Pekan Ini Jaksa Periksa Rumatoras – Ambon Ekspres
Lintas Pulau

Pekan Ini Jaksa Periksa Rumatoras

Terkait Kasus Kredit Macet Bank Maluku

AMBON, AE— Pekan ini, penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku berencana memanggil Direktur PT Nusa Ina Pratama, Yusuf Rumatoras untuk diperiksa sebagai tersangka terkait kasus dugaan korupsi kredit macet di Bank Maluku.

Rumatorasan    telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kredit macet pada Bank Maluku.
Tersangka Rumatoras merupakan target tambahan. Ini setelah 2014 lalu jaksa telah membidik Matheos Matitaputty, Erick Matutaputty dan Markus Panggohoy. Demikian disampaikan Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Bobby Palapia kepada Ambon Ekspres, akhir pekan lalu.

Dikatakan, pemeriksaan terhadap Rumatoras ini merupakan yang pertama kali setelah ditetapkan sebagai tersangka. “Pekan ini akan kita panggil untuk diperiksa sebagai tersangka,“ kata Palapia.

Sebagaimana diketahui,  kasus ini bermula  sejak  tahun 2007 lalu. Saat itu, Bank Maluku memberikan kredit kepada PT Nusa Ina Pratama sebesar Rp 4 miliar. Sebelum selesai jatuh tempo, pihak bank kembali mencairkan kredit ke perusahaan itu lagi. Tahun 2009, bank kembali menyalurkan kredit ke Nusa Ina Pratama, padahal tenggat waktu jatuh tempo belum berakhir.

Jumlah kredit yang dipinjamkan pihak Bank Maluku kepada Nusa Ina Pratama sebanyak Rp 12 miliar. Namun pihak perusahaan baru mampu membayar utang kredit tersebut sebesar Rp 2 miliar.  Jadi ada Rp 10 miliar yang belum dibayarkan pihak perusahaan kepada PT Bank Maluku. Karena PT Nusa Ina pratama hingga kini belum melunasi hutang tersebut, jadilah kredit macet  di Bank Maluku. Akibatnya, dana tabungan masyarakat yang di tabung di bank hilang.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Maluku juga menemukan adanya indikasi pencairan dana kredit yang tidak sesuai dengan aturan dari mekanisme perbankan. Menurut temuan BPK, jumlah kredit yang bermasalah di Bank Maluku mencapai Rp 31 miliar lebih.  Angka ini tidak termasuk kredit macet yang jika dikalkulasikan mencapai Rp 96 miliar. (AFI)

Most Popular

To Top