Beda Manfaat Olahraga Aerobik Bagi Otak Anak-anak dan Lansia – Ambon Ekspres
Kesehatan

Beda Manfaat Olahraga Aerobik Bagi Otak Anak-anak dan Lansia

Olahraga aerobik seperti senam, lari dan jalan cepat terbukti memiliki manfaat bagi fungsi ?kognitif otak. Pakar mengatakan manfaat yang diterima otak ini berbeda-beda sesuai dengan kelompok umur.

Dr dr Muhammad Irfannuddin, SpKO, MpdKed, MBioMed mengatakan bahwa olahraga aerobik menjaga neuron di bagian hippokampus dan korteks frontal otak yang berhubungan dengan memori atau ingatan. Pada anak-anak, olahraga aerobik membantu mempercepat pertumbuhan neuron tersebut.

“Istilah mens sana in corpore sano itu sangat tepat. Olahraga aerobik membantu memacu perkembangan neuron di bagian otak yang berhubungan dengan memori lebih baik daripada hanya menghapal atau ?belajar. Dengan memperbanyak aspek psikomotorik, maka fungsi kognitif anak akan berkembang lebih baik,” tutur dr Irfan, ditemui usai sidang promosi doktor di Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia, Jl Salemba Raya, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2015).

Stimulasi psikomotorik akan lebih baik jika digabungkan dengan stimulasi kognitif. dr Irfan mencontohkan bahwa pada anak-anak, gerakan senam aerobik yang digabungkan dengan gerakan imajinatif lebih mampu merangsang pertumbuhan otak.

“Misalnya senam denga meniru gerakan binatang atau senam dengan gerakan ibadah. Kan akan merangsang imajinasi anak, di situ pertumbuhan fungsi kognitifnya akan lebih baik,” urai dokter yang mengabdi di FK Universitas Sriwijaya Palembang tersebut.

Sementara pada lansia, gerakan olahraga aerobik lebih berfungsi untuk penjagaan. Dalam artian, fungsi kognitif yang menurun seiring bertambahnya usia bisa dicegah jika melakukan olahraga aerobik rutin.
Jalan kaki cepat atau jogging 30 menit sehari merupakan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang yang cocok untuk lansia. Olahraga aerobik menurutnya, membantu sirkulasi peredaran darah sekaligus memicu perbaikan dan daya tahan sel.

“Semakin rumit olahraganya, semakin baik hasilnya. Kalau olahraga ringan misal jalan kaki cepat seperti itu. Kalau mau lebih rumit lagi bisa permainan, bulutangkis atau basket kan juga membutuhkan proses berpikir. Cuma ya dikira-kira lansia mampu melakukan olahraganya apa,” tuturnya lagi.

Hanya saja, hasilnya akan berbeda jika lansia sudah mengalami penyakit yang merusak sistem saraf. Pasien stroke misalnya, akan menerima manfaat yang lebih kecil karena kerusakan sarafnya sudah terjadi di banyak tempat.
Karena itu ia menyarankan agar olahraga aerobik dilakukan sejak masih muda dan tubuh masih bugar. “Ya dari usia 30 atau 40 tahunan lah. Supaya nanti ketika semakin tua masih berfungsi kognitifnya,” tuturnya.(mrs/vit)

Most Popular

To Top