Konflik Golkar-PPP, Untungkan PDIP – Ambon Ekspres
Trending

Konflik Golkar-PPP, Untungkan PDIP

AMBON, AE— Keinginan Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan untuk ikut dalam Pilkada serentak hanya untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Sementara itu, perpecahan pada level akar rumput kedua partai ini akan tergerus jika terus  berkonflik.

Pengamat politik Universitas Pattimura Ambon Jen Latuconsina menilai, esensi partai politik adalah memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Olehnya itu, baik PPP maun Golkar tentu punya keinginan dibalik upaya untuk mengikuti Pilkada.

“Tentu didasari oleh keinginan Golkar dan PPP untuk mengikuti Pilkada serentak, sehingga bisa meraih jabatan pemerintahan. Hal ini sebagaimana esensi kehadiran partai untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan,”ujar Latuconsina kepada Ambon Ekspres via seluler, Selasa (5/5).

Dengan ikutserta dalam Pilkada, baik Golkar maupun PPP akan menduduki jabatan pemerintahan. Dengan begitu kata dia, Golkar dan PPP bisa berbuat untuk kesejahtaraan rakyat.

“Jangan dilihat dari sisi negatifnya, tapi partai itu ada dalam suatu sistem politik demokratis yakni untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Pasalnya partai itu menjembatani kepentingan rakyat dan negara. Partai dapat merealisasikan perannya tatkala menduduki jabatan pemerintahan,” paparnya.

Dia melanjutkan, akan terjadi perpecahan, jika kedua partai ini masih terus berkonflik. Terutama di akar tumput, baik dalam lingkup struktur partai maupun pendukung, akan berkiblat ke elit partai yang menang dalam konflik Golkar dan PPP.

“Iya yang jelas pecah. Karena basis akar rumput itu selalu tersubordinat mengikuti para elitnya yang menduduki jabatan di Golkar maupun PPP,” katanya.

Disisi lain, untuk mendapatkan kekuasaan lanjut dia, kedua kubu masing-masing di Golkar dan PPP akan berpikir kearah rekonsiliasi. Ini untuk menguatkan dalam perannya memenangkan calon yang diusung. “Yang namanya politik itu kan seni dalam melakukan kompromi. Tentu kubu Golkar dan PPP yang berkonflik sudah berpikir kearah rekonsiliasi dengan yang menang mengakomodir yang kalah. Diakomodir yang kalah dalam rangka menyatukan sekaligus menkonsolidasi partai agar tetap solid,”ketusnya.

Pengamat politik Unpatti lainnya, Mochtar Nepa-Nepa menilai, keinginan Golkar dan PPP dalam Pilkada menjadi salah satu solusi untuk menguatkan konsolidasi internal. Jika tidak, massa dari kedua partai ini akan berpindah ke partai lain dalam jumlah yang signifikan.

“Saya kira partai yang telah mengakar di masyarakat, baik Golkar maupun PPP tidak ingin partainya tidak ikut Pilkada. Sebab jika tak ikut Pilkada maka bisa jadi PDIP akan menguasai kepemimpinan di daerah. Bahkan implikasi buruknya, bisa jadi pemilih kedua partai ini akan lari ke PDIP atau Gerindra,” papar Mochtar.

Sebab lanjutnya, ambang keroposnya Golkar dan PPP yang termasuk tertua dalam sistem demokrasi dan kepartaian Indonesia ini sudah di depan mata. Bahkan jika  tidak ikut Pilkada, maka dapat dipastikan Golkar dan PPP akan menjadi partai gurem.

“Maka langkah alternatif bagi kedua partai ini adalah selain melakukan islah, juga Munas dan Muktamar Luar Biasa. Karena jika tidak, bisa jadi menguntungkan lainnya, terutama PDIP sebagai pesaing utamanya,”katanya.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini Partai Golkar kunu Agung Laksono dan kubu Abrizal Bakrie masih berseng keta. Kedua kubu ini sama-sama berjuang di pengadilan untuk mendapatkan legalitas.

Masalah yang sama juga dialami PPP kubu Djan Faridz dan Romhahurmuziy. Dampaknya, belum ada kepastian hukum terhadap kubu mana yang berhak mengikuti Pilkada serentak. Sementara, pelaksanaan Pilkada serentak dimulai Juli mendatang. (TAB)

Most Popular

To Top