Mantulameten “Ditusuk” dari Belakang – Ambon Ekspres
Trending

Mantulameten “Ditusuk” dari Belakang

AMBON,AE— Saling sikut di internal partai Golkar Maluku kubu Agung Laksono mulai muncul. Setelah didepak dari jabatannya sebagai Pelaksana Tugas DPD Golkar Maluku, kini Paulus Mantulemen kembali dihadang untuk posisi ketua harian.

PP Golkar telah menganulir Surat Keputusan pengangkatkan Plt Mantulameten. Keputusan baru pun dikeluarkan. DPP menunjuk Hamzah Sangadji menjadi Plt menggantikan. Namun, Mantulameten masih dipercayakan masuk kepengurusan Golkar sebagai ketua harian.

Saat dikonfirmasi soal upaya penggulingan dari ketua harian, Mantulameten mengaku, siap mundur jika masih tetap dipermasalahkan. Kata dia, jabatan yang diberikan hanyalah amanah untuk memperbaiki partai berlambang pohon beringin ini kedepan.

“Kalau bermasalah saya mundur. Saya bukan orang ARB (Aburizal Bakrie-red). Saya tidak meminta jabatan, tapi mereka (DPP) yang memberikan ke saya. Kalau mereka mau ambil, silakan. Saya tidak keberatan. Karena saya terlibat di Ancol bukan karena jabatan. Apalagi jabatan ini. Tapi karena idealisme di Golkar. Saya bukan orang ambisius jabatan. Tapi enjoy saja dan tidak mau berkelahi dengan jabatan,” kata Mantulameten kepada Ambon Ekspres, Minggu (12/4).

Dia mengaku, kasus narkoba yang pernah melilitnya 2007 tidak perlu dipersoalkan oleh kader-kader Golkar yang menginginkan jabatan plt maupun ketua harian di Golkar. Meski dari persyaratan prestasi, dedikasi, loyalitas dan tak tercelah (PDLT) menjadi aturan dasar penentuan pengurus.

“Sekarang baru jelekan saya di DPP bahwa pemakai narkoba. Saya memang pemakai narkoba dan pernah di hukum 9 bulan penjara, 8 tahun lalu dan sekarang sudah tidak lagi. Apakah keluarga DO dan JO ada mengalami kerugian akibat saya pakai narkoba 8 tahun lalu? Kok sekarang karena jabatan bodoh ini mereka usil saya di DPP Golkar dengan kasus tersebut,” ungkap dia.

Kalaupun mereka mau, lanjut dia, jalan untuk merebut jabatan di Golkar harus dilakukan dengan elegan, tanpa mengusil masa lalu orang lain. Apalagi menusuk dari belakang dan menyampaikannya di DPP Golkar.

“Silakan ambil, tapi dengan cara yang sopan dan organisatoris. Bukan dengan menjelekan kekurangan teman dihadapan pimpinan di Jakarta, seperti yang dilakukan beberapa kader Golkar yang berinisial DO dan JO yang masih seruduk di DPP Golkar hanya untuk jabatan bodoh ini,” ungkap dia.

Dia juga mempertanyakan eksistensi kader berinisial DO dan JO saat Golkar masih berkonflik dan memilih diam. Mantulameten juga menegaskan, akan melawan siapapun kader menginginkan jabatan dengan cara yang tidak beretika.

“Waktu saya di kasih jabatan ini (plt-red), mereka dimana? Mereka masih bersembunyi dan takut di cap orang Agung. Sekarang setelah keputusan Mahkamah Partai dan Menkum dan HAM baru keluar tepuk dada bahwa saya orang Agung lalu mulai seruduk sana dan sini kejar jabatan. Kalau ada yang ambil jabatan ini dengan cara menusuk dan mempermalukan saya, maka akan saya lawan hingga titik darah penghabisan,” tegas mantan anggota DPRD Maluku ini.

Sementara itu,  Ketua DPP Golkar Leo Nababan saat dikonfirmasi via seluler, mengaku, baru mengetahui hal tersebut. Olehnya Nababan belum memastikan apakah jabatan ketua harian yang diberikan kepada Mantulameten akan di kaji ulang atau tidak.

“Saya baru dengar ini. Sebelumnya saya tidak tahu. Kalau ketemu pak Hamzah Sangadji saya bisa tanya. Atau saya tanya juga sama pak Darma Oratmangun bahwa kenapa bisa sampai gitu,”katanya.

Meski begitu, Nababan menyatakan, dalam perekrutan dan penempatan jabatan struktural Golkar, PDLT menjadi persyaratan yang mesti dipenuhi. Mekanismenya jika ada calon pengurus atau sudah menjadi pengurus tidak penuhi persyaratan tersebut, harus disampaikan secara tertulis ke ketua umum dan sekjen Golkar.

“Kurang lebih riwayat prestasi, dedikasi, loyalitas dan tak tercelah (PDLT) harus diberikan laporan secara tertulis kepada ketua umum dan sekjen agar ditinjau. Karena ketua umum dan sekjen selalu menyampaikan kepada kita bahwa syarat-syarat PDLT itu diutamakan, bukan perkoncohan (hubungan pertemanan) dalam pengangkatan kepengurusan Golkar. Sebab syarat itu memang sudah dari dulu dan baku di partai Golkar,”kuncinya.(TAB)

Most Popular

To Top