand pada 2004 dan Jepang. Dia belum puas dengan hasil kawin silang jambu hingga 30 kultivar. Bahkan, rasa penasarannya terus membesar.
Selain jambu dan durian, Lutfi mengawinsilangkan beragam turunan semangka tanpa biji. Bahkan, pada 1998 dia mampu ”melahirkan” semangka dalam berbagai bentuk. Awalnya dia menemukan sebuah semangka terjepit di pohon. Bentuknya kotak tidak beraturan.
Dari situ, Lutfi yakin semangka bisa dibentuk apa saja asal masih dalam batas pertumbuhannya. Cetakan pun lalu dibuat dengan beragam bahan. Mulai kaca, plastik, hingga fiber setebal 3 mm dan 8 mm. Sampai akhirnya, dia memperoleh plastik dengan ketebalan ideal 1 sentimeter.
”Nah, ini yang cocok. Tidak gampang pecah,” tuturnya.
Hanya, untuk itu, dia butuh biaya agak banyak. Dibantu Pemkab Bulungan, dia memesan fiber yang dia inginkan itu dari Tiongkok.
”Jadi, saya pesan langsung dari seorang teman di sana seharga Rp 57 juta,” kata dekan Fakultas Pertanian Universitas Kalimantan Utara (Kaltara) itu.
Hasilnya, kini di kebunnya tumbuh pohon semangka berbentuk kotak hingga berbentuk lambang cinta (love). Semangka jenis yang satu itu cocok untuk perayaan Valentine’sDay. Waktu itu, di antara 50 semangka cetak, yang betul-betul sempurna hanya 10 jenis, baik dari sisi bentuk simetrisnya maupun kepadatan isinya. Dia yakin semangka itu mampu menyaingi semangka kotak asal Jepang.
Masalahnya menyangkut harga jual. Dengan waktu tanam hingga panen kurang lebih 60 hari, apakah harganya cukup ekonomis di Indonesia? Sebab, di Jepang, orang mau membeli semangka dengan harga sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per buah.
”Di sini, kita mau jual berapa,” tambahnya.
Sampai sekarang Lutfi masih giat membimbing mahasiswanya di Universitas Kaltara untuk meneliti buah-buahan secara gratis. Gaji dari jabatan dekanlah yang dia relakan.
”Saya cuma butuh untuk memuaskan batin dan rasa penasaran saya. Cukup ke mana-mana naik motor,” tutur salah seorang kepala bidang di Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan itu, lantas tertawa. (jpnn)

Most Popular

To Top